Sunday, September 24, 2017

The Jose Flash Review
The LEGO Ninjago Movie

Kesuksesan The LEGO Movie (TLM - 2014) dan The LEGO Batman Movie (TLBM - 2017) baik secara angka box office maupun resepsi kritikus membuat Warner Bros. makin percaya diri untuk terus mengembangkan franchise ini bersama Lin Pictures, Vertigo Entertainment, dan studio animasi, Animal Logic. Installment ketiga dipilih The LEGO Ninjago Movie (TLNM) yang merupakan franchise orisinil LEGO dari mainan kepingan-kepingan blok LEGO. Pernah dikembangkan menjadi serial di channel Cartoon Network dan video game, wajar jika franchise ini sudah layak mendapatkan film layar lebarnya sendiri. Meski harus diakui pilihan ini cukup beresiko mengingat LEGO Ninjago belum menjadi franchise yang benar-benar dikenal luas seperti halnya Batman. Bangku penuyutradaraan kali ini dipercayakan kepada Charlie Bean, Paul Fisher, dan Bob Logan yang masing-masing punya pengalaman lebih dari cukup di proyek animasi. Daya tariknya makin bertambah dengan keterlibatan Jackie Chan yang tak hanya menjadi voice talent, tapi juga tampil secara live action. Masih ditambah Dave Franco, Kumail Nanjiani, Michael Peña, Olivia Munn, dan Justin Theroux. 

Alkisah ada sebuah kota metropolis bernama Ninjago yang ketentramannya kerap diganggu penjahat bertangan empat bernama Garmadon beserta pasukan canggihnya. Siapa sangka sang putra justru hanyalah anak SMA berusia 16 tahun biasa yang kerap jadi bahan bullyan dan ejekan satu sekolah, Lloyd. Hanya ada Jay, Kai, Nya, Zane, dan Cole yang menjadi sahabat-sahabat satu geng. Siapa sangka pula ternyata mereka berenam adalah grup superhero berkedok kostum ninja warna-warni yang mewakili elemen-elemen dasar dan punya robot raksasa masing-masing yang siap menghadang tiap rencana jahat Garmadon. 
Satu penyerangan membuat Lloyd dan grup Ninjago-nya harus menemukan senjata rahasia atas petunjuk Master Wu yang bijaksana, yang tak lain dan tak bukan adalah saudara Garmadon, atau dengan kata lain, paman Lloyd. Perjalanan ini juga yang membuat Garmadon sadar selama ini belum cukup berguna bagi Lloyd, hingga memutuskan untuk menebus momen-momen yang terlewatkan. Namun proses ini harus terusik oleh para jendral perang Garmadon yang berniat balas dendam karena telah dicampakkan begitu saja setelah dianggap tak berguna.
Sejalan dengan versi seri mainan dan serialnya, TLNM mengusung karakter-karakter sentral dan bangunan universe khasnya ke layar lebar. Namun tak perlu khawatir bagi penonton yang belum pernah mengikuti serialnya. TLNM bak sebuah kisah perkenalan ulang universe Ninjago dengan berfokus pada hubungan father-and-son antara Lloyd dan Garmadon, dengan sedikit bumbu menemukan ‘kekuatan’ seperti yang pernah digunakan Kung Fu Panda. Bahkan menggunakan istilah yang sama, ‘inner peace’. 
Sayang, fokus hubungan antara Lloyd-Garmadon membuat porsi tentang keenam Ninjago sebagai satu tim terbatas. Bisa dibilang, hanya dimanfaatkan untuk sekedar syarat ada sebagai franchise LEGO Ninjago dan drive adegan-adegan aksinya. Penonton yang tidak familiar dengan mainan maupun serialnya pun mungkin tidak akan mengingat nama-nama karakternya selain representasi elemen masing-masing saja sebagai konsep besar, sebagaimana Power Rangers. Agaknya mustahil untuk terkoneksi secara emosi ataupun sekedar simpati dari penonton. Namun tentu bukan itu tujuan utama TLNM. Dengan mudahnya penonton akan terkoneksi secara emosi dengan hubungan antara Lloyd dan Garmadon. Anda akan dibuat tersenyum, tertawa, dan berujar, “aww so sweet”. Tak peduli Anda masih anak-anak ataupun sudah menginjak usia dewasa.
Sementara sebagai sebuah experience hiburan, TLNM masih memanjakan mata dan telinga lewat bangunan universe yang sangat imajinatif dan megah meski pada akhirnya penonton menyadari kesemuanya hanyalah susunan kepingan-kepingan LEGO. Tentu dengan dukungan pilihan shot-shot dan camera work, semuanya semakin terlihat megah dan seru, membentuk energi serta pace film yang dinamis secara keseluruhan. Malah menurut saya, lebih seru daripada remake Power Rangers versi 2017 lalu. Editing David Burrows, Garret Elkins, Ryan Folsey, Julie Rogers, dan John Venzon terlihat sudah berupaya maksimal untuk menjaga pace sepanjang film dengan keseimbangan yang pas pula, meski sulit untuk tak mengorbankan salah satu elemennya. Untung saja secara kemasan keseluruhan, TLNM masih sangat enjoyable untuk diikuti dan dinikmati, seperti installment-installment LEGO Movie sebelumnya. Termasuk untuk urusan selera humor yang juga masih setipe dan setara. 
To be honest, voice-voice talent di TLNM tak ada yang terdengar terlalu istimewa selain sekedar cukup menghidupkan karakter-karakternya menjadi menarik, terutama dalam menuturkan joke-joke-nya. Overall, masih setara dengan voice-voice talent di TLM dan TLBM. Namun tentu saja di antara semua, Dave Franco, Jason Theroux, dan Jackie Chan terdengar yang paling menarik. Selain porsi yang melebihi karakter-karakter lain, tapi juga punya keunikan-keunikan tersendiri dalam menyampaikan beberapa dialog.
Selain skor musik Mark Mothersbaugh yang meski terdengar serba generik tapi lebih dari cukup dalam membuat adegan-adegannya menjadi lebih megah dan seru, memasukkan lagu-lagu populer seperti The Power dan It’s the Hard-Knock Life dalam versi seruling dari Greg Pattillo menjadi elemen yang menarik sekaligus menghibur. 
Seperti halnya TLM dan TLBM, TLNM menghadirkan format 3D yang layak (bahkan menurut saya, wajib) untuk dipilih sebagai format terbaik. Selain kedalaman ruang yang membuat set-set susunan keping-keping LEGO tampak lebih megah dan indah, beberapa pop-out gimmick, dan bahkan momentum break-out-the frame, begitu memanjakan secara visual, di samping sound mixing surround yang juga tertata dengan kedalaman ruang yang baik dan terdengar serba dahsyat.
Jika Anda menikmati TLM maupun TLBM, dengan mudah Anda setidaknya menikmati apa yang disuguhkan TLNM. Apalagi jika Anda termasuk fans Jackie Chan, TLNM punya pembeda yang tergolong istimewa dibandingkan film-film sebelumnya. Sedikit mengingatkan saya akan The Forbidden Kingdom (yang juga dibintangi Jackie Chan), tapi dengan treatment yang jauh lebih baik dan korelasi yang lebih menarik sebagai setup plot utama. Secara pribadi, dengan selera humor yang cocok dengan saya, heart  factor dengan kehangatan setara (bagi beberapa penonton mungkin bisa jadi menganggapnya sebagai pengulangan yang menjemukan), adegan-adegan aksi yang seru nan megah, dan aman untuk penonton anak-anak berapapun usianya, TLNM cocok dijadikan pilihan tontonan yang sangat menghibur bagi seluruh anggota keluarga. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates