Thursday, September 21, 2017

The Jose Flash Review
Lucknow Central
[लखनऊ सेंट्रल]

Selain tema dasar cinta, ada dua tema yang sedang jadi trend di sinema Hindi; feminisme dan sistem hukum. Setelah Pink dan Jolly LLB, satu lagi film Hindi yang mencoba menyentil sistem hukum di tanah Hindustan dengan caranya sendiri. Bak perpaduan The Shawshank Redemption dan School of Rock (ya, setidaknya begitu menurut saya), Lucknow Central (LC) ditulis dan disutradarai oleh Ranjit Tiwari yang mana ini merupakan debut layar lebarnya setelah selama ini menjadi associate director dari D-Day, Hero, dan Katti Batti, dengan bantuan dari Aseem Arora yang dikenal sebagai penulis naskah serial populer, Uttaran. Menempatkan Farhan Akhtar (duologi Rock On!!, Zindagi Na Milegi Dobara, Bhaag Milkha Bhaag, dan Wazir), Diana Penty (Cocktail), Deepak Dobriyal (Tanu Weds Manu, Omkara, Prem Ratan Dhan Payo), Rajesh Sharma (Bajrangi Bhaijaan, M.S. Dhoni, Toilet: Ek Prem Katha), dan Ronit Roy (Student of the Year, Kaabil, Sharkar 3, Munna Michael), LC punya cukup banyak daya tarik untuk disimak. 

Mimpi Kishan Mohan Girhota untuk membentuk band dan punya karir musik yang gemilang harus terkubur ketika ia dituduh membunuh seorang opsir polisi karena berada pada tempat dan waktu yang salah. Alibinya semakin habis ketika sahabatnya diancam untuk bersaksi dusta memberatkannya. Secercah harapan sedikit terlihat ketika dipindahkan ke penjara Lucknow yang berisi penjahat-penjahat kelas kakap meski dihadapkan pada ancaman hukuman mati. Kebetulan ada LSM yang berniat memberikan kesempatan kedua bagi para narapidana dengan mengadakan kontes band musik. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kishan untuk kabur dari penjara sekaligus mewujudkan cita-cita lamanya. 
Maka dipilihlah beberapa narapidana yang dianggap punya kelebihan dalam memuluskan rencana kabur; Victor, Dikkat, Pandit, dan Perminder. Sipir penjara, Jailor, mencium akal-akalan Kishan dan kawan-kawan. Sementara perwakilan dari LSM, Gayatri Kashyap, mempercayai dan mendukung latihan mereka untuk memenangkan kontes. Mengingat background para ‘anggota’-nya yang bisa dikatakan nol dalam bermusik, adalah PR tersendiri. Kishan sendiri pada akhirnya dihadapkan pada pilihan cita-cita yang sulit; kebebasan dengan melarikan diri dari penjara atau sekedar membentuk band dan berkarya lewat musik.
Perpaduan tema prison break dan musik yang unik menjadi daya tarik utama LC. Namun ternyata tak sampai di situ saja, naskahnya pun tergarap dengan keseimbangan elemen-elemen yang baik meski punya alur plot yang tergolong generik dan arahnya mudah ditebak (apalagi di tema pursuing passion). Mulai perkembangan karakter utama, Kishan, yang dibawakan dengan kharisma penuh dari Farhan Akhtar hingga mampu mengundang simpati penonton secara konsisten sejak awal hingga akhir film, hingga investasi untuk karakter-karakter pendukung yang lebih dari cukup tanpa harus terasa tumpang tindih satu sama lain maupun dengan karakter utama. Motivasi yang sederhana tapi membumi dan dibawakan dengan emosi secukupnya (sama sekali tak terasa overdramatic) dari para aktor; Deepak Dobriyal (Victor), Rajesh Sharma (Pandit), Inaamulhaq (Dikkat Ansari), dan Gippy Grewal (Parminder), berhasil menggerakkan penonton secara logis dan thoughtful. Tak ketinggalan dukungan dari Diana Penty (Gayatri) dan Ronit Roy (Jailer) yang cukup mencuri perhatian di balik porsi yang lebih terbatas.
Ngomong-ngomong soal sistem hukum, LC tak hanya menyentil soal bagaimana hukum (India) bisa sekeji itu memvonis terdakwa dengan hukuman maksimal (baca: mati) dengan dukungan bukti yang sangat minim dan stigma serba negatif dari para penegak hukum. Sebaliknya di sisi kaum narapidana, ia menjadi pengingat sekaligus penggugah, mana pilihan yang lebih substansial; menjadi pribadi yang lebih berarti (dalam konteks Kishan, membentuk band musik dan tampil) atau lolos dari hukuman tapi akan selalu lari seumur hidup. Yang tentu saja, artinya juga mustahil mewujudkan mimpi bermusik. Lengkap dengan selipan quote dari Orson Welles, “Nobody gets justice – People get good luck or bad luck”. Formulaic mungkin, tapi tergarap sangat solid.
Naskah yang secara keseluruhan terkesan solid memang masih harus mengkompromikan celah-celah di banyak kesempatan, terutama mengenai kesempatan-kesempatan kabur yang dilewatkan demi memperlancar jalinan plot utamanya sebagaimana telah disusun. Untung saja kemasan yang begitu charming, heart-warming, uplifting, bahkan tak jarang, fun, serta value-value yang menggugah di balik realita yang pahit, kekurangan-kekurangan minor ini masih bisa ditolerir.
Tak hanya dari konsep dan naskah, teknis-teknis LC pun tergarap mumpuni. Sinematografi Tushar Kanti Ray mengeksplorasi desain-desain produksi Subrata Chakraborthy dan Amit Ray yang detail dan cukup megah menjadi terasa begitu sinematis dan bersinergi kuat dengan kebutuhan-kebutuhan emosional adegan. Editing Charu Shree Roy menggerakkan plot dengan cukup seimbang meski di beberapa bagian minor hasilnya masih terasa kurang komunikatif. Untung saja tidak sampai mempengaruhi jalinan plot utama film secara keseluruhan. Musik gubahan Arjunna Harjaie, Sukhwinder Singh, Mychael Danna, Rochak Kohli, dan Tanishk Bagchi terdengar cukup memperkuat emosi-emosi adegan meski mungkin tak begitu memorable dan beberapa terdengar mirip dengan nomor-nomor musikal Hindi populer lainnya. Namun beberapa nomor cukup berkesan, seperti Meer-E-Kaarwan dan Rangdaari yang manis, Teen Kabootar yang asyik dan seru (terutama faktor koreografi dan dukungan camera work), serta Kaavaan Kaavaan (dari Monsoon Wedding) yang sangat festive sebagai penampilan klimaks.
LC mungkin bukan karya yang sempurna. Namun berkat kemasan yang charming, fun, sekaligus thoughtful dalam mengangkat isu penegakan hukum, serta penggarapan dramatisasi pas sehingga tepat sasaran, LC menjadi salah satu sajian sinema Hindi yang sangat sayang jika dilewatkan tahun ini.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates