Friday, September 15, 2017

The Jose Flash Review
Total Chaos

Geliat ‘dinasti’ Punjabi di panggung hiburan tanah air makin melebar dengan berdirinya DePetalz Pictures yang digawangi oleh Gobind Punjabi, saudara Dhamoo dan Raam Punjabi, yang pernah turut memimpin Multivision Plus. Sebagai produksi perdana, DePetalz lewat produser Rajesh Punjabi, putra Gobind, bersama istrinya, Simran Punjabi sebagai produser eksekutif, memilih Total Chaos (TC), sebuah drama komedi yang bahkan sudah memperingatkan penontonnya lewat tagline, “Tinggalkan Logika di Rumah”. Mendapuk sutradara Angling Sagaran dan kembali memasangkan Ricky Harun dan Nikita Willy (plus Gary Iskak pula!), TC bak proyek lanjutan setelah sukses From London to Bali (FLtB) awal tahun 2017 ini meski berasal dari production house yang berbeda (FLtB produksi StarVision Plus). Dari judul dan tagline-nya saja bisa ditebak bagaimana TC mencoba mengajak penonton tertawa terbahak-bahak lewat konsep dunia yang serba absurd. Selain itu digandeng pula Babe Cabita, Ciccio Manassero (7 Hari Menembus Waktu, Juara), Awwe, Yurike Prastica, bahkan sampai Walikota Bandung, Ridwan Kamil, beserta istrinya, Atalia Praratya, dengan harapan lebih banyak menarik minat penonton.

Rully bersama ibunya memutuskan pindah ke sebuah desa kecil untuk memulai lembaran baru setelah kematian sang kepala rumah tangga. Pertemuan yang tak disengaja dengan Rossa, si ‘kembang desa’ membuatnya tertarik untuk segera mendaftarkan diri di sekolah setempat dengan harapan bisa semakin dekat dengan Rossa. Ternyata Rossa menghuni sekolah khusus cewek, sementara Rully harus terjebak di sekolah ‘absurd’ khusus siswa laki-laki atas ajakan dari Bojel, anak dari teman ibu Rully. Sekolah ‘absurd’ tersebut terdiri dari berbagai geng-geng aneh, mulai dari geng berkuasa yang diketuai oleh Garang, geng yang selalu teriak-teriak, sampai geng tahu bulat berkostum prajurit Romawi. Kehadiran Rully membuat Garang terancam karena siswa-siswa mulai beralih mengidolakannya. Begitu juga Rossa yang diam-diam jatuh hati pada Rully sehingga membuat Garang cemburu.
Dengan premise yang ditawarkan, TC sebenarnya masih punya potensi untuk menjadi sajian komedi absurd yang menggugah syaraf tawa. Namun agaknya racikan yang diolah oleh Angling Sagaran masih jauh dari kata pas. Konsep ‘absurd’ dan ‘ngawur’ yang ditampilkan ternyata hanya sebatas elemen-elemen pembangun universe, seperti bangunan sekolah dan geng-geng pengisinya dan pedesaan yang bak kawasan villa. Konsep yang sebenarnya masih cukup bisa diterima dalam konteks film fantasi. Yang menjadi permasalahan adalah Angling tak punya cukup amunisi set-set komedi yang mampu menggelitik penonton, selain sekedar pemanfaatan isu-isu kekinian seperti tahu bulat dan telolet tanpa diolah lebih. Malahan dengan plot dan selipan ‘pesan moral’ tentang bullying, TC terasa kelewat serius sebagai sajian komedi absurd. Sebaliknya, sebagai film yang serius membahas isu sosial tersebut, ia masih kelewat ngaco dan jauh dari kesan cukup mengena. Mungkin maksudnya ingin menyeimbangkan konsep gila-gilaan dengan pesan moral, tapi dengan racikan yang gagal untuk kedua tujuannya.
Kehadiran Babe Cabita yang hanya sekedar mencoba melucu lewat pickup-pickup line, pun masih belum mampu mengangkat TC menjadi lebih lucu lagi. Sekali-dua kali mungkin masih bisa menyimpulkan senyum dari bibir saya, tapi lama-kelamaan polanya menjadi semakin kering. Malah mungkin ini merupakan penampilan terlemah Babe yang kerap (bahkan mungkin, selalu) dijadikan ujung tanduk gelaran humor di film-film yang dibintanginya. Ricky Harun dan Ciccio Manassero masih memerankan karakter tipikal yang biasa diperankannya. Begitu juga dengan Nikita Willy yang  meski masih tipikal tapi setidaknya punya sedikit lebih banyak kharisma serta pesona sehingga cukup menjadi pencuri perhatian sepanjang film. Kekuatan serta kharisma akting Yurike Prastica terasa sangat underused. Begitu juga Gary Iskak yang seolah hanya sekedar cameo saja. Sementara cameo Ridwan Kamil nyatanya tak cukup menarik perhatian (jika Anda tak mengenal siapa Ridwan Kamil sebelumnya maka kehadirannya mungkin tak terasa berkesan sama sekali). Malahan terlihat masih sangat kaku dan canggung. Justru sang istri, Atalia Praratya, masih tampil sedikit lebih luwes.
Teknis TC meski tak sampai istimewa-istimewa sekali, tapi setidaknya tergarap cukup rapi. Lihat saja bagaimana tata kamera Joel F Zola menghadirkan camera work yang sesuai kebutuhan emosi dan komedi meski hasil akhirnya masih belum mampu mencapai tujuan apapun secara maksimal. Beberapa aerial shot pun terlihat punya ketajaman di atas rata-rata sekaligus mampu menangkap keindahan alam pedesaan. Editing Cesa David Luckmansyah, seperti biasa, setidaknya masih berusaha menjalankan guliran plot dengan lancar di balik upaya-upaya komedi dan drama yang sudah lemah. Artistik Alga Indria pun masih bisa diapresiasi terutama lewat interior rumah Rully dan Rossa dalam konteks fantasi. Sementara musik Lafa Pratomo dan Aldi Nada Permana masih bermain-main di ranah generik drama dan komedi.
Mengusung konsep komedi absurd dan/atau komedi chaotic, TC agaknya masih jauh dari kata berhasil sekedar menghibur. Bisa jadi faktornya adalah upaya menjaga keseimbangan antara absurditas dan pesan moral yang belum mampu teracik dengan baik. Hasilnya memang bukan sepenuhnya seperti yang tergambarkan lewat judul, tapi tak bisa dipungkiri juga bahwa TC salah satu film Indonesia paling chaotic (bukan dalam konteks positif ya!) tahun ini, setara dengan Baracas.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates