Tuesday, September 5, 2017

The Jose Flash Review
Shubh Mangal Saavdhan
[शुभ मंगल सावधान]

Tak banyak film Asia yang berani mengangkat tema seks ke ranah sinema. Maklum, di budaya Timur, seks masih menjadi topik yang tabu untuk dibahas. Namun bukan berarti sama sekali tidak ada. Tiap kemunculannya kemudian menjadi sesuatu yang menarik. Tak terkecuali di scene sinema Tamil yang meski dianggap masih di bawah industri Bollywood tapi justru telah melahirkan banyak ide-ide menarik yang kemudian diadaptasi ke bahasa Hindi oleh industri mainstream Bollywood. Salah satunya adalah Kalyana Samayal Saadham, komedi romantis garapan RS Prasanna yang banyak mendapatkan pujian kritikus. Bahkan Sudhish Kamath dari The Hindu memasukkannya ke dalam daftar 5 film yang mendefinisi ulang perfilman Tamil tahun 2013. Tahun 2017, sutradara RS Prasanna sendiri yang turun tangan untuk menggarap remake berbahasa Hindi-nya, Shubh Mangal Saavdhan (SMS) dengan naskah yang diadaptasi oleh Hitesh Kewalya (Siddharth: The Prisoner). Memasangkan kembali Ayushmann Khurrana dan Bhumi Pednekar pasca Dum Laga Ke Haisha yang berjaya di berbagai ajang penghargaan film dan sukses secara box office tahun 2015 lalu, menjadi daya tarik SMS. Apalagi keduanya punya film yang rilis dalam waktu yang berdekatan; Ayushmann di Bareilly Ki Barfi (tayang seminggu sebelumnya di bioskop Indonesia), sementara Bhumi di Toilet: Ek Prem Katha (tayang dua minggu sebelumnya di bioskop).

Mudit Sharma sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Sugandha. Namun ia tak punya cukup keberanian untuk sekedar menyapa. Padahal diam-diam Sugandha pun tertarik tapi menantikan pihak laki-laki untuk memulai aksi lebih dulu. Sang ibu memberi ide untuk langsung melamar Sugandha secara online. Sugandha marah dan kecewa, tapi di sisi lain juga enggan untuk menolak. Setelah kedua pihak keluarga setuju, perlahan hubungan Mudit dan Sugandha pun makin dekat. Namun masalah baru muncul. Mudit ternyata tidak bisa ‘berdiri’ ketika bersama Sugandha. Sugandha yang awalnya tidak menjadikan masalah akhirnya jengah juga karena Mudit  lebih memilih diam tanpa usaha untuk menyelesaikannya dan menyerah. Pernikahan yang sudah semakin dekat menjadi terancam batal.
Mengangkat tema disfungsi ereksi, SMS berpotensi jatuh ke komedi seks vulgar seperti misalnya American Pie atau di ranah film Indonesia, XL: Extra Large. Untungnya, ia memilih treatment yang lebih halus dan aman. Memanfaatkan analogi untuk menyimbolkan materi-materi seksnya, ternyata masih ampuh dijadikan pemancing tawa. Namun secara keseluruhan porsi terbesarnya lebih diberikan kepada kejadian-kejadian ganjil nan kocak yang berasal dari pihak masing-masing keluarga. Tak hanya membuat SMS menjadi komedi romantis yang lebih bisa diterima penonton umum, tapi juga punya misi value sosio-kultural yang lebih penting tentang pernikahan yang tak melulu soal urusan hubungan seksual. SMS menunjukkan dengan jelas problematika hubungan antara Mudit dan Sugandha yang sebenarnya sejak awal, serta secara konsisten menyelesaikannya sebagai konklusi. Cerdas, menggelitik, tapi tetap hangat dan manis.
Sayang SMS masih punya kesulitan untuk menutup kisahnya. Mungkin bagus secara konklusi, tapi cara penyampaiannya justru menjadi agak antiklimaks dan bahkan sempat terasa mengalami kebingungan antar-karakter, yang secara otomatis membuat penonton semakin bingung dengan arah film. Setelah dibuka dan dikembangkan dengan begitu baik, penutupan yang demikian terasa teramat sangat disayangkan. Bukan tak mungkin gara-gara penyelesaian demikian, SMS urung menjadi film yang memorable untuk jangka waktu yang lebih lama.
Tak perlu mempertanyakan kekuatan chemistry yang dibangun Ayushmann Khuranna dan Bhumi Pednekar. Hangat, manis, juga punya naik-turun yang natural dan realistis. Penampilan masing-masing dalam menggambarkan perbedaan kepribadian karakter yang menyulut konflik pun terasa dengan jelas dan konsisten. Chemistry antara Supriya Shukla dan Chittaranjan Tripathy sebagai orang tua Mudit pun berhasil memercikkan humor yang menggelitik. Seema Pahwa yang berperan sebagai ibu Sugandha yang ternyata bisa ‘nakal’ di balik keluguannya. Tak heran jika sumber tawa penonton banyak berasal dari tingkahnya. 
Teknis SMS mungkin memang tak menawarkan sesuatu yang istimewa, tapi lebih dari cukup untuk mendukung upaya komedi maupun romantisnya. Seperti sinematografi Anuj Dhawan yang membingkai setting perumahan menengah pedesaan menjadi begitu sinematik, termasuk desain produksi Laxmi Keluskar dan Sandeep Meher untuk berbagai pernak-pernik indah di berbagai acara adat yang dimunculkan. Editing Ninad Khanolkar membuat plotnya mengalir lancar dengan keseimbangan antara komedi dan romantis yang pas di balik durasi yang ‘hanya’ 119 menit (tergolong pendek untuk film Hindi). Musik dari Tanisk Bagchi dan Vayu turut mendukung nuansa manis, menyentuh, maupun festive dengan cukup baik meski tak ada yang benar-benar memorable untuk jangka waktu yang lama. 
Punya materi cerita yang menarik dan dijalankan dengan lancar serta tersusun baik serta seimbang antara drama romantis dan komedi yang menggelitik, SMS memang terasa punya kelemahan dalam menyampaikan konklusi dan menutup film. Selain dari itu, ia masih layak dijadikan tontonan yang menghibur sekaligus pengingat tentang esensi utama pernikahan bagi penonton yang berpasangan.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates