Tuesday, September 12, 2017

The Jose Flash Review
The Exception

Romansa berlatarkan kejadian nyata, terutama Perang Dunia II, sudah jamak dilakukan. Tak heran, dengan perpaduan demikian, film bisa menarik minat audiens yang lebih luas terutama dari segi jenis kelamin. Lagipula sumber materinya juga sudah banyak di ranah novel sehingga tak perlu susah-susah mencari patokan dasar. Salah satunya adalah novel The Kaiser’s Last Kiss karya Alan Judd yang diterbitkan pertama kali tahun 2003 dan kemudian diadaptasi ke layar lebar tahun 2016. Dengan naskah adaptasi oleh Simon Burke yang sebelumnya menulis naskah FTV dan serial TV dan arahan dari sutradara Inggris, David Leveaux yang mana ini merupakan debut film panjangnya, The Exception didukung nama-nama berkualitas seperti Christopher Plummer, Jai Courtney (Suicide Squad), dan Lily James yang belum lama ini kita lihat di Baby Driver

Tentara Jerman, Stefan Brandt dikirim untuk menjadi bodyguard pribadi Kaisar Jerman yang sedang diasingkan, Wilhelm II. Sang Kaiser hidup tenang di pengasingan sebuah kastil di Belanda bersama sang istri, Princess Hermine. Atasan Brandt mencurigai adanya mata-mata Belanda yang mengawasi Sang Kaiser dan meminta Brandt untuk menyelidikinya. Brandt malahan jatuh cinta kepada salah satu pelayan pribadi Kaiser, Mieke yang ternyata adalah seorang Yahudi. Cinta Brandt berbalas dan hubungan terlarang mereka terus berlanjut hingga terendus oleh Princess Hermine. Alih-alih mengusir mereka berdua, Kaiser Wilhelm II justru membantu kabur ketika pihak NAZI Jerman sudah membongkar identitas Mieke. Apalagi Kaiser Wilhelm II sadar bahwa undangan Hitler untuk pulang ke Jerman hanyalah jebakan untuk membongkar siapa-siapa saja yang mendukung restorasi monarki. 
Formula penggabungan tema romantis di tengah-tengah ketegangan politik yang ditawarkan The Exception ternyata tak seperti yang digambarkan oleh judulnya. Porsi masing-masing elemen tergolong seimbang, tapi justru menjadikannya terasa bingung ingin membawa film lebih ke arah mana. Pengembangan plot romantis dan politiknya pun termasuk amat sangat generik. Lantas poin terpentingnya tentang pilihan menjalankan tugas atau kata hati (yang ternyata mewakili judul film) hanya tersampaikan secara verbal semata, tanpa terasa menjadi highlight utama secara keseluruhan visual. Dengan kemasan yang sangat generik dan formulaic, sisi romantis antara Brandt dan Mieke juga tak pernah terasa begitu hangat ataupun mendalam. Apalagi beberapa adegan telanjang dan intim yang harus mengalah oleh ‘revisi’ LSF. Alhasil, sulit bagi penonton untuk bersimpati terhadap hubungan antara keduanya. Bisa jadi malah simpati terhadap karakter Kaiser Wilhelm II yang dilematisnya lebih menarik di balik porsi yang seadanya berkat kharisma akting Christopher Plummer yang memang terasa paling kuat.
Penampilan Jai Courtney sebagai Brandt dan Lily James sebagai Mieke bukannya tak bagus. Hanya saja penulisan karakter mereka tak membuatnya terasa cukup menarik. Masih pula ditambah kharisma akting keduanya sebagai lead masih sekedar fairly good. Sementara di lini pendukung, Janet McTeer sebagai Princess Hermine juga menunjukkan kharisma akting yang kurang lebih setara. Mungkin Eddie Marsan yang sedikit lebih menarik lewat sosok dingin Heinrich Himmler.
Teknis The Exception tergolong baik sebagaimana dibutuhkan sesuai setting-nya. Mulai sinematografi Roman Osin yang terasa elegan dengan tetap memperhatikan intensitas dan emosi-emosi adegan, editing Nicolas Gaster yang menggerakkan plot dengan lancar sekaligus menjaga keseimbangan elemen-elemen plot, desain produksi Hubert Pouille yang meski tak sampai ‘exceptional’, tapi lebih dari cukup dalam menghidupkan setting waktu dan lokasinya, hingga musik dari Ilan Eshkeri yang mengiringi adegan-adegannya jadi lebih hidup.
Mengusung tema penggabungan drama romantis cinta terlarang berlatar kondisi politik Perang Dunia II, The Exception masih berada level yang kurang lebih sama dengan film-film bertema sejenis. Belum sampai sekuat dan seberkesan, sebut saja Zwartboek dari Paul Verhoeven, Atonement, atau bahkan Phoenix yang dibintangi Nina Hoss. Namun masih layak untik diikuti, terutama bagi penonton yang memang menyukai genre dan tema sejenis. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates