Saturday, November 18, 2017

The Jose Flash Review
Chasing the Dragon
[追龍]

Action-thriller mafia bisa dianggap sebagai genre yang mendefinisikan sinema Hong Kong, terutama era ‘80-90-an. Termasuk salah satunya adalah karakter nyata legendaris, Ng Sik-ho alias Crippled Ho dan opsir polisi korup, Lui Lok alias Lee Rock yang pernah diangkat ke layar lebar lewat duologi Lee Rock dan To Be Number One. Wong Jing sebagai salah satu sineas paling populer di medio era tersebut dengan karya-karya legndaris seperti God of Gamblers, City Hunter, dan The New Legend of Shaolin, mencoba kembali menghadirkan duo sosok legendaris ini ke satu layar. Tak hanya memasang Donnie Yen di lini terdepan, tapi juga menggandeng kembali Andy Lau untuk memerankan karakter yang sama, Lee Rock, beserta seabreg aktor-aktor Hong Kong legendaris lainnya seperti Kent Cheng, Felix Wong, Ken Tong, Philip Keung, hingga generasi yang lebih muda seperti Xu Dongdong Xu alias Raquel Xu dan Jonathan Lee. Chasing the Dragon (CtD) yang dalam dunia narkotika merupakan istilah slang dalam bahasa Kanton untuk menggambarkan upaya mendapatkan efek fly dari heroin, jelas merupakan salah satu upaya paling ambisius dari Wong Jing setelah seratus lebih film yang pernah digarapnya sejak 1981.

Era ‘60-an merupakan masa paling korup dalam sejarah kepolisian Hong Kong. Persaingan kelompok mafia bawah tanah diikuti oleh persaingan petinggi kepolisian, terutama antara Lee Rock dan Ngan yang berusaha menunggangi polisi Kolonial Inggris, Hunter. Lee melihat bakat seorang perusuh bayaran bernama Ng Sik-Ho untuk ditunggangi demi melancarkan niatan korupsinya. Berkat jasa Lee, perlahan kehidupan Ho berubah menjadi salah satu bos mafia yang disegani di kota berdinding tinggi Kowloon yang tak tersentuh hukum Hong Kong. Perubahan iklim pemerintahan Hong Kong membuat persaingan antar geng mafia narkoba makin sengit. Apalagi setelah diwarnai berbagai serangan, pengkhianatan, dan intrik-intrik licik lainnya. Nasib Ho pun semakin di ujung tanduk yang akhirnya menentukan posisi Lee Rock bagi Ho dan begitu juga sebaliknya dalam hubungan saling membutuhkan yang kerap terasa samar.

Upaya Wong Jing kali ini tak hanya menghadirkan kembali genre action-thriller mafia Hong Kong yang sudah punya berbagai signatural tersendiri. Ia mencoba meramunya dengan berbagai style film mafia. Mulai treatment kronologis a la
The Godfather Trilogy, film-film Martin Scorsese macam Mean Streets, Goodfellas, hingga The Departed, dan juga style Amerika Utara-Amerika Selatan seperti American Gangster, Live by Night, dan terakhir, American Made yang begitu terasa lewat iringan score music dari Chan Kwong Wing. Racikannya membuat CtD terasa begitu stylish dengan laju plot yang super dinamis. Mungkin seringkali terasa begitu cepat untuk diikuti dan bahkan tak jarang terasa lompat-lompat, apalagi dengan kompleksitas plot yang tergolong rumit. Namun begitu mulai terbiasa dan bisa mengikuti ritmenya, Anda tersadar bahwa tak perlu mengingat sejumlah karakter yang ditampilkan dan tiap detail plot yang terjadi. Biarkan ia mengalir, maka CtD menjadi sajian rise-and-fall yang mungkin sering terasa familiar di genrenya, tapi tetap asyik diikuti. 

Keasyikan CtD terutama sekali berkat camera work Jason Kwan yang tak hanya sinematis tapi tahu betul bagaimana mengeksplorasi set-set megah dan detail luar biasa dari James Cheung dengan teknik long take sehingga menghasilkan ritme yang sejalan dengan gelaran adegan-adegan aksinya. Editing Ka Wing Li pun tak kalah cekatan dalam mengikuti ritme kamera. Mungkin terasa terlalu terburu-buru dalam menyampaikan kronologis dengan rentang waktu yang cukup panjang sebagai kompensasi dari menjaga pace keseluruhan film. Namun ia tahu kapan harus menekankan fokus utamanya, yaitu relasi antara Crippled Ho dan Lee Rock, secara konsisten sehingga pada akhirnya penonton tetap mendapatkan kesan terbesar seperti yang diharapkan.

Daya tarik utama CtD tentu berada pada diadunya dua aktor besar Hong Kong, Donnie Yen dan Andy Lau. Upaya Donnie untuk melepaskan image Ip Man dari dirinya ditunjukkan lewat performa akting watak yang lebih menonjol ketimbang sebagai sekedar martial art hero. Memang masih ada porsi aksi-aksi bela diri yang masih menakjubkan, tapi kharisma akting dan permainan emosi lah yang membuat penampilannya di sini menjadi begitu menarik. Penonton benar-benar dibuat bimbang secara moral untuk bersimpati kepada karakternya atau tidak. Andy Lau, seperti biasa, masih tampil penuh kharisma yang seolah tak pernah pudar sebagai Lee Rock. Chemistry antara keduanya yang memang menjadi highlight utama film berhasil ditampilkan dengan begitu meyakinkan sehingga mampu memikat sekaligus membawa penonton kepada dilema moral yang tak sesederhana hitam atau putih.

Selain keduanya, jajaran pemeran pendukung yang bisa dikategorikan sebagai ‘all-star’ pun cukup mencuri perhatian di balik porsi yang memang jauh di bawah kedua tokoh utama. Terutama sekali Kent Cheng sebagai Piggy, Kent Tong sebagai Ngan, Ben Ng sebagai Chubby, serta tentu saja aktris yang begitu mendistraksi lewat pesona fisik sekaligus kemisteriusannya, Dongdong Xu sebagai Alva. 

Jika Anda merindukan sajian action-thriller mafia khas Hong Kong, maka CtD bisa jadi obat penawar rindu yang memuaskan. Racikannya dengan berbagai elemen dan style-style lain menjadikannya terasa lebih menarik dan asyik. Memang di banyak kesempatan kejadian-kejadian secara kronologis harus mengalah dengan pace yang membuat lajunya sering terasa terlalu cepat. Namun begitu Anda sudah bisa mengikuti ritmenya, CtD menjadi tontonan yang seru dan mengasyikkan. Jangan buru-buru meninggalkan bangku karena ada mid-credit scene yang menurut saya cukup menarik.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates