Tuesday, September 12, 2017

The Jose Flash Review
Tokyo Ghoul
[東京喰種]

Tak mudah mengadaptasi manga atau anime ke bentuk live action. Salah satu alasannya adalah desain universe manga/anime yang kerap kali out of this world. Sulit untuk membuat keputusan adil antara memuaskan fans asli yang tentu mengharapkan seotentik mungkin, sementara ada tujuan lain untuk memperluas range penonton umum yang bisa jadi sulit menerima desain universe jauh dari realistis. Apalagi penggemar-penggemar anime/manga termasuk paling fanatik dibandingkan kultur-kultur populer lain yang lebih fleksibel. Setelah belum lama ini penggemar Gintama dipuaskan dengan keotentikan versi live actionnya sekaligus bisa menghibur non-penggemar lewat self-mocking, kali ini giliran Tokyo Ghoul (TG) karya Sui Ishida yang mencoba peruntungan di ranah live action. Ditangani oleh Kentarõ Hagiwara (sutradara film pendek yang terakhir turut ambil bagian dalam Anniversary atau Anibâsarî), TG didukung jajaran cast yang menarik, antara lain Masataka Kubota (Death Note), Fumika Shimizu (Kamen Rider), dan Yû Aoi (trilogi Ruroni Kenshin). Penggemar di Indonesia termasuk beruntung karena Moxienotion membawa versi live action TG ke bioskop-bioskop nasional mulai 13 September 2017.

TG memperkenalkan makhluk baru bernama ghoul, manusia yang hanya bisa bertahan hidup dengan memakan daging sesama manusia. Bagi para ghoul, makanan manusia seenak apapun terasa tak enak. Hanya daging manusia saja yang bisa mereka konsumsi dengan nyaman. Keberadaan para ghoul meresahkan Tokyo, tapi tidak bagi seorang mahasiswa bernama Ken Kaneki. Malang, Ken justru diserang oleh gadis yang dikaguminya selama ini, Rize Kamishiro. Siapa sangka Rize ternyata seorang ghoul yang selama ini mengincar daging segarnya. 
Sebuah kecelakaan membuat Rize tewas dan Ken terluka parah. Untuk menyelamatkan nyawa Ken, tim dokter berinisiatif untuk memindahkan organ-organ penting Rize ke tubuh Ken. Alhasil Ken menyadari bahwa ia sudah berubah menjadi setengah ghoul. Pergulatan adaptasi mempertemukan Ken dengan ‘paguyuban’ kaum ghoul Anteiku yang enggan membunuh manusia demi mendapatkan makanan. Di saat yang bersamaan, keberadaan Ken dan Anteiku terendus oleh CCG atau Commission of Counter Ghoul, agen federal yang khusus menginvestigasi kasus-kasus terkait ghoul.
Secara garis besar, TG menawarkan ‘makhluk’ fiktif baru yang cukup menarik. Bak vampir dengan plot perpaduan antara Blade dan Interview with a Vampire. Bagi penonton awam, apa yang ditawarkan installment live action pertama TG ini tergolong sangat ‘ramah’. Apalagi dengan konsep yang sebenarnya merupakan origin story dari konsep universe TG. Pengembangan plotnya pun tergolong bergerak lancar meski harus diakui masih banyak silent moment seperti kebiasaan sinema Jepang secara umum yang mungkin agak mengganjal kedinamisan film sebagai sajian aksi gory yang sebenarnya sudah punya adegan-adegan aksi yang intens dan seru. Hagiwara terasa tahu betul bagaimana menjaga keotentikan desain konsep manganya dengan treatment yang sinematik. Tentu kepiawaian sinematografi Satoru Karasawa, didukung penanganan CGI yang realistis dan cukup impresif. Terutama dalam menampilkan desain-desain Kagune (senjata khas yang menyatu dengan tubuh para ghoul) dan pemanfaatannya dalam menciptakan adegan-adegan aksi yang brutal. Desain kostum Masanori Morikawa pun tampak berhasil menjaga desain fantasi asli dari versi manga tanpa terlihat kelewat out-of-this-world. Tak ketinggalan peran musik Don Davis yang makin memperkuat feel sinematik, serta tentu saja sound design maupun sound mixing yang memaksimalkan fasilitas surround.
Namun dari kesemua elemen-elemen yang disuguhkan, yang paling menarik dari TG adalah tema kemanusiaan yang dipertanyakan baik dari manusia sendiri maupun dari kaum ghoul yang sebenarnya tak ingin tapi harus menerima takdir sebagai ghoul. Ia bak sebuah alegori terhadap berbagai label yang kerap digunakan manusia sebagai alasan untuk ‘menyerang’. Apakah manusia murni yang berusaha menghabisi kaum ghoul dengan alasan tuduhan pendosa lebih manusia ketimbang kaum ghoul yang berusaha hidup semanusiawi mungkin? Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa menjadi refleksi bagi penonton.
Penampilan aktor dan aktris pendukung tentu menjadi salah satu pilar keberhasilan live action TG. Mulai Masataka Kubota yang lagi-lagi membuktikan diri punya kharisma kuat untuk mengisi peran lead. Di tangannya, Ken Kaneki menjadi karakter yang begitu menggaet simpati penonton. Tiap fase transformasi karakternya pun ditampilkan dengan begitu mulus dan natural. Fumika Shimizu menghidupkan karakter Toka Kirishima yang kickass dengan impresif. Nobuyuki Suzuki sebagai Kotaro Amon dan Yo Oizumi sebagai Kureo Mado pun memberikan kharisma villainous yang cukup terasa sepanjang film. Sementara Hiyori Sakurada sebagai Hinami dan Yû Aoi sebagai Rize Kamishiro menjadi pencuri perhatian tersendiri meski lewat porsi yang tak begitu banyak.
Sebagai non-penggemar manga ataupun anime, live action TG cukup menarik minat saya akan desain universe maupun konsep tiap elemennya. Ini tentu berkat pengenalan yang tergarap sangat baik sehingga kesemuanya tampil menarik. Jika installment-installment berikutnya bisa menjaga kualitas yang setidaknya setara dengan ini, maka TG bisa menjadi salah satu live action adaptasi dari manga/anime yang paling berhasil mempertemukan antara ekspektasi fans asli dan penonton umum. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates