Monday, October 30, 2017

The Jose Flash Review
Negeri Dongeng

Makin banyak film dokumenter yang mendapatkan kesempatan tayang di bioskop komersial. Tahun ini setelah Banda: The Dark Forgotten Trail, ada Negeri Dongeng (ND) yang menyorot perjalanan mendaki tujuh puncak gunung tertainggi di Indonesia. Dibesut oleh Anggi Frisca yang sebelumnya menata sinematografi untuk Mata Tertutup, Kita versus Korupsi, Sagarmatha, Mantan Terindah, dan Night Bus, turut pula terlibat di dalamnya pegiat-pegiat film yang kebetulan punya hobi menjelajah yang sama dan tergabung dalam tim yang diberi nama AKSA7; Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Jogie KM. Nadeak, Yohanes Pattiasina, dan Wihana Erlangga. Sebagai bintang tamu digandeng Darius Sinathrya dan Nadine Chandrawinata yang menambah daya tarik ND.

Anggi, Teguh, Rivan, Jogie, Yohanes, dan Wihana bertekad untuk menaklukkan 7 puncak gunung tertinggi di Indonesia; Kerinci di perbatasan Sumatra Barat dan Jambi, Rinjani di Lombok, Semeru di Malang, Puncak Kakam di Gunung Bukit Raya, Rante Mario di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan, Puncak Sejati di Gunung Binaiya, Maluku, serta Puncak Ndugu-Ndugu (Carstensz) di Jayawijaya, Papua. Kesemua pengalaman bersama dan perjumpaan dengan orang-orang dengan berbagai latar belakang terdokumentasi dalam sebuah sajian bertajuk Negeri Dongeng yang mana merupakan representasi dari puncak perjalanan mereka di Gunung Jayawijaya.
Film dokumenter saat ini sudah berkembang cukup pesat dengan berbagai tawaran treatment menarik yang membuatnya tak lagi semembosankan image-nya yang konvensional dulu. Bahkan tak salah jika ingin membuat kemasan yang sangat pop untuk menjangkau range penonton yang lebih luas. Materi yang diusung oleh ND pun sebenarnya menarik dan bisa jadi dokumentasi penting bangsa Indonesia tentang ‘The Seven Summits of Indonesia’ yang begitu populer di mata dunia. Ada banyak harapan dan fantasi yang ada di dalam benak saya akan seperti apa treatment penyampaian cerita yang akan diusung untuk membuatnya menarik. Namun rupanya harapan dan fantasi terlalu tinggi saya berdampak cukup besar terhadap resepsi saya akan ND.
Ia ternyata tak ubahnya dokumentasi perjalanan biasa yang dijahit menjadi satu sesuai urutan kronologikal tanpa treatment konsep tertentu yang bisa membuat elemen-elemen yang ingin disampaikan menjadi lebih jelas dan kuat. Kesemua elemen yang diklaim ‘berharga’ dan membantu menemukan arti perjalanan (baca: semua kejadian dan orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan) dimasukkan begitu saja secara random tanpa narasi penjelas sebelum masuk ke topik. Alih-alih mendalam dan/atau berhasil membuat penonton ikut merasakan feel/value yang sama, kesemuanya terkesan begitu mentah serta sekedar mengomentari apa yang mereka temukan. Elemen-elemen yang mereka temukan pun terasa plain, sekedar merekam kegiatan biasa. Tidak ada yang benar-benar berhasil ‘menggugah’ saya. Rangkaian adegan perjalanan yang seharusnya bisa tetap terasa berat dan seru pun tak memberikan kesan khusus bagi saya. Begitu pula ketika berhasil mencapai masing-masing puncak yang tidak terasa begitu ‘glorious’ atau membelalakkan mata. Tata kamera cukup menyumbangkan beberapa shot cantik, tapi untuk benar-benar berhasil mengeksplorasi tiap pemandangan gunungnya secara maksimal, masih jauh. Setidaknya ada sedikit visualisasi yang lebih menarik dan terlihat lebih ‘menantang’ ketika sampai pada pendakian Jayawijaya. Selain faktor geografis yang memang lebih berbahaya (tapi mendukung visualisasi yang menarik), tata kamera dan editing Rizal Rakhmandar akhirnya memberikan ‘feel’ lebih di bagian ini. 
Kedekatan dengan sosok-sosok utama ataupun relasi antar anggota pun gagal saya rasakan meski jelas ada upaya dengan menyelipkan beberapa testimoni. Alhasil beberapa kejadian dramatis dan penting yang seharusnya potensial mengundang simpati penonton hanya berhasil sejauh atas dasar kemanusiaan saja, bukan kedekatan dengan sosok-sosok yang dihadirkan. Bintang-bintang tamu seperti Medina Kamil, Djukardi ‘Bongkeng’ Adriana, Alfira ‘Abex’ Naftaly Pangalila, Nadine Chandrawinata, apalagi Darius Sinathrya (yang bahkan tak sampai berhasil mencapai Puncak Sejati, Binaiya karena harus pulang setelah mendengar kabar berpulangnya sang ibu mertua) pun tak terasa cukup memorable karena porsi yang serba sekedar lewat saja. Ya, bahkan tak ada keterangan sticker keterangan nama dari setiap karakter. Mungkin hanya si cilik Matthew Tandioputra yang mudah diingat karena kiprahnya sebagai pendaki termuda (saat itu masih berusia 11 tahun) yang berhasil mencapai 7 Puncak dalam kurun waktu 4 tahun.
Pilihan soundtrack yang sesuai dengan spirit dan emosi beberapa momen menjadi salah satu daya tarik dari ND. Pada Suatu Hari Nanti yang merupakan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Darmono oleh Ari Reda dan Menjadi Indonesia dari Efek Rumah Kaca dijamin akan terus terngiang dalam memori untuk jangka waktu yang cukup lama.
ND sebenarnya upaya yang menarik dan penting, tapi hasil akhirnya masih belum cukup untuk  mampu beresonansi dalam kurun waktu yang cukup lama. Not even quite enjoyable nor impressive. Nevertheless, jika Anda sekedar ingin tahu seperti apa medan dan pemandangan dari puncak, ND masih cukup layak untuk disimak. 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.





Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates