Wednesday, November 8, 2017

The Jose Flash Review
Flatliners [2017]

Tahun 1990 silam Flatliners menjadi film drama thriller sci-fi dengan tema yang cukup unik. Berfantasi mengulik apa yang terjadi setelah kematian, sutradara Joel Schumacher (St. Elmo’s Fire, The Lost Boys, Dying Young, The Client, Batman Forever, A Time to Kill) menggabungkan sci-fi medis dengan alam ‘spiritual’ menjadi sajian misteri yang mencekam tapi logis. Apalagi dukungan A-list star kala itu, mulai Kiefer Sutherland, Julia Roberts, Kevin Bacon, William Baldwin, dan Oliver Platt, tak heran jika Flatliners menjadi salah satu drama thriller sci-fi yang ikonik hingga saat ini. Seperti biasa, Hollywood tak pernah tak tertarik untuk membawa kembali karya-karya ikoniknya. Tahun 2017 ini Flatliners yang mendapat giliran. Alih-alih dijadikan sebagai sebuah sekuel ataupun spin-off, penulis naskah Ben Ripley (Source Code, Boychoir) dan sutradara Niels Arden Oplev (The Girl with the Dragon Tattoo versi asli Denmark dan Dead Man Down) mencoba me-remake dengan penyegaran-penyegaran yang disesuaikan dengan target audience remaja saat ini. Mendapatkan rating PG-13 (versi asli berating R) menjadi salah satu upayanya. 

Dengan dukungan dari Ellen Page (Juno, Inception), Diego Luna (Y Tu Mamá También, Rogue One: A Star Wars Story), Nina Dobrev (serial The Vampire Diaries, xXx: Return of Xander Cage), James Norton (mini seri War & Peace), Kiersey Clemons (Neighbors 2: Sorority Rising dan upcoming, Justice League), serta Kiefer Sutherland sendiri yang awalnya dikabarkan akan melanjutkan peran yang sama dari versi asli tapi ternyata karakternya dibuat benar-benar baru, tanpa benang merah dari versi asli sama sekali.
Courtney, seorang mahasiswi kedokteran yang sedang masa praktek koas terobsesi dengan pertanyaan apa yang terjadi setelah kematian. Tak cukup hanya meng-interview orang-orang yang mengaku pernah sempat mengalami kematian sesaat, Courtney mencoba sebuah eksperimen untuk mengalami kematian itu sendiri dengan bantuan dari sesama mahasiswa praktek koas; Jamie dan Sophia. Meski sempat menolak dan menganggapnya ide gila karena resiko hancurnya karir kedokteran mereka, Jamie dan Sophia akhirnya mau tak mau setuju dengan iming-iming popularitas jika berhasil. Di saat-saat kritis, muncul Ray dan Marlo yang mencoba untuk menyelamatkan Courtney. 
Setelah berhasil, keempatnya ikut penasaran dengan pengalaman Courtney selama ‘mati sejenak’. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa kemampuan Courtney yang seolah mengalami peningkatan pesat. Daya ingat luar biasa bak memory yang di-restart dan kemampuan bermain piano yang jago. Hanya saja mereka belum tahu bahwa Courtney juga mengalami teror mencekam yang bisa jadi berkaitan dengan masa lalunya. 
Dengan tema sci-fi medis yang terus berkembang pesat dan rentang waktu 27 tahun, memang tak mungkin untuk mentah-mentah me-remake Flatliners. Maka perombakan yang dilakukan oleh Ripley dan Oplev menurut saya sah-sah saja dilakukan. Apalagi ternyata perubahan yang dilakukan bisa membuat jalinan plotnya lebih solid, terutama lewat bangunan desain-desain karakter yang lebih variatif dengan latar belakang serta motivasi yang lebih rasional daripada sekedar ambisi pribadi seperti versi aslinya. Namun pilihan ini bukannya tanpa resiko. Pergantian sudut pandang karakter utama di sekitar pertengahan film membuat kesan plot-shifting yang ‘aneh’. Secara logika masuk akal, tapi secara mood bisa jadi cukup mengganggu. Meski pada akhirnya esensi value tentang berdamai dengan diri sendiri tetap tersampaikan dengan sangat baik dan konsisten lewat semua karakter utamanya. 
Secara konsep medical sci-fi-nya, Flatliners versi 2017 sebenarnya tak melakukan perombakan yang cukup signifikan. Mungkin hanya ada keterlibatan perangkat yang lebih modern dan penjelasan yang lebih ilmiah dengan melibatkan monitoring aktivitas otak secara komputerisasi dibandingkan versi asli yang seolah masih terkesan sangat fantasi. Sayangnya, bangunan thriller yang dilakukan Oplev sebagai kemasan terluarnya masih kerap terasa on-off alias kurang konsisten. Di satu adegan thriller terasa mencekam terutama berkat sinematografi Ericc Kress dan editing Tom Elkins yang punya timing tepat, sementara di adegan lain masih terasa hambar. Dibandingkan versi asli yang tergolong konsisten menghadirkan atmosfer creepy baik secara visual (opening title-nya saja sudah memunculkan figur-figur makam) maupun audio (terutama musical score eerie), Flatliners versi 2017 terasa sangat tanggung. 
Desain karakter yang cukup variatif dari segi latar belakang dan motivasi membuat para aktornya berkesempatan mengembangkan karakter yang dibawakan menjadi lebih menarik. Ellen Page tampak sangat cocok memerankan Courtney yang misterius dan depresif. Tak banyak perbedaan dari peran-peran sejenis yang kerap ia bawakan, tapi jelas tampil meyakinkan. Begitu juga Diego Luna sebagai Ray dan Nina Dobrev sebagai Marlo yang tampak semakin mempesona. Kiersey Clemons pun mencuri perhatian lewat pengembangan karakter Sophia yang cukup mampu mengundang simpati penonton. Sementara James Norton terasa seperti tipikal pria brengsek di film horor remaja kebanyakan. Peran Jamie memang didesain demikian adanya, tapi Norton masih belum menunjukkan tampilan yang lebih menarik ke dalam karakternya. Begitu pula Kiefer Sutherland yang terasa seperti sekedar bintang tamu tanpa peran yang penting sebagai Dr. Barry Wolfson.
Remake bergaya kontemporer seperti yang disebutkan oleh Oplev memang terasa lewat pilihan soundtrack yang mayoritas berwarna elektronik, seperti That Good Night (Trentemøller Remix) dari Howl Baby Howl, Watch Me Do It dari Ronjii featuring Erin Reign, Crunk dari Fabian Mazur & Liam Summers, Sabali (Miike Snow Remix) dari Amadou & Mariam, dan Show Me Love (EDX’s Indian Summer Mix) dari Sam Feldt featuring Kimberly Anne. Selain itu ada pula Wild Child dari Kongsted featuring Cisilia Ismailova yang bernuansa pop ceria serta All I Feel is You (Cajjmere Wray Radio Edit) dari Natalia Safran, dan Sweet Dreams dari Børns yang terdengar lebih cozy. Musical score dari Nathan Barr pun merepresentasikan kesan kontemporer dan elektronik dengan baik meski belum cukup mampu menginjeksikan adrenaline pump yang dibutuhkan film sebagai sajian thriller.

Secara keseluruhan upaya membawa kembali Flatliners ke generasi muda sekarang dengan berbagai perombakan yang punya tujuan lebih jelas dan penyegaran kemasan kontemporer, versi 2017 ini masih layak diapresiasi. Apalagi penyampaian esensi value yang lebih konsisten dan jelas. Memang masih ada kecanggungan di sana-sini, terutama dalam memasukkan kemasan thriller maupun horror ke dalam tema sci-fi dan humanity-nya. Other than that, Flatliners versi 2017 cukup nyaman dan fun untuk diikuti, pun dengan value yang layak menjadi bahan renungan pribadi. Well, setidaknya bagi Anda yang belum menyaksikan versi aslinya.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates