Thursday, September 7, 2017

The Jose Flash Review
It (2017)

Sebagai salah satu penulis novel paling produktif dan karyanya banyak diangkat ke layar lebar, layaklah jika tiap kali kemunculan film adaptasi Stephen King menjadi daya tarik tersendiri. 2017 agaknya menjadi tahun keemasan bagi King. Sebulan lalu baru saja kita disuguhi The Dark Tower, kini kita sudah dihadapkan pada It yang sebelumnya sudah pernah diangkat ke format mini seri yang terdiri dari dua episode pada tahun 1990 dan melambungkan nama Tim Curry sebagai salah satu ikon horor legendaris lewat karakter badut Pennywise. Jika The Dark Tower lalu sempat mengecewakan banyak pihak, maka It bisa jadi pengobat lara yang cukup menjanjikan. Naskahnya diadaptasi oleh kolaborasi Chase Palmer, Cary Fukunaga (Beasts of No Nation dan juga menyutradarai Jane Eyre), serta Gary Dauberman (Annabelle, Annabelle: Creation, dan upcoming, The Nun). Sementara bangku penyutradaraan diduduki oleh Andy Muschietti (Mama) setelah Fukunaga mengundurkan diri karena masalah budget dan perbedaan visi, terutama karena studio menginginkan rating film yang lebih ‘ramah’. Jajaran cast-nya tergolong pendatang baru, kecuali sosok ikonik Pennywise yang jatuh kepada Bill Skarsgård (terakhir kita lihat aksinya di Atomic Blonde). Di bulan yang penuh dengan film horror, It menjadi salah satu yang dinanti-nantikan.

Bill merasa bersalah karena sang adik, Georgie, hilang setelah mengejar perahu kertas yang dibuatnya. Ternyata Georgie bukanlah satu-satunya anak hilang di Derry, Maine. Bill lantas mengajak sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam geng The Losers; Richie, Eddie, dan Stanley, untuk mencari Gerogie di lokasi yang diyakini sebagai hilir dari lokasi terakhir terlihat. Bergabung dengan mereka, Ben, anak baru yang gemar nongkrong di perpustakaan sehingga tahu banyak tentang sejarah Kota Derry yang bisa jadi berkaitan dengan kasus anak hilang selama ini, serta Beverly, siswi yang menjadi bahan olok-olok di sekolah dan terancam pelecehan dari sang ayah. Penyelidikan dan pencarian mereka berujung pada sosok badut misterius bernama Pennywise yang ternyata selama ini menjadi dalang dari banyak kasus anak hilang. Bill dan krunya harus berhadapan langsung dengan Pennywise.
Diangkat dari novel yang dirilis tahun 1986, It versi 2017 memilih setia kepada materi aslinya. Bagusnya, naskah berhasil menyeimbangkan dua konsep yang diusung novel, yaitu horor dan petualangan persahabatan, sebagaimana konsep novelnya. Di saat banjir horor murni, kombinasi ini menjadi sesuatu yang segar untuk dinikmati. Bagi penonton yang mengharapkan sajian horror tak perlu khawatir karena Muschietti semakin membuktikan diri bahwa dirinya memang piawai membangun suasana ngeri lewat desain produksi, akting para aktor, dan yang paling penting, timing yang tepat. Alhasil, adegan-adegan horor It tak hanya dihasilkan lewat pembangunan atmosfer creepy tapi juga kejutan-kejutan yang berkali-kali membuat penonton jump-off-the-seat, atau sekedar memicingkan mata. Mungkin tak sampai jadi sangat mencekam ataupun disturbing, tapi yang jelas lebih dari cukup untuk membuat penonton ‘bereaksi’ secara spontan.
Sementara paduan petualangan persahabatan pun tak kalah menariknya. Tiap karakter dan koneksi antar-karakternya terjalin dalam plot yang mengalir lancar dan pengembangan dengan pace yang pas pula. Menjadikan kisah persahabatannya sehangat dan se-fun serial Stranger Things (yang memang terinspirasi sekaligus bentuk tribute Duffer bersaudara setelah gagal ditunjuk menggarap remake It). Selain sebagai character investment yang efektif, plot persahabatan yang bergerak maju ini (berbeda dengan versi miniseri yang menggunakan alur maju-mundur) menjadi kekuatan tersendiri sebagai pembangun plot petualangan maupun keseluruhan film secara utuh. Tak banyak yang bermain-main di konsep tersebut dewasa ini, semakin sedikit lagi yang berhasil melakukannya.
Versi novel It sebenarnya memuat konten yang kelewat sadis dan kelam (melibatkan pelecehan seksual dan kekerasan), terutama melibatkan (dilakukan oleh dan kepada) anak-anak pra-remaja. It versi miniseri melakukan adaptasi yang tergolong lembut, sementara versi film 2017 ini lebih berani untuk menampilkan kekerasan yang ekstrim, seperti misalnya bullying yang tergolong agak brutal, slasher yang cukup eksplisit, hingga gestur yang mengimplikasikan pelecehan seksual. Kesemuanya ditampilkan dengan jelas tapi tak terkesan eksploitatif berlebihan. Fokusnya tetap terjaga pada relasi antar karakter dan upaya melawan ketakutan secara umum. Kendati demikian, It tetap bukan merupakan sajian yang pantas disaksikan oleh anak-anak.
Selain Bill Skarsgård yang meski belum sampai menggantikan kelegendarisan Tim Curry sebagai Pennywise tapi lebih dari cukup dalam menampilkan kengerian sekaligus sisi kekanakan dalam karakter, aktor-aktris pra-remaja lainnya tampil mengesankan di balik penulisan karakter yang memang memberi porsi serba seimbang bagi mereka. Dengan mudah penonton bersimpati kepada karakter Bill yang dihidupkan oleh Jaeden Lieberher, Ben Hanscom yang dibawakan oleh Jeremy Ray Taylor, Mike Hanlon oleh Chosen Jacobs, Richie Tozier oleh Finn Wolfhard, Stanley Uris oleh Wyatt Oleff, dan tentu saja yang paling mencuri perhatian saya, Eddie Kaspbrak oleh Jack Dylan Grazer. Tentu penampilan Sophia Lillis sebagai Beverly Marsh, satu-satunya karakter perempuan dalam geng yang mengingatkan saya akan sosok Molly Ringwald di The Breakfast Club dan Sixteen Candles. Selain kharisma akting dan aura keanggunannya, ada range emosi cukup lebar yang berhasil dibawakannya. Penampilan Jackson Robert Scott sebagai Georgie dan Nicholas Hamilton sebagai Henry Bowers pun cukup mengesankan di balik porsi yang tak begitu banyak.
Teknis It terasa tertata dengan begitu maksimal dalam mendukung kebutuhan-kebutuhan konsepnya. Mulai sinematografi Chung Chung-hoon (langganan Park Chan-wook) yang seperti biasa, mengeksplorasi camera work dan angle-angle sesuai kebutuhan dramatis maupun horor-nya, editing Jason Ballantine yang membuat laju plot kombinasinya berjalan seimbang tanpa terkesan saling tumpang-tindih serta momentum-momentum yang pas, hingga score music Benjamin Wallfisch yang mempersembahkan sound-sound eerie a la film horor klasik lengkap dengan efek distorted dan score-score petualangan blockbuster khas ’80-an. Pemilihan soundtrack yang fun untuk melengkapi konsep adventurous-nya sesuai era pun tergolong menarik. Seperti Six Different Ways dari The Cure, Antisocial dari Anthrax, Dear God dari XTC, hingga Hangin’ Tough dari New Kids On The Block yang secara cerdas dikaitkan dengan salah satu karakter. Terakhir, sound design yang menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun suasana horor, termasuk pemanfaatan fasilitas surround yang terdengar begitu maksimal di tiap kanal.
Menawarkan warna yang sedikit berbeda di genre horor tahun ini, It jelas menjadi suguhan yang segar. Tak hanya mengerikan dan bikin sport jantung, tapi juga mengajak asyik seru-seruan bersama geng The Losers (yang memang membuat penonton tak merasa seperti kaum pecundang ketika menikmati jalinan plotnya). Menarik untuk menantikan sejauh mana konsepnya akan dikembangkan di Chapter 2 kelak. Sambil menantikannya, It wajib dialami di layar lebar dengan fasilitas mumpuni.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates