Wednesday, November 29, 2017

The Jose Flash Review
Daddy's Home 2

Will Ferrell selama ini dikenal sebagai salah satu komedian Amerika Serikat yang guyonannya punya segmen tersendiri. Tak semua bisa memahami letak kelucuan humornya, sementara pihak lain ada yang dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkahnya. Banyak materi humornya yang terkesan kasar dan tak senonoh sehingga image film-film komedinya seringkali dilabeli dewasa. Maka ketika muncul sebagai seorang ayah yang berusaha mencuri hati anak-anak tirinya sekaligus bersaing dengan ayah kandung mereka, Daddy’s Home (DH) menjadi film yang menarik perhatian sekaligus mengundang rasa penasaran. Bisakah seorang Will Ferrell tetap lucu dengan materi yang ramah-keluarga? Nyatanya DH berhasil mendulang total US$ 242.8 juta di seluruh dunia meski review kritikus termasuk beragam. Wajar jika ada yang benci sekali tapi ada pula yang berhasil terhibur (polling di CinemaScore rata-rata memberikan B+). Kesuksesan ini menggoda Paramount untuk membuatkan sekuelnya. Sean Anders (Horrible Bosses 2) masih dipercaya duduk di bangku sutradara dengan naskah yang juga masih dibantu oleh John Morris (Hot Tub Time Machine, We’re the Millers, Horrible Bosses 2). Formula yang dipakai adalah menambahkan karakter-karakter baru yang diyakini mampu ‘memperkeruh’ keadaan. Bertajuk Daddy’s Home 2 (DH2), kali ini ada Mel Gibson dan John Lithgow yang didapuk mengisi peran ayah dari Mark Wahlberg dan Will Ferrell. 

Setelah ‘berdamai’ dan membagi porsi peran sebagai ayah dari Dylan dan Megan, tantangan berikutnya bagi Brad dan Dusty adalah Megan merasa tidak menyukai ide harus mengunjungi dua rumah sekaligus untuk segala hal, termasuk perayaan Natal. Brad dan Dusty bersama istri masing-masing akhirnya memutuskan untuk merayakan Natal kali ini bersama-sama di satu rumah. Ketika merasa semuanya akan baik-baik saja, ayah Brad dan Dusty sama-sama menghubungi untuk ikut bergabung merayakan Natal. Dusty kesal karena selama ini ia tak pernah akur dengan sang ayah yang dianggapnya womanizer, keras, dan pem-bully, Kurt. Sementara Brad senang-senang saja dengan kehadiran sang ayah, Don, yang selalu membesarkannya dengan penuh cinta hingga saat ini, bahkan mungkin dengan tradisi-tradisi afeksi yang ‘berlebihan’. Benar saja, Kurt mencemooh Brad dan Don serta menganggap Dusty berubah dari tangguh menjadi lembek gara-gara pengaruh Brad, termasuk dalam hal pengasuhan putra-putrinya. Persaingan antara Brad dan Dusty kembali tersulut tanpa mereka sadari ada banyak hal yang harus mereka dahulukan dari ego masing-masing. Masih diperunyam oleh kemunculan ayah kandung Adrianna, Roger, yang membuat Dusty merasakan posisi Brad ketika pertama kali berusaha menjadi ayah tiri bagi Dylan dan Megan. Perayaan Natal bersama tersebut terancam menjadi yang terburuk yang pernah mereka alami.
Daya tarik utama dari formula pengembangan franchise yang ditawarkan DH2 sebenarnya terletak pada siapa yang mengisi peran karakter-karakter baru. Menurut saya Mel Gibson dan John Lithgow adalah pilihan yang jitu untuk menambah ‘kekacauan’ (baca: ‘kegilaan’) suasana. Benar saja, masih mengusung gaya guyonan yang kurang lebih sama dengan DH pertama seperti banter antara Ferrell dan Wahlberg yang sudah klop, ditambah penampilan witty Gibson dan chemistry ‘lugu’ antara Ferrell-Lithgow menjadi kombinasi yang semakin ‘gila’. Beberapa guyonan menurut saya kelewat ‘brutal’ (terutama adegan yang melibatkan snowblower + lampu hiasan natal, tiang pemancar seluler, dan senjata laras panjang) untuk ukuran film keluarga, apalagi melibatkan karakter anak-anak.
Sebagaimana konsep ‘more dads more trouble’, DH2 memang sengaja melipat-gandakan masalah demi masalah dari karakter-karakter yang dimunculkan. Dengan pace yang sangat dinamis, penumpukan konflik ini bak bagasi yang terlalu penuh hingga lama-kelaman terkesan kacau-balau. Ada Dusty yang harus berdamai dengan kepribadian nyeleneh sang ayah, dilema Dusty antara mengikuti kata sang ayah atau Brad, ketidak-pedean Dusty dengan hadirnya ayah kandung Adrianna, hingga Brad yang kurang peka terhadap konflik sang ayah. Bagi Anda yang cocok dengan gaya komedinya masih bisa menganggap gelaran penumpukan konflik ini bahan guyonan yang membuat tertawa terpingkal-pingkal. Sebaliknya yang sulit menganggapnya lucu, bahkan merasa terganggu, gelaran DH2 bisa jadi sangat melelahkan. Padahal kalau mau ditelaah, akar permasalahan dari kesemua konflik ini hanya satu: gaya parenting yang berbeda. Untung saja setidaknya ia menemukan konklusi yang sederhana dan cukup merepresentasikan semangat Natal tahun ini. Klise, terlalu menggampangkan, tapi kenyataannya, memang seharusnya sesederhana itu. 
Will Ferrell dan Mark Wahlberg masih cukup konsisten dalam melanjutkan peran dari seri sebelumnya. Mel Gibson seolah mengamini kontroversial dirinya lewat karakter yang sengaja dibuat kontroversi. Sementara penampilan John Lithgow dengan mudah menyentuh penonton, apalagi masih ditambah chemistry hangat dan manis dengan Ferrell. Linda Cardellini masih dengan porsi yang terbatas sebagaimana di film pertama. Justru Alessandra Ambrosio yang sulit untuk meredam pesona alaminya di balik porsi yang sebenarnya juga terbatas. John Cena masih efektif menjadi cameo yang menambah semarak suasana selain tentu saja sosok Chesley Sullenberger (yang pernah dibuatkan biopic, Sully dan diperankan oleh Tom Hanks) yang entah bagaimana idenya bisa terpikir.
Sinematografi Julio Macat cukup efektif dalam membangun adegan-adegan komedinya. Editing Brad Wilhite berperan cukup penting dalam menjaga pace film dengan penumpukan konflik yang kelewat banyak. Mungkin terkesan kacau-balau dan bak segmen-segmen terpisah yang disatukan, tapi setidaknya masih terasa jauh lebih baik daripada dibuat kebosanan oleh gelaran konflik bertubi-tubi. Terakhir, musik Michael Andrews dan tracklist yang pas untuk menyemarakkan suasana Natal bersama keluarga, mulai dari If You Leave Me Now dari Chicago, Open Arms dari Journey, St. Elmos Fire (Man in Motion) dari John Parr, hinggaThey Know It’s Christmas dari Band Aid yang dibawakan oleh para cast sebagai konklusi yang sulit dilupakan.

Dibandingkan DH pertama, DH2 memang mengusung kelewat banyak konflik yang ditumpuk-tumpuk hingga terasa kacau-balau. Belum lagi beberapa guyonan memang terasa terlalu kasar, brutal, dan agak inappropriate. Namun beberapa guyonan lainnya masih cukup ampuh membuat saya tertawa terbahak-bahak dan setidaknya ada konklusi sederhana yang lebih dari cukup untuk menyudahi konflik-konflik yang ada. Masih asyik untuk ditonton bersama keluarga (asalkan sebisa mungkin tidak ada yang berusia di bawah sepuluh tahun) apalagi menyambut Natal. Sudah cukup lama kan kita tidak disuguhi film bertemakan Natal di layar lebar?
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates