Tuesday, October 17, 2017

The Jose Flash Review
Geostorm

Meski namanya cukup populer di genre disaster/sci-fi sebagai produser dan penulis naskah untuk judul-judul legendaris seperti Stargate, Independence Day, dan Godzilla, nama Dean Devlin ternyata selama ini belum pernah didapuk menyutradarai film layar lebar. Kesempatan besar itu baru menghampirinya lewat Geostorm, sebuah film disaster yang awalnya dipegang oleh Paramount lantas berpindah tangan ke Warner Bros.. Namun rupanya nama Devlin ditambah aktor Gerard Butler, Jim Sturgess, Abbie Cornish, Ed Harris, Andy Garcia, dan Daniel Wu belum cukup untuk membuat Warner Bros. percaya diri. Pertama kali diumumkan rilis Maret 2016, kemudian digeser ke Oktober 2016 dan digantikan Batman v Superman: Dawn of Justice. Penundaan kembali dilakukan ke Januari 2017 hingga akhirnya diputuskan Oktober 2017. Konon kabarnya Jerry Bruckheimer pun sempat turun tangan untuk melakukan syuting ulang yang cukup banyak di bawah komando Danny Cannon dari serial CSI selama dua minggu dan memakan dana tambahan sebanyak US$ 15 juta. Tanda-tanda buruk tapi bagaimanapun genre disaster yang sudah cukup lama absen di layar sinema dunia tetap mengundang rasa penasaran.

Di tahun 2019 serangkaian bencana alam besar di berbagai wilayah di dunia membuat 18 negara bersatu membangun sebuah sistem pertahanan bencana bernama Dutch Boy, serangkaian satelit pengendali iklim mengelilingi bumi. Jake Lawson yang membangun semuanya diberhentikan setelah membuat keputusan penting tanpa persetujuan pihak berwenang dan digantikan oleh sang adik kandung, Max Lawson. Tiga tahun kemudian Max memanggil kembali Jake atas permintaan langsung dari Presiden Amerika Serikat, Andrew Palma, setelah sebuah kawasan desa di Afghanistan mendadak membeku. Disusul peningkatan suhu secara drastis di Hong Kong. Max menduga ada kerusakan pada Dutch Boy yang hanya bisa diperbaiki oleh Jake. Meski awalnya gengsi, atas nama kemanusiaan Jake setuju untuk kembali. Dibantu komandan stasiun pusat yang baru, Ute Fassbinder dan beberapa awak kru, Jake menemukan ada unsur sabotase yang berniat mengendalikan bencana alam dan mengambing-hitamkan Dutch Boy. Max bersama karyawannya yang tech-savy, Dana, dan kekasihnya yang menjabat agen Dinas Rahasia Amerika Serikat, Sarah Wilson, sedikit demi sedikit menemukan petunjuk di balik konspirasi sabotase ini. Namun waktu mereka tak banyak karena tak hanya mengancam nyawa kru Dutch Boy, termasuk Jake dan Ute, tapi juga seluruh dunia yang harus siap-siap menghadapi serangkaian bencana alam besar buatan.
Daya tarik terbesar sekaligus yang membuat Geostorm unik dibandingkan film-film disaster yang sudah ada adalah pada dimasukkannya elemen konspirasi politik. Dengan kondisi perpolitikan global saat ini, muatan politik tersebut jadi punya relevansi yang menarik sebagai sebuah sindiran. Tak perlu khawatir karena selipan tersebut tak divisualisasikan secara kelewat serius seperti kebanyakan drama thriller politik. Devlin menggarapnya secara sederhana dan mudah dipahami. Di satu sisi, visualisasi yang demikian membuat Geostorm terkesan hanya ‘main-main’ atau bahkan cheesy. Masih ditambah narasi dari karakter Hannah yang alih-alih memperkuat kesan heroik ataupun bangga, malah memberikan kesan glorifikasi Amerika Serikat semata. Namun di sisi lain, ini merupakan upaya menjaga konsep ‘just a blockbuster entertainment’ yang dengan mudah diakses oleh range penonton yang luas. Bagi saya pribadi, ini bukanlah isu yang membuatnya sampai menjadi sebuah turn-off. 
Selain dari itu, Geostorm masih berupaya memasukkan elemen-elemen generik di genre disaster, seperti family bond (lewat relationship antara Jake dan Max ataupun Jake dan sang putri, Hannah), romantic relationship (lewat chemistry Jim Sturgess (Max) dan Abbie Cornish (Sarah) yang manis serta menggelitik), bahkan aksi heroik Jake. Sebenarnya tergarap cukup baik meski pada akhirnya kesemuanya terasa serba tanggung. Alhasil, tak ada yang benar-benar secara mendalam menggugah emosi penonton, apalagi sampai membekas untuk jangka waktu yang lebih lama lagi. Namun dalam upaya menjaga intensitas adrenaline-rush, baik dalam hal bencana alam maupun konspirasi politiknya, Devlin masih cukup bisa diandalkan. Perpaduan antara keduanya pun terasa cukup seimbang berjalan beriringan. 
Penampilan para aktor menjadi faktor lain yang membuat Geostorm masih asyik untuk diikuti. Baik chemistry yang manis sekaligus menggelitik dari Gerard Butler dan Jim Sturgess (meski secara fisik dan aksen sebenarnya masih terasa aneh), Butler dengan para awak kru, maupun Sturgess dan Cornish. Ed Harris dan Andy Garcia pun punya momen yang kharismatik dan bad-ass di balik porsi yang tak begitu banyak. Alexandra Maria Lara tampil cukup mencuri perhatian lewat pesona kecantikan khasnya meski karakter Ute Fassbinder sebenarnya terlalu generik, tanpa pengembangan yang cukup menarik. Daniel Wu terkesan underused lewat peran Cheng. Sedangkan pencuri perhatian terbesar terutama lewat celetukan-celetukannya adalah Zazie Beetz sebagai Dana.
Teknis Geostorm tampak tak menemui kendala berarti. Sinematografi Roberto Schaefer masih mampu mengeksplorasi pemilihan angle dan pergerakan kamera yang suportif dalam kebutuhan membangun ketegangan. Dipertajam pula oleh editing Ron Rosen, Chris Lebenzon, dan John Refoua yang terbukti mampu menggerakkan plot dengan flow yang lancar dan keseimbangan berbagai elemen pendukung yang terjaga Musical score Lorne Balfe masih terdengar sangat generik tapi masih tergolong suportif dalam menghembuskan nafas blockbuster. Hanya saja make-up para aktor masih terasa sangat FTV dan polesan visual effect yang bak sekedar showreel dari firma visual effect. Tak terlalu mengganggu jika Anda tak begitu memperhatikan detail, tapi sebagai film kelas A Hollywood, seharusnya masih bisa jauh lebih realistis lagi. Sementara sound design dan sound mixing termasuk aman di genrenya. Tak terlalu bombastis, tapi masih terasa sesuai dengan kebutuhannya. Jika Anda mempertimbangkan format 3D, Geostorm menghadirkan kedalaman ruang yang cukup baik dan terasa punya impact di beberapa adegan, tapi jangan mengharapkan gimmick pop-out.
Memadukan disaster dengan political conspiracy, Geostorm punya potensi menjadi sajian disaster movie yang menarik dan berbeda. Sebagai sajian blockbuster yang menghibur dan sinematis, ia masih cukup mengasyikkan untuk diikuti. Namun untuk memenuhi potensi sesuatu yang exceptional, sayangnya belum. Bahkan mungkin tak butuh waktu terlalu lama untuk melupakan beberapa elemen yang coba dihadirkannya. Ya, saya masih tetap akan merekomendasikan Anda untuk mengalaminya di layar sinema dengan fasilitas mumpuni. Namun nikmati saja sebagai sekedar pengalaman instant  blockbuster entertainment, tak lebih.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates