Monday, September 11, 2017

The Jose Flash Review
Jembatan Pensil

Pendidikan menjadi salah satu perhatian terbesar di industri film Indonesia. Di satu sisi ada pihak yang mengharapkan konten hiburan yang mendidik, sementara di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa film tak selalu harus mendidik (dalam konteks mendikte). Maka tak heran jika kemudian tema pendidikan menjadi semacam lahan basah di perfilman kita. Didukung dengan keberhasilan (baik secara komersial maupun resepsi kritk) film bertema pendidikan yang memang digarap baik, seperti Laskar Pelangi (2008), film bertemakan pendidikan cenderung lebih mudah untuk dipromosikan. Tinggal menggandeng dan ‘membujuk’ sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk menggelar acara nonton bareng, jumlah penonton yang tinggi pun dengan mudah diraih. Mungkin begitu yang ada di benak investor ketika setuju turut ambil bagian dalam proyek perdana Grahandhika Visual, Jembatan Pensil (JP). Dari naskah yang disusun oleh Exan Zen dan disutradarai oleh Hasto Broto (Diaspora Cinta di Taipei dan Surga Menanti), JP didukung oleh nama populer seperti Kevin Julio, Agung Saga, Alisia Rininta (masih ingat penampilannya sebagai Sophie di 7 Misi Rahasia Sophie?), Andi Bersama, hingga Meriam Bellina untuk menambah daya tariknya.

Murid-murid di sekolah gratis Kecamatan Towea, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara baru saja mendapat kabar akan kedatangan Ibu Aida, putri Pak Guru yang baru saja lulus kuliah di Jakarta dan berniat menggantikan sang ayah mengajar di sekolah gratis. Tentu ini menggembirakan bagi para siswa yang harus berjalan jauh hingga melewati jembatan reot untuk menggapai pendidikan gratis; Nia, Inal, Yanti, dan Azka. Begitu juga Ondeng yang mengalami keterbelakangan mental dan sering di-bully oleh Attar. Sayang keceriaan mereka menyambut guru baru tak berlangsung lama. Ayah Ondeng, Pak Pamone, mendadak harus meninggalkan Ondeng sebatang kara untuk selama-lamanya saat berlayar mencari ikan. Beruntung masih ada Gading, seorang pemuda yang merasa berhutang budi pada Pak Pamone, yang bersumpah untuk menjaga Ondeng. 
Suatu hari jembatan yang selalu dilewati Nia, Inal, Yanti, dan Azka sehari-hari untuk ke sekolah akhirnya runtuh juga. Ondeng, Ibu Aida, dan Gading memutuskan untuk membantu membangun kembali jembatan tersebut agar teman-teman mereka bisa kembali bersekolah.
Dari judul dan konsep yang disampaikan sebagai komoditas utama, JP sebenarnya cukup menarik untuk disimak. Sayangnya, ternyata komoditas tersebut hanya sebatas kaver di luar saja. Isinya tak lebih dari sekedar (lagi-lagi) eksploitasi kaum difabel sebagai tearjerker dengan kedok pendidikan. Jika itu belum cukup buruk, pengembangan plot JP dilakukan tanpa koherensi sama sekali sejak awal hingga akhir film. JP dibuka dengan adegan penjemputan Aida di dermaga yang entah kenapa dibuat bertele-tele hingga menghabiskan durasi nyaris setengah jam sendiri dan melibatkan karakter Gading dan Arman. Mungkin maksud hati sebagai setup konflik asmara antara Gading yang hanya nelayan miskin pembantu Pak Pamone dan Arman yang bekerja di peternakan dengan penghasilan yang lebih jelas. Memang kemudian di-follow up dengan kehadiran konflik dari Farida, ibu Aida (yang jujur saja, lebih realistis meski dari kacamata awam mungkin terkesan antagonis), tapi hanya berhenti di situ saja. Hingga akhir film, tak pernah ada konklusi ataupun penyelesaian dari sub-plot Aida dan hubungannya dengan Gading maupun Arman.
Along the way, fokus plot berpindah ke karakter Ondeng yang menjadi bahan eksploitasi utama. Bisa dikatakan plot Ondeng inilah yang mendominasi porsi film. Tentu saja dengan keadaannya yang keterbelakangan mental dan didukung konsep ‘sudah jatuh, tertimpa tangga, kecemplung di got’, Ondeng diharapkan mampu menjadi modal tearjerker. Bagi penonton yang terlalu mudah dibuat tersentuh, mungkin masih bisa berhasil. Tapi bagi penonton yang tahu betul bagaimana ciri-ciri orang dengan keterbelakangan mental, akting Didi Mulya sebagai Ondeng masih jauh dari realistis ataupun natural. Dengan pengulangan kalimat dialog dan cara menyampaikan yang berisik, simpati saya lama-kelamaan berubah menjadi perasaan terganggu. Maaf, tapi pada akhirnya saya harus setuju dengan pilihan-pilihan sikap dari karakter Attar yang sejatinya diposisikan sebagai karakter antagonis kepada Ondeng. He’s way too annoying!
Lantas berapa persen porsi komoditas utamanya; pendidikan? Memang seharusnya tema pendidikan sebagaimana ia dijual mendapatkan porsi terbesar. Apalagi dengan setup cerita tentang upaya mencapai sekolah gratis yang sempat ditampilkan dalam adegan. Dari situ saja pengembangan ceritanya seharusnya berpotensi bisa jauh lebih solid dan berbobot di balik kesederhanaannya. Namun JP agaknya tak ingin (atau kesulitan?) untuk mengembangkan sisi ini selain sekedar menampilkan pengulangan adegan ketegangan menyeberang jembatan sampai tiga kali. Toh ternyata sungai yang dilewati ternyata tergolong dangkal. Well, yang penting drama. Begitu mungkin yang ingin ditekankan. Topik ‘belajar dari alam’ yang turut menjadi tagline film pun ternyata hanya menjadi sempilan di salah satu adegan saja, tanpa punya korelasi terhadap film secara keseluruhan.
Speaking of drama, JP agaknya layak mendapatkan predikat ‘raja drama’ di film Indonesia tahun ini. Bagaimana tidak? Lihat saja bagaimana ia menggunakan elemen halilintar dahsyat untuk memperpekat adegan-adegan dramatisnya. Tiga kali di adegan yang berbeda! Bahkan lebih dahsyat dari halilintar pengiring dramatisasi di Petak Umpet Minako yang bergenre horor! 
Selain penampilan overacting dari Didi Mulya, sebenarnya penampilan dari aktor-aktris lainnya tergolong baik. Ambil contoh Alisia Rininta yang kharisma aktingnya semakin mencuri perhatian sebagai Aida. Begitu juga Kevin Julio yang tampil cukup stabil dan natural, tanpa akting drama berlebihan, setelah di Sweet 20, Andi Bersama sebagai Pak Guru, dan Deden Bagaskara sebagai Pamone yang punya kharisma akting lebih dari cukup dalam menghidupkan peran masing-masing. Penampilan aktor-aktris ciliknya pun menunjukkan bakat yang cukup besar. Mulai Nayla D. Purnama, Angger Bayu, Permata Jingga, Azka Marzuqi, hingga Vickram Priyono. Sementara Meriam Bellina terlihat santai (atau sebenarnya malah ogah-ogahan?) sebagai Farida. Tak buruk dan sesuai kebutuhan emosi, tapi jelas terlihat ada semacam keengganan untuk terlihat serius.
Divisi teknis pun JP tergolong tertata cukup baik. Tata kamera Ilham Firdaus dengan camera work sinematis, terutama di shot-shot panoramic dan aerial yang ketajamannya terjaga. Begitu juga color tone dengan warna-warni vibrant dan mendukung feel cinematic yang memanjakan mata. Editing Ricardo Tinangon menyusun adegan-adegan dengan porsi yang cukup seimbang dan tetap menjaga kebutuhan emosinya meski memang sulit untuk menutupi kekurangan terbesarnya, naskah. Musik dari Anwar Fauzi terdengar cukup variatif dan memberi warna lebih pada kebutuhan-kebutuhan adegannya meski tak sampai menjadi sesuatu yang kelewat menonjol. Theme song Sahabat dan Ke Towea cukup catchy meski liriknya terkesan obsolete untuk jaman sekarang.
Dengan hasil akhir seperti JP, saya kembali mempertanyakan sisi ‘mendidik’ dari film-film yang selama ini diproduksi. Apakah penonton kita masih dengan mudah ‘ditipu’ oleh kedok kemasan nilai moral. Apakah dengan niat baik saja cukup, lantas mengabaikan kecerdasan? Menurut saya pribadi sih, film yang mendidik sejatinya bukan hanya soal nilai-nilai moral yang disampaikan secara eksplisit, tapi juga mengajak penontonnya punya pola pikir dengan koherensi yang baik. Jika tidak, tak heran selama ini masyarakat kita masih sering termakan oleh analogi sumbang dan tidak nyambung dalam menanggapi berbagai konflik sehari-hari.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates