Friday, September 15, 2017

The Jose Flash Review
Detroit

Jika Tragedi Mei 1998 menjadi salah satu lembar sejarah terkelam Indonesia, Amerika Serikat pun punya tragedi konflik sosial serupa. Juli 1967 di Kota Detroit, Michigan, terjadi kerusuhan bernuansa rasialis selama berhari-hari yang memakan korban 39 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Menjelang peringatan 50 tahun salah satu sejarah terkelam Amerika Serikat, sutradara Kathryn Bigelow kembali mengajak penulis naskah Mark Boal kembali berkolaborasi setelah kesuksesan The Hurt Locker dan Zero Dark Thirty di berbagai ajang penghargaan internasional. Detroit, tajuk film drama thriller historis yang mereka ulang salah satu kejadian paling mendebarkan di tengah-tengah panasnya kerusuhan rasialis di Detroit. Meletakkan John Boyega yang makin populer pasca perannya sebagai Finn di Star Wars: The Force Awakens, Will Poulter, Algee Smith, dan bintang serial Game of Thrones, Hannah Murray, Detroit agaknya mencoba sekali lagi peruntungan Bigelow dan Boal di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional. Tak terkecuali Golden Globe dan Academy Awards.

Dibuka dengan sejarah singkat bagaimana Detroit menjadi salah satu kawasan pemukiman kulit hitam padat, penonton kemudian diajak ke kejadian 23 Juli 1967. Polisi menggerebek sebuah klub malam ilegal dimana sedang ada perayaan kaum veteran kulit hitam yang baru kembali dari perang. Tak terima, beberapa warga melempari mobil polisi dan mulai menjarah tokot-toko yang ada di sekitar mereka. 
The Dramatics, grop vokal R&B yang sedang menantikan giliran tampil di depan petinggi Motown Records, harus menjadi salah satu korban. Saat penampilan mereka tinggal selangkah lagi, venue dibubarkan oleh polisi. Ketika perjalanan pulang pun, bus mereka dilempari batu hingga harus terpisah. Sang vokalis utama, Larry Reed dan temannya, Fred Temple, memutuskan untuk menginap sementara di Algiers Motel sampai ketegangan mereda. Pertemuan dengan dua wanita kulit putih, Julie Ann dan Karen, yang mempertemukan mereka dengan Carl Cooper dan Aubrey Pollard, ternyata berujung tragedi yang tak kalah mencekam serta mengancam nyawa. Carl iseng menembaki polisi yang sedang berjaga dengan starter pistol (pistol kosong yang digunakan untuk menandai permulaan suatu lomba). Akibatnya beberapa polisi langsung menggerebek hotel dan menginterogasi mereka satu per satu secara brutal. Di antaranya adalah Philip Krauss yang beberapa jam sebelumnya tersandung kasus penembakan terhadap penjarah dan rupa-rupanya meluapkan dendam kepada mereka yang berada di dalam hotel. Melvin Dismukes, seorang satpam swasta berkulit hitam yang turut mengawasi jalannya interogasi pun tak berani berbuat banyak selain menjadi saksi bisu dan berusaha semaksimal mungkin agar keadaan tak semakin memburuk hingga jatuh korban.
Merekonstruksi kejadian utamanya, Boal dan Bigelow mencoba menjelaskan dari pangkal bagaimana warga kulit hitam di Kota Detroit hingga menyulut ketegangan berbau rasialis yang berujung tragedi. Penonton seolah diajak memahami sudut pandang warga kulit hitam yang mengalami langsung di lapangan. Tak sepenuhnya memihak warga kulit hitam, ada pula pilihan sikap yang secara tak langsung dipertanyakan motivasinya. Sementara motivasi karakter-karakter kulit putih yang sepenuhnya negatif terlihat dengan lebih jelas. Di sini tampak sekali baik Boal maupun Bigelow sangat berhati-hati dalam menampilkan sisi karakter-karakter kulit hitam. Memang di epilog dijelaskan bahwa sampai sekarang kejadian yang sebenarnya masih sangat samar sementara proses hukum dianggap tak memuaskan semua pihak, tapi tanpa follow up apa-apa sampai sekarang. Namun dengan klaim bahwa apa yang ditampilkan di film adalah reka ulang dengan pengubahan beberapa bagian sebagai dramatisasi, seharusnya Boal dan Bigelow berani mengambil keputusan untuk ‘menambal’ lubang-lubang yang mengganjal dan jadi pertanyaan besar terkait peristiwa sesungguhnya. Terutama sekali, mengapa semua yang berada di hotel tak berani mengaku atau memberi kesaksian siapa pelaku penembakan yang sesungguhnya, bahkan sampai rela meregang nyawa sendiri demi seseorang yang tak begitu mereka kenal baik. Sekedar atas dasar perasaan selama ini selalu ditindas sehingga tak sudi untuk menuruti perintah kaum kulit putih? Well, dengan demikian alih-alih menggalang simpati, justru membangun citra negatif, bukan?
Selain dari ‘lubang besar’ yang sebenarnya punya peran terpenting dalam menggiring persepsi penonton terhadap keseluruhan kejadian, Bigelow setidaknya masih berhasil membangun intensitas selama adegan-adegan interogasi dan intimidasi. Bahkan adegan persidangan yang menjadi penentu konklusinya cukup menggugah, serta tak boleh dilupakan aftermath yang cukup impactful. dan thoughtful. Terutama dari karakter Larry yang efek traumatik-nya paling terasa.
Highlight akting terbesar tentu saja pada Will Poulter yang merupakan transformasi citra dari remaja culun (misalnya di We’re the Millers, The Maze Runner, dan tentu saja The Chronicles of Narnia) ke peran serius dengan porsi yang melebihi di The Revenant. Di banyak kesempatan Poulter menunjukkan kapasitas serta kharisma akting melebihi biasanya, terutama lewat gesture dan suara. Namun di beberapa kesempatan lain, tak bisa ditampik bahwa faktor wajah sulit untuk mendukung peran yang dibebankan kepadanya. Algee Smith dan Hannah Murray juga tampil menonjol secara konsisten sepanjang durasi. John Boyega boleh terlihat serius dan tampil baik, tapi porsi perannya tak memberikan cukup kesempatan untuk lebih membekas lagi dalam benak penonton. Deretan aktor pendukung di lini berikutnya, mulai Jacob Latimore, Jason Mitchell, Ben O’Toole, hingga Anthony Mackie pun tampil sama-sama baik sesuai porsi peran masing-masing.
Bigelow masih menggunakan teknis yang tak jauh berbeda dari The Hurt Locker maupun Zero Dark Thirty. Sinematografi Barry Ackroyd cukup banyak menggunakan teknik shaky handheld untuk memberikan kesan realistis tapi untungnya masih acceptable. Setidaknya detail-detail adegan masih cukup jelas ditangkap dan upaya menangkap emosi serta tensi tergolong berhasil. Editing William Goldenberg dan Harry Yoon membuat guliran plot terasa begitu padat di balik durasi yang termasuk panjang, yaitu 143 menit. Sementara musik dari James Newton Howard memang tergolong minimalis dan tak terlalu memorable, tapi lebih dari cukup untuk mengiringi nuansa-nuansa kelam sepanjang film.
Meski penanganan Bigelow dan pilihan konsep storytelling Boal masih termasuk baik, tapi ‘lubang’ terpenting yang dibiarkan menganga sangat mempengaruhi persepsi penonton terhadap kejadian sesungguhnya. Due to that issue, Detroit menurut saya harus menjadi karya terlemah di antara tiga hasil kolaborasi Bigelow-Boal sebelumnya. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates