Wednesday, October 18, 2017

The Jose Flash Review
Happy Death Day

Belum lama ini kita di Indonesia disuguhi A Day, film Korea Selatan yang menggunakan konsep time-loop untuk menyampaikan father-and-daughter relationship sekaligus isu kode etik kedokteran. Karena masih tergolong jarang digunakan, penggunaan konsep time-loop di berbagai tema selalu menarik untuk disimak. Mulai era Groundhog Day (1993) yang disebut-sebut pionir konsep time-loop, Source Code, Edge of Tomorrow, Before I Fall, A Day, hingga kini Happy Death Day (HDD) yang menawarkan konsep time-loop a la Groundhog Day dengan teenage whodunit slasher-thriller a la Scream. Merupakan proyek ‘murah meriah’ (konon budgetnya ‘hanya’ US$ 4.8 juta saja) dari Blumhouse Productions yang tahun ini mencuri perhatian sekaligus untung besar lewat Split dan Get Out, naskah dasar HDD sejatinya sudah ada sejak 10 tahun silam. Christopher B. Landon yang dikenal sebagai sutradara Paranormal Activity: The Marked Ones dan Scouts Guide to the Zombie Apocalypse serta penulis naskah Disturbia dan Paranormal Activity 2 hingga 4 dan The Marked Ones, kemudian ditunjuk untuk merapikan kembali naskahnya bersama Scott Lobdell (Man of the House) sekaligus menyutradarainya. Jessica Rothe yang pernah kita lihat di La La Land (sebagai gadis serumah Mia bergaun hijau) dipercaya mengisi peran utama, didukung Israel Broussard (Flipped, The Bling Ring), Ruby Modine (serial Shameless), dan Charles Aitken (serial The Knick). Resepsinya ternyata cukup luar biasa. Berhasil menggeser Blade Runner 2049 dari tahta jawara box office Amerika Serikat dengan mengumpulkan US$ 32.6 juta di seluruh dunia dalam tempo tiga hari pertama pemutaran saja. 

Selain hari ulang tahunnya, tanggal 18 tidak terasa terlalu istimewa bagi Tree, seorang mahasiswi dari asrama Kappa yang terbangun di kamar asrama Carter, teman pria yang baru dikenalnya semalam dalam keadaan mabuk. Momen ulang tahun pun sudah tak lagi terasa istimewa bagi Tree semenjak kepergian sang ibu yang kebetulan punya tanggal lahir yang sama dengannya. Namun ia tak pernah menyangka malamnya ia akan menjadi korban pembunuhan. Anehnya, keesokan hari ia kembali terbangun dan mengulang hari yang sama saat ia dibunuh. Maka ia memanfaatkan ini untuk terus mencari siapa pelaku pembunuh dirinya meski harus melewati berbagai peristiwa kematian yang berbeda-beda.
Konsep time-loop untuk film berjenis teenage whodunit slasher-thriller sebenarnya adalah perkawinan yang klop. Entah kenapa baru sekarang terealisasi. Well, awal tahun 2017 ini ada Before I Fall (BIF) yang selain menghindarkan tragedi, juga berlatarkan kehidupan remaja dan mengangkat tema bullying. Bedanya jika BIF menyorot dari sudut pandang kaum geek yang cenderung self-pity, suram, dan suicidal, HDD mengambil sudut pandang seorang gadis populer a la Mean Girls yang tentu lebih potensial untuk menghadirkan suasana yang fun dan adegan maupun dialog yang witty sekaligus menggelitik. Di situlah HDD mempermainkan konsep time loop dan meramunya dengan whodunit suspense thriller. Hasilnya, HDD menjadi sajian yang super fun, seru, menegangkan, dan bikin penasaran. Kesemuanya dijalankan lewat struktur yang tahu betul memanfaatkan konsep time-loop secara cerdas, dengan pengulangan yang efektif, padat, informatif, serta pace yang terjaga dengan sangat baik. Contohnya, ia tak melulu menghadirkan adegan pembunuhan dengan treatment khas whodunit teenage slasher thriller (yang di sini juga ditangani dengan sangat baik sesuai kebutuhan). Ada kalanya memanfaatkan treatment musical montage (dengan iringan Confident dari Demi Lovato) yang tetap informatif dan menggelitik. Tipuan twist yang dilakukan pun tergolong cerdas, rapi, konsisten, dan tetap terasa fun. Cerdas dalam konteks mempermainkan persepsi penonton, bukan semata-mata motif yang cerdas. Speaking of motive, apa yang dihadirkan HDD mungkin terkesan cheesy tapi melihat kontekstual remaja justru realistis dan masuk akal. Ia tak berusaha terlalu keras untuk terkesan ‘cerdas’ dengan motif yang terlalu dibuat-buat. 
Above all, tak ketinggalan memasukkan momentum-momentum romantis, manis, dan hangat yang membuatnya kerap terasa feel-good. Baik antara Tree dan Carter, Tree dan sang ayah, maupun Tree sebagai sebuah kepribadian yang utuh. Membuat pertanyaan penyebab Tree mengalami time-loop bukan lagi hal yang paling penting meski sebenarnya ada sedikit clue yang bisa dianalisis di dalam film (apalagi toh ia memang tak berniat bermain-main terlalu dalam pada konteks sci-fi), melainkan memilih apa hal paling urgent untuk dilakukan ketika mendapatkan kesempatan mengulang hari yang sama berkali-kali. Di situlah kekuatan terbesar HDD. Bisa menjadi sesuatu yang feel good bagi penonton di tengah-tengah kemasan yang fun dan tetap relevan. Tak seperti BIF yang out of nowhere menyampaikan ‘pesan moral’-nya ketika kejadian tragis berlangsung lewat narasi voice-over. 
Feel fun HDD sedikit banyak terbangun dari performa Jessica Rothe yang memang punya pesona yang cukup dalam menghidupkan peran utama, Tree. Terutama sekali transformasi karakter yang berlangsung mulus dan terasa kuat. Chemistry yang dibangun bersama Israel Broussard sebagai Carter pun menambah kehangatan film. Ruby Modine mencuri perhatian lewat kharisma dan karakteristik yang cukup kuat sebagai Lori di balik porsi yang tak begitu banyak. Sementara Rachel Matthews sebagai Danielle, Charles Aitken sebagai Gregory, Rob Mello sebagai Joseph Tombs, Caleb Spillyards sebagai Tim, dan Blaine Kern sebagai Nick, makin menyemarakkan film sesuai porsi masing-masing.
Tak ada yang benar-benar istimewa dari sinematografi Toby Oliver selain sekedar tepat guna untuk berbagai kebutuhan, terutama untuk adegan kejar-kejaran dan ‘fun’-nya. Editing Gregory Plotkin bekerja serba tepat dalam menjaga keseimbangan tiap elemennya dan flow serta pace yang mengalir lancar. Music score dari Bear McCreary cukup memorable dan efektif dalam membangun atmosfer, seperti lewat permainan suara bisikan ‘do it’ yang bisa disejajarkan dengan bisikan ‘catch catch catch kill kill kill’ di franchise Halloween. Pun juga pemilihan soundtrack yang menjadi salah satu motor utama sisi fun dari film. Mulai Love Stuck dari Mother Mother, Voodoo dari DVBBS dan Jay Hardway, Moon Dusty dari Cherry Glazerr, So Nho (Bad Luck) dari Lip B, hingga Ophelia dari The Lumineers yang terus terngiang-ngiang dalam benak di tiap pengulangan jika telinga Anda cukup jeli.
Memadukan teenage whodunit slasher thriller (tapi tanpa on-screen slasher mengingat rating PG-13, tapi tanpa mengurangi keasyikan maupun ketegangan) dengan balutan konsep time-loop yang termanfaatkan dengan sangat baik, cerdas, dan efektif, HDD tak hanya berhasil mengembalikan kejayaan trend teenage slasher thriller era 90-an seperti Scream, I Know What You Did Last Summer, dan Urban Legend, tapi juga menghadirkannya secara fun dan fresh. Pantang dilewatkan penonton yang sempat menjadi fan genre-nya maupun penonton umum yang ingin bersenang-senang sekaligus merasakan feel-good di dalam teater. Apalagi jika Anda tergolong remaja populer kala remaja. You’ll feel it. Bahkan tak berlebihan rasanya jika saya menobatkannya the best in the genre in several recent years. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates