Thursday, November 9, 2017

The Jose Flash Review
Ittefaq
[इत्तेफाक]

Sinema Hindi memang masih tergolong jarang menghadirkan genre thriller dibandingkan drama romantis atau komedi yang mendominasi. Namun sekalinya ada tak main-main. Ittefaq adalah salah satu thriller Hindi besutan sineas legendaris Yash Chopra tahun 1969 silam yang dibintangi oleh Rajesh Khanna dan Nanda. Merupakan remake dari Signpost to Murder (1964), butuh waktu 48 tahun bagi Ittefaq untuk kembali di-remake. Adalah Abhay Chopra (cucu dari B.R. Chopra yang merupakan partner bisnis sekaligus adik kandung dari Yash Chopra) yang didukung oleh seantero keluarga Chopra, Shah Rukh Khan, Karan Johar, Gauri Khan, dan Hiroo Yash Johar yang ditunjuk untuk menjadikan remake ini sebagai karya debut penyutradaraannya. Jajaran cast yang dipilih pun sangat menjanjikan. Ada Sidharth Malhotra (Student of the Year, A Gentleman), Sonakshi Sinha (Dabangg, Rowdy Rathore, Force 2, Noor), dan Akshaye Khanna (Salaam-E-Ishq, Race, Dishoom, Mom). 

Inspektur Dev sedang dibikin pusing oleh kasus pembunuhan ganda yang sama-sama dituduhkan kepada seorang penulis novel terkenal, Vikram Sethi. Yang pertama adalah pembunuhan Katherine, istri Vikram sendiri, sedangkan yang kedua adalah Shekhar, seorang pengacara yang juga merupakan suami dari Maya. Berbagai kesaksian kronologis pun disampaikan dengan versi yang berbeda-beda, terutama antara versi Vikram dan Maya. Semua tergantung bagaimana ketelitian dan daya analisis Dev untuk menentukan mana kejadian yang sebenarnya.
Premise demikian mungkin sudah terdengar begitu generik di tema dan formula thriller whodunit (siapa pelaku sebenarnya). Namun bagaimanapun tema demikian masih punya daya tarik tersendiri, tergantung bagaimana memasukkan elemen-elemen misterinya, mengolah kesemuanya menjadi jalinan plot yang mengalir serta terus mengikat, dan tentu saja revealing yang (kalau bisa) mengejutkan tapi masih relevan dengan segala setup yang sudah disebar sepanjang film. Sebagai karya debut Abhay, Ittefaq versi 2017 menyuguhkan misteri thriller whodunit yang terjalin cukup rapi, konsisten bikin penasaran, dengan melibatkan elemen-elemen misteri serta pengolahan yang tergolong cerdas. Bukan formula yang benar-benar baru tapi masih mampu mengundang rasa penasaran, setidaknya bagi saya pribadi. In the end tak penting lagi ‘whodunit’, melainkan ‘how did it happen’.
Memang masih bisa saya temukan pengkondisian yang kurang realistis, misalnya pemenggalan interogasi demi menjaga struktur perkembangan plot, tapi masih bisa saya maklumi. Toh dalam konteks tujuannya, ternyata cukup berhasil. Begitu juga dengan detail plot yang cukup konsisten terjaga. Dengan durasi yang ‘hanya’ 1 jam 45 menit, Ittefaq terasa begitu padat dalam bercerita. Jika Anda pernah menyaksikan versi aslinya, baik Signpost to Murder ataupun Ittefaq versi 1969, ada perbedaan yang cukup besar pada ending. Bukan sesuatu yang baru tapi relevan dengan bangunan setup dan ditutup dengan conclusion line yang menarik berkaitan dengan titel yang punya arti “kebetulan”. Tak ketinggalan pula kritik sosial yang cukup terasa teresonansi sepanjang film terhadap pihak kepolisian yang tak peduli mana yang benar-benar terjadi asal kasus segera terselesaikan. 
Dipercaya menghidupkan peran utama dengan porsi paling banyak memberikan kesempatan bagi Sidharth Malhotra untuk membuktikan kualitas aktingnya setelah selama ini masih meraba-raba tipe peran yang pas bagi dirinya. Karakter Vikram Sethi yang kharismatik tapi bisa manipulatif ditampilkan dengan transformasi karakter yang terasa meyakinkan dan mulus. Sonakshi Sinha pun menampilkan keseimbangan antara keluguan dan kemisteriusan yang mencurigakan dengan baik, mengimbangi performa Malhotra. Askhaye Khanna yang dipercaya menjadi karakter penengah, Inspektur Dev, mungkin porsi serta kharismanya tak sekuat Malhotra dan Sinha, tapi masih terasa telah memberikan performa terbaik sesuai porsi perannya. Pavail Gulati sebagai Chirag, Samir Sharma sebagai Shekhar Sinha, dan Kimberly Louisa McBeath sebagai Katherine mendukung dengan cukup baik sesuai porsi masing-masing. Sementara pencuri perhatian tentu saja Ajay Jadhav sebagai karakter komikal yang memberikan sedikit humor (malah beberapa satir) ke dalam nuansa serba serius, Tambe.
Desain produksi a la noir terlihat berkelas apalagi berkat bidikan sinematografi Michal Luka yang seolah tahu betul bagaimana menciptakan atmosfer misteri pembunuhan yang seru sekaligus sinematis. Editing Nitin Baid juga berhasil menggerakkan plot dengan pace yang pas, struktur yang rapi, nyaman dan mudah diikuti, serta berbagai momentum suspense thriller dan revealing yang tepat. Meski tanpa nomor musikal sama sekali, musical score dari Tanishk Bagchi cukup mampu memberikan taste lebih ke upaya pembangunan nuansa thriller-nya.
Bagi penggemar misteri thriller whodunit, Ittefaq tentu pantang untuk dilewatkan. Memang masih menawarkan formula-formula yang generik di genrenya tapi karena genre dan tema tersebut saat ini tergolong jarang, kehadirannya bisa jadi semacam oase. Sangat menghibur dan punya sindiran-sindiran yang menarik. Sssstttt…. Jangan men-spoil apapun, terutama revealing-nya ke mereka yang belum nonton ya!
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates