Sunday, October 8, 2017

The Jose Flash Review
Ruqyah: The Exorcism

Exorcism sudah menjadi sub-genre tersendiri di ranah film horor dunia. Apalagi tema pengusiran roh jahat ternyata dimiliki oleh berbagai kebudayaan yang berbeda-beda di seluruh dunia dengan kekhasannya tersendiri. Tak terkecuali dalam budaya Islam yang punya tradisi ruqyah. Tahun lalu Malaysia sempat mempopulerkan kembali tema exorcism dalam balutan horor religi, Munafik yang menjadi bahan pembicaraan di kalangan perfilman Asia, tak terkecuali di Indonesia yang diimpor oleh MD Pictures. Tahun ini rumah produksi yang sama mencoba menghadirkan tema sejenis di ranah perfilman Indonesia lewat salah satu anak perusahaannya yang sukses memproduksi Danur: I Can See Ghosts menjadi film terlaris tahun 2017 sampai tulisan ini diturunkan, Pichouse Films. Jose Poernomo yang lekat dengan image horor, bhkan beberapa di antaranya laris manis, seperti Jelangkung, Pulau Hantu, dan terakhir, Jailangkung, ditunjuk menjadi sutradara sekaligus penyusun naskah bersama Baskoro Adi (Jailangkung). Sementara untuk cast, digandenglah Evan Sanders (Kuntilanak), Celine Evangelista (pesinetron yang sempat tampil di layar lebar lewat Kutukan Suster Ngesot dan Misteri Hantu Selular), serta aktor yang lekat dengan image ustad, Alfie Alfandy.

Tugas Mahisa sebagai wartawan untuk meliput Asha, aktris film yang tengah sakit misterius, membawanya pada rasa penasaran akan masa lalu Asha sebelum memulai karir keartisan. Apalagi cerita dari sahabat Asha yang berasal dari kampung yang sama, Cynthia, yang mengatakan bahwa Asha sempat ‘diisi’ oleh keluarganya agar sukses berkarir di ibukota. Mahisa mulai mengingatkan Asha untuk salat agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat. Namun kondisi Asha malah makin menjadi-jadi dan mengarikan. Mahisa pun teringat dengan kasus aneh di hutan beberapa tahun sebelumnya dan membawa Asha untuk di-ruqyah, ritual pengusiran roh jahat yang merasuki manusia dalam agama Islam.
Tak hanya serta merta mengangkat tema ritual ruqyah semata, Jose dan Baskoro rupanya memberikan setup cerita yang menarik untuk Ruqyah: The Exorcism (RTE). Fenomena ‘susuk’ sebagai ajian memang sudah sejak lama dekat dengan masyarakat kita dan menjadi khas dalam kultur Indonesia. Sayangnya setup yang sebenarnya punya potensi menjanjikan menjadi sesuatu yang menarik hanya sampai sebatas paruh pertama saja. 
Di paruh berikutnya, RTE seperti kebingungan ingin mengembangkan ke arah mana lagi. Alhasil selama sekitar 40 menit penonton hanya disuguhi berbagai ekspresi dan pose Celine Evangelista yang sedang kesurupan. Penampilan kesurupan (yang menurut saya) medioker Celine tak sampai berhasil membuat saya (dan saya yakin, kebanyakan penonton pun demikian) sekedar merasa terancam, apalagi ngeri atau ketakutan. Di banyak kesempatan penonton (setidaknya ketika saya menontonnya) justru lebih sering dibuat tertawa geli ketimbang ketakutan. Sinematografi oleh Jose Purnomo sendiri, editing Aristo Pontoh, ataupun musik Joseph S Djafar pun belum cukup berhasil ‘mengangkat’-nya lebih lagi meski tampak sudah berusaha keras membuat adegan-adegannya terasa ‘megah’ bin sinematik.
Porsi ritual yang seharusnya menjadi fokus utama (hey, it’s even becoming the title!) hanya berlangsung tak lebih dari lima menit di penghujung film. Dengan presentasi yang demikian, RTE seperti telah menyia-nyiakan begitu banyak potensi menarik dari setup yang dihadirkan di paruh pertama. Terutama, tentu saja, relasi antara Mahisa dan Asha. 
Selain Celine, jajaran cast yang ada tak punya porsi yang cukup untuk tampil lebih menarik lagi. Evan Sanders tak diberi daya tarik karakter lebih sebagai sesosok wartawan. Malah kalau boleh jujur, terlihat terlalu ‘cemen’ dan kikuk. Hikmal Nasution dan Zahra Jasmine masih tak lepas dari image ‘sinetron’. Sementara Mega Carefansa sebagai ibu Asha dan Torro Margens sebagai paranormal sebenarnya sempat tampil menarik. Hanya saja porsinya membuat mereka menjadi mudah terlupakan begitu saja.
Dibandingkan karya-karya Jose sebelumnya, bahkan Jailangkung sekalipun, RTE terasa sebagai yang terlemah. Begitu juga jika dibandingkan produksi Pichouse Films sebelumnya, Danur: I Can See Ghosts yang sukses menjadi film terlaris tahun 2017 hingga tulisan ini diturunkan. Sayang sekali sebenarnya dengan setup yang begitu potensial, RTE harus berakhir menjadi sajian horor yang tak hanya medioker, tapi sudah tergolong buruk.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates