Wednesday, September 27, 2017

The Jose Flash Review
Wind River

Selain sebagai aktor di serial Sons of Anarchy, nama Taylor Sheridan lebih dikenal sebagai penulis naskah Sicario (2015) yang disutradarai Denis Villeneuve, dilanjutkan Hell or High Water (2016) yang berhasil dinominasikan untuk empat kategori di Academy Awards, termasuk Best Motion Picture of the Year dan Best Original Screenplay. Meski daftar filmografinya sebagai penulis naskah belum panjang, reputasinya tergolong high profile dengan judul-judul tersebut. Namun kiprahnya sebagai sutradara masih baru Vile (2011) yang tergolong horror indie. Kesempatan menulis sekaligus mengarahkan proyek yang lebih high profile datang lewat Wind River (WR), drama thriller investigasi yang ternyata berdasarkan kejadian serta kondisi sosial nyata di sebuah lokasi reservasi suku Indian di Amerika Serikat. 

Menyebutnya sebagai bagian ketiga dari sebuah western modern setelah Sicario dan Hell of High Water, ketiganya hanya punya tema yang sejenis. Sehingga tiap filmnya bisa berdiri sendiri tanpa terikat harus nonton ketiganya ataupun dengan urutan tertentu, tapi juga bisa jadi menarik jika menyaksikan ketiganya untuk menemukan benang merah yang ia angkat. Daya tarik lainnya tentu saja pada pemasangan kembali Jeremy Renner dengan Elizabeth Olsen setelah di Avengers: Age of Ultron dan Captain America: Civil War
Cory Lambert, seorang agen US Fish & Wildlife Service, baru saja membawa putranya mengunjungi orang tua sang mantan istri di sebuah kawasan reservasi suku Indian bernama Wind River, ketika ditemukan mayat gadis muda di tengah-tengah padang salju. Setelah diidentifikasi sebagai Natalie, sahabat mediang putri Cory, kasus dilimpahkan kepada FBI yang segera mengutus agen Jane Banner karena ketidak mampuan satuan polisi Suku Indian. Cory dan Jane bahu-membahu melakukan investigasi yang sekaligus membuka takbir kepahitan para warga penghuni reservasi suku Indian selama ini.
Di permukaan terluar, WR mungkin terkesan hanya merupakan drama investigasi dengan struktur yang tertata dengan sangat baik sehingga pergerakannya terasa lancar dan dengan proses penungkapan yang membuat kasus menjadi semakin menarik. Termasuk juga pengungkapan apa yang terjadi dengan keluarga Cory di masa lalu yang mendukung perkembangan karakternya   sekaligus korelasi yang kuat dengan kasus pembunuhan. Namun along the way, penonton juga seolah diajak merasakan dingin dan depresinya (tapi masih jauh dari kesan terjerumus dalam suasana yang kelewat kelam) warga yang tinggal di dalam kawasan reservasi suku Indian. Pengalaman yang membuat penonton memahami kondisi korban sekaligus juga sang pelaku tanpa harus memaklumi kejahatan yang terjadi. Menjadikan WR tak hanya menyuguhkan drama thriller investigasi semata, tapi juga menggalang simpati terhadap mereka yang tinggal di dalam kawasan reservasi suku Indian dengan berbagai keterbatasannya. Bagi yang menanti-natikan ketegangan aksi, WR menyimpannya untuk konfrontasi klimaks yang begitu seru dan mendebarkan.
Jangan salah, di balik suasana dingin dan depresif, WR masih mampu menjadi tontonan aksi yang memuaskan, terutama berkat performa Jeremy Renner sebagai Cory Lambert yang jitu dalam membidik target dengan senjata laras panjangnya. Apalagi di adegan klimaks yang dengan mudah membuat penonton merasa puas secara emosional. Saya pun tak menyangkal bahwa perannya di WR menjadi (setidaknya, salah satu) performa terbaik Renner. Elizabeth Olsen pun terasa tak kalah tangguhnya sebagai sosok agen FBI, Jane Banner. Di deretan cast pendukung, ada Jon Bernthal yang tampil cukup kuat sesuai porsinya sebagai Matt Rayburn, serta favorit saya, Gil Birmingham yang menampilkan momen-momen sangat emosional lewat perannya sebagai Martin Hanson. Tak boleh diabaikan pula Kelsey Asbille sebagai Natalie yang meski porsi nya tak banyak tapi begitu kuat dan mencuri perhatian.
Teknis WR mungkin tergolong sederhana tapi terbukti mampu memenuhi kebutuhan film semaksimal mungkin. Mulai sinematografi Ben Richardson dengan camera work yang bergerak pas sesuai dengan pace sekaligus mampu mengeksplorasi set dan nuansa dengan sangat baik. Editing Gary Roach berhasil menyeimbangkan berbagai elemen yang dipadukan menjadi sesolid naskahnya, menjaga pergerakan plot menjadi begitu lancar, serta mampu menciptakan ketegangan sesuai kebutuhan di klimaks. Terakhir, music score Nick Cave dan Warren Ellis menjadi satu pilar terkuat WR. Terkesan low key, punya sedikit sentuha etnik, bahkan tak jarang menghipnotis dalam membangun atmosfer maupun mengiringi adegan-adegannya. Apalagi bisikan puisi “Far from your loving eyes/ in a place where winter never comes/ Far from your loving eyes/ and all among the wind I run” yang membuatnya terdengar makin magis.
Tak hanya lewat naskah yang begitu solid dalam menggabungkan berbagai elemen serta kepentingannya dan pengarahan Sheridan yang tepat guna, tapi juga dukungan semua divisi teknis yang menjadikan WR film terbaik dari Taylor Sheridan, pun juga bagi beberapa cast-nya. Layak pula menjadi salah satu film terbaik di tahun 2017 ini.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates