Tuesday, September 12, 2017

The Jose Flash Review
Renegades

Kiprah Luc Besson untuk mengimbangi citra sinema Eropa secara keseluruhan yang melekat pada arthouse dengan film-film aksi ringan bercitarasa blockbuster Hollywood tapi tentu dengan kekhasannya tersendiri memang seringkali menghadirkan sesuatu yang menarik. Paska Valerian yang ambisius, Besson menyiapkan Renegades yang sejatinya telah diumumkan sejak 2014 dan mulai diproduksi Apri 2015, tapi terus mengalami penundaan penayanganan hingga September 2017. Dengan naskah yang disusunnya bersama Richard Wenk (The Mechanic, The Expendables 2, The Equalizer, The Magnificent Seven versi 2016, hingga Jack Reacher: Never Go Back) dan bangku penyutradaraan yang dipercayakan kepada Steven Quale (sutradara unit kedua di Titanic dan James Cameron’s Avatar yang juga pernah menyutradarai Final Destination 5 dan Into the Storm), Renegades menawarkan aksi petualangan pemburuan harta karun dengan background fantasi yang bisa dikatakan versi realistis dari legenda El Dorado. Di jajaran cast ada Ewen Bremner (Trainspotting), Sullivan Stapleton (300: Rise of an Empire), Sylvia Hoeks (upcoming, Blade Runner 2049), dan J.K. Simmons. Bukan produksi yang high profile, tapi tema pemburuan harta karun yang akhir-akhir ini sudah sangat jarang diangkat membuat Renegades tetap menarik untuk disimak.

Ketika hendak dipulangkan paska dianggap mengacau-balaukan misi penculikan petinggi Serbia di masa perang Bosnia tahun 1995, seregu tim Navy SEAL beranggotakan lima orang mendapatkan tawaran dari seorang warga lokal yang kebetulan kekasih dari salah satu anggotanya, Stanton. Konon ada harta karun milik NAZI Jerman era Perang Dunia II, termasuk 27 ton emas murni batangan yang terendam bak El Dorado ataupun Atlantis di kota fiktif bernama Grahovo. Harta karun ini kelak akan digunakan untuk membangun Yugoslavia paska perang berakhir. Tergiur oleh nilai bagian yang berlimpah sekaligus tujuan mulia tersebut, kelimanya setuju untuk membantu menemukan serta mengeluarkannya dari danau. Tentu dengan jumlah sebanyak itu dan kejaran otoritas Serbia di bawah pimpinan Mayor Petrovic, misi mereka tak semudah yang dibayangkan.
Renegades dibuka dengan sebuah misi penculikan yang sangat seru dan menegangkan bak misi serupa di film-film perang blockbuster Hollywood. Dari sini Steven Quale menetapkan standard  penanganan adegan aksi yang cukup tinggi. Apalagi dengan dukungan sinematografi Brian Pearson dan editing Florent Pearson yang sangat mendukung excitement dan sisi fun dari adegan aksi tersebut. Suasana fun masih terus dipertahankan hingga babak-babak berikutnya, terutama berkat kehadiran J.K. Simmons sebagai Levin yang seperti biasa, menciptakan humor lewat karakter ketus tapi kerap menyisipkan celetukan menggelitik di antaranya. Humor yang ditangkap dengan baik pula oleh pemeran lainnya, seperti Sullivan Stapleton dan Charlie Bewley.
Sayang plot yang digulirkan kemudian tak terlalu berkembang banyak selain sekedar generik di temanya. Bahkan saking ‘lurus’ dan tanpa kelokan-kelokan cerita yang berarti, twist klise di tema serupa yang sempat bikin curiga di awal pun ternyata tak dimunculkan hingga akhir film. Tak ada pula porsi yang cukup bagi pihak musuh, Petrovic untuk menjadi sub-plot yang menarik dan lebih dalam lagi selain sekedar menghalangi upaya evakuasi harta karun tim Navy SEAL serta sedikit motif balas dendam atas apa yang terjadi di adegan pembuka. 
Sedikit sisi menarik yang sempat diselipkan adalah dilematis peran Navy SEAL antara tugas resmi dan tujuan baik yang tak resmi. Namun in the end, sisi ini tak pernah tergali lebih dalam lagi demi menjaga nuansa fun dan sedikit komikal yang menjadi kemasan terluarnya.
Sebenarnya saya pribadi tak begitu mempermasalahkan naskah yang terlalu ‘lurus’ dan generik ataupun potensi kedalaman plot yang tak cukup tergali. Apalagi dengan kacamata fun action-adventure sebagaimana tujuan utamanya. Namun agaknya Renegades tak punya adegan-adegan aksi lain yang seseru adegan pembukanya. Bahkan untuk adegan klimaks yang agaknya membuktikan bahwa Quale masih kewalahan memvisualisasikan adegan aksi under-water, terutama keterbatasan cahaya yang menyebabkan tiap detail adegan aksinya sulit untuk diikuti dan dipahami penonton. 
Di samping aktor-aktor pria pengisi lini terdepannya, penampilan Sylvia Hoeks pun cukup mencuri perhatian. Ia mampu membawakan peran tipikal dengan kharisma dan pesona yang menarik. Sementara di lini-lini pendukung, seperti Ewen Bremner, Dimitri Leonidas, Diarmaid Murtagh, dan Joshua Henry, mengisi peran masing-masing dengan layak sesuai porsi peran. Terakhir, Clemens Schick tampil tak kalah menarik terutama lewat kharisma villainous yang khas.
Mengangkat tema yang jarang diangkat beberapa era belakangan, Renegades memang punya potensi yang besar untuk menjadi sajian aksi-petualangan yang lebih seru. Mungkin sejak awal ia bukanlah proyek dengan profil yang cukup tinggi sehingga guliran plotnya pun terkesan dibuat terlalu ‘lurus’. Pun juga penanganan adegan aksi under-water yang seharusnya menjadi sajian utamanya tapi tergarap kurang maksimal. Namun setidaknya ia masih punya adegan aksi pembuka yang seru, menegangkan, dan sedikit ‘gila-gilaan’, serta nuansa fun yang terjaga konsisten sepanjang film. Sehingga setidaknya sebagai sajian murni hiburan, Renegades masih asyik untuk diikuti. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates