Friday, September 8, 2017

The Jose Flash Review
Petak Umpet Minako

Pasca kesuksesan Danur: I Can See Ghosts, genre horor kembali dilirik oleh banyak pegiat film Indonesia setelah sempat dihindari karena image horor esek-esek yang kerap dijadikan kambing hitam rendahnya kualitas film Indonesia secara keseluruhan. Di tengah eksplorasi genre horor di film Indonesia yang masih belum beranjak terlalu jauh ke mana-mana, Nimpuna Sinema mencoba mengangkat kisah Petak Umpet Minako (PUM) dari novel best-seller karya @manhalfgod sebagai produksi perdananya. Tak tanggung-tanggung, Billy Christian yang dikenal spesialis horor dengan visi dan konsep unik, ditunjuk sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Sementara di jajaran cast, ada belasan nama populer dan beberapa tergolong fresh seperti Miller Khan, Gandhi Fernando, Regina Rengganis, Nicky Tirta, Natasha Gott, Wendy Wilson, Hans Hosman, Novinta Dhini eks-JKT48, Tia Muller, Tamara Tyasmara, Reza Restapop, Herichan, Daniel Topan, dan Ario Astungkoro (penyiar Hard Rock FM Jakarta). Menghadirkan budaya Jepang dengan sub-genre survival horror, PUM berpotensi memberikan warna tersendiri pada genre horor di film Indonesia.

Baron yang awalnya malas datang ke acara reuni akhirnya memutuskan untuk datang karena ajakan sang kekasih, Gaby. Begitu sampai di gedung sekolah yang saat ini ternyata sedang ditutup untuk renovasi, ia mendapati suasana yang benar-benar mencekam. Beberapa teman  bahkan telah berubah menjadi semacam zombie yang agresif dan ganas. Bersama Kaisar, ia mencari keberadaan Gaby dan teman-teman yang masih selamat lainnya. Ternyata semua berawal dari Vindha yang iseng-iseng mengadakan permainan maut bernama Hitori Kakurenbo. Tak hanya mengancam nyawa tiap pemain, tapi mereka juga tak bisa keluar dari area permainan yang telah ditentukan jika tak ingin terkena kutukan Minako. Kini mereka harus mencari cara agar terbebas dari permainan dan kutukan Hitori Kakurenbo. Ketika tahu hanya ada satu pemenang yang bisa selamat hingga akhir permainan, terjadi saling curiga dan upaya untuk saling bunuh.
Ada banyak potensi yang sebenarnya dimiliki PUM. Terutama sekali horror survival dengan potensi adegan-adegan sadis yang memanjakan penggemar slasher dan misteri sosok Minako yang bisa berubah dari boneka kecil menjadi sebesar manusia yang mengerikan. Sayangnya, pilihan-pilihan yang dilakuka di hasil akhir justru membuat berbagai upaya tersebut gagal. Alhasil, saya bingung mau kemana goal PUM ini dibawa. Sebagai slasher, adegan-adegan sadisnya mayoritas ditampilkan off-screen. Mengandalkan pembangunan atmosfer creepy, masih jauh. Menjadi horor generik dengan jumpscare-jumpscare biasa pun terasa sekali banyak kesempatan-kesempatan yang dilewatkan begitu saja.
Pilihan struktur maju-mundur di film seharusnya menjadi cara untuk men-tease rasa penasaran penonton sejak awal film. Entah mengapa PUM memilih struktur maju-mundur yang alih-alih men-tease rasa penasaran, justru membuat rasa penasaran penonton terhadap sosok Minako sudah terbayar di paruh pertama film. Pun juga keputusan untuk mematikan salah satu karakter (potensial menjadi yang) utama di paruh yang sama. Masih diperparah oleh pilihan sikap karakter-karakter yang ganjil secara logika (jika tak mau dikatakan bodoh). Iya saya sadar ada kalanya film perlu melakukan pengkondisian dan pemakluman demi dramatisasi atau menjaga pace, tapi apa yang dilakukan di PUM ini sudah berada di bawah ‘toleransi’. I mean, di saat Anda bisa kabur  karena secara fisik baik-baik saja, kenapa memilih untuk berdiam saja tercengang melihat sosok sang pembunuh? 
Pada akhirnya, kita hanya bisa mencoba menikmati gelaran aksi tiap karakter melawan Minako dari awal hingga akhir film, tanpa bisa terkoneksi dengan satu pun karakter yang jumlahnya hingga belasan (potensi lainnya yang tersia-siakan), selain sekedar memahami sebab-akibat (klise) di permukaan terluar dari beberapa karakter yang diletakkan di lini terdepan.
Kehadiran para cast yang tergolong ‘segar’ dan punya potensi tak kalah besar juga harus luput menjadi salah satu kekuatan PUM. Miller Khan dan Hans Hosman yang diletakkan di lini terdepan sebenarnya tampil cukup baik meski tanpa kedalaman lebih dan dijatuhkan oleh kontinuiti emosi yang terasa timpang di banyak antar-adegan. Nicky Tirta, Natasha Gott, Gandhi Fernando, dan Wendy Wilson pun menampilkan emosi yang natural. Regina Rengganis dan Novinta Dhini cukup mencuri perhatian, terutama Regina yang punya wajah ‘unik’ dan punya potensi besar di genre horor menyusul Shareefa Daanish. Sayang keduanya hanya diberi jatah on-screen yang tergolong minim. Di lini berikutnya, ada Tia Muller, Ario Astungkoro, Reza Restapop, Aelke Mariska, dan Dayu Wijanto yang bisa jadi menarik tapi terbatasi oleh screen-time. 
Teknis PUM sebenarnya terlihat tergarap baik. Hanya saja belum mampu menutupi kekacauan yang ada. Yang terlihat paling menarik adalah sinematografi Rahul Hemnani dengan camera work yang cukup tereksplorasi. Terutama untuk adegan ‘hide-and-seek’. Sayangnya konsep adegan tersebut tidak tertata menarik ataupun menegangkan, sehingga upaya sinematografi dalam mengeksplorasi terasa tak berfungsi sebagaimana mestinya. Lighting yang terkesan terlalu konsisten justru membuat adegan-adegan yang seharusnya akan lebih ‘terasa’ jika lebih temaram menjadi biasa saja. Pun juga adegan yang memang agak temaram makin terlihat hard-grainy. Editing Herman Kumala Panca pun terasa kebingungan bagaimana meningkatkan tensi film lewat stock-stock gambar yang memang kurang berenergi. Pilihan struktur maju-mundur yang mungkin dimaksudkan untuk memberi variasi agar konflik terasa lebih dinamis justru membuat berbagai potensinya sebagai satu kemasan utuh gagal. Artistik Aek Bewava dan visual effect, terutama untuk transformasi boneka Minako menarik dan tampak apik. 
Untuk tata suara, saya masih sering mendapati dengan sangat jelas gerak bibir dan audio yang kurang in-sync. Musik Thoersi Argeswara mungkin memang terdengar generik, tapi setidaknya masih berhasil membangun tensi di banyak adegan. Theme song yang dibawakan Risa Saraswati yang terdengar creepy di bagian credit menjadi salah satu yang menarik dari banyak kekacauan yang ada.
Sebenarnya sangat disayangkan dengan berbagai potensi yang bisa membuatnya menjadi suguhan segar di genre horor film Indonesia, PUM melewatkan nyaris kesemuanya. Ada beberapa aspek yang menarik, termasuk isu kemanusiaan dan persahabatan yang dipertanyakan ketika dihadapkan pada pilihan keselamatan diri. Sayang masih belum cukup kuat untuk menutupi berbagai kekacauan yang terlihat di hasil akhir. Namun jika Anda sekedar mencari hiburan seru-seruan hide-and-seek atau kejar-kejaran tanpa memikirkan logika dan plot, PUM masih bisa dijadikan pilihan tontonan instan.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates