Sunday, September 24, 2017

The Jose Flash Review
Serpent

Di sub-genre creature horror/thriller, ular termasuk salah satu yang sering diangkat. Sayangnya, kebanyakan tergolong film kelas B. Mungkin hanya franchise Anaconda dan Snake on a Plane yang terasa punya profil lebih tinggi dari kebanyakan. Tahun 2017 ini CBI Pictures membawa masuk Serpent, film asal Afrika Selatan tentang ular black mamba di hutan pedalaman Afrika yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Amanda Evans yang memenangkan Nightfall Award di Los Angeles Film Festival. Meski tergolong indie, Serpent agaknya punya daya tarik tersendiri daripada sekedar film kelas B lainnya. Setidaknya ada Tom Ainsley yang dikenal lewat serial The Royals dan film DTV, Jarhead 3: The Siege, serta Sarah Dumont (Don Jon, Scouts Guide to the Zombie Apocalypse, dan juga serial The Royals.

Gwyneth tampak menghindari seseorang yang kerap mengiriminya pesan dan menelepon lewat ponselnya. Mendadak pula ia tertarik dengan pekerjaan sang suami, Adam, yang seorang entomologist. Kebetulan Adam sedang bersemangat karena mendapatkan sponsor melakukan ekspedisi ke sebuah pedalaman hutan Afrika Selatan untuk menemukan spesies kumbang Scarabaeidae langka. Gwyneth memaksa untuk ikut. Adam pun dengan berat hati membatalkan keikut-sertaan sang partner dan digantikan Gwyneth. Tanpa berpikir akan terjadi sesuatu yang aneh, mereka tak begitu khawatir dengan perlengkapan obat-obatan yang hanya bisa untuk satu orang. Awalnya mereka berdua tampak menikmati perjalanan bak kembali berbulan madu. Namun semua berubah ketika tenda mereka kemasukan seekor ular Black Mamba yang bisanya sangat mematikan. Berbagai upaya mereka lakukan untuk selamat, tapi hubungan keduanya menjadi makin menegang ketika Adam mendapati pesan-pesan misterius di selular Gwyneth. Saling curiga timbul dan mempengaruhi keputusan mereka berdua dalam upaya penyelamatan diri.
Dari tampilan keseluruhan, Serpent mungkin memang terasa begitu indie dan low-budget. Ini terlihat dari minimnya set lokasi (kebanyakan hanya di satu titik di hutan) dan camera work yang masih banyak yang terasa kurang mulus. Kualitas aerial shot pun terlihat kusam dan ketajaman yang sangat kurang. Namun berkat skill set directing Evans, plot Serpent berjalan dengan cukup lancar sehingga durasi yang sekitar 85 menit terlewati dengan tak terasa sama sekali di balik kesederhanaan pergerakan plotnya. Skill set Evans pula yang membuat momentum survival yang cukup panjang dan melewati berbagai upaya menjadi begitu mencekam serta mengancam meski lewat visualisasi yang minim aksi. Tentu faktor sinematografi, camera work, dan editing punya peran yang penting dalam upaya tersebut. Tak ketinggalan sound design dan sound mixing yang menurut saya berhasil membangun atmosfer yang detail dan punya kedalaman ruang lebih.
Yang membuat Serpent punya daya tarik lebih adalah berbagai informasi terkait subjek, terutama sang ular Black Mamba, yang disampaikan kepada penonton (diwakili oleh Gwyneth yang dibuat sama awamnya dengan penonton) sebagai setup dalam membangun upaya-upaya survival. Penggabungan tema survival dengan konflik personal antara keduanya pun membuat konklusinya menjadi lebih menarik dan intriguing. Selain tentu saja sosok ular Black Mamba yang bisa dianggap bagian dari representasi kisah Adam dan Hawa di Alkitab, jika Anda tertarik untuk menghubung-hubungkannya.
Penampilan Tom Ainsley dan Sarah Dumont pun tergolong sangat layak sesuai kebutuhan peran masing-masing serta chemistry yang cukup meyakinkan sebagai pasangan suami-istri dengan konflik terselubung. Yang tak kalah pentingnya, pergulatan love-hate yang cukup membuat penonton thought-provoked. 
Secara keseluruhan, Serpent mungkin memang sebuah film indie dan terlihat low-budget. Namun dengan kemampuannya menjadi sajian berdurasi 85 menit yang mendebarkan, informatif, sekaligus thought-provoking di balik serba kesederhanannya, ia layak mendapatkan perhatian lebih. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates