Thursday, September 14, 2017

The Jose Flash Review
American Assassin

Hollywood agaknya tak akan pernah kehabisan stok agen rahasia. Satu lagi karakter agen rahasia dari novel yang diangkat ke layar lebar. Adalah Mitch Rapp rekaan Alm. Vince Flynn yang sudah punya 15 seri sejak tahun 1999 dan masih akan terus dilanjutkan oleh Kyle Mills yang rencananya merilis judul baru pada September 2017. CBS Films telah memegang hak adaptasi filmnya sejak 2008 dan produksi pertama dipegang oleh produser Lorenzo di Bonaventura (franchise Transformers, Shooter, Salt, duologi RED, Jack Ryan: Shadow Recruit, dan terakhir, Unlocked) bersama Nick Wechsler. Sayang kondisi studio yang sedang lesu membuat produksi mengalami penundaan. Padahal nama-nama yang sempat diumumkan terlibat cukup menjanjikan. Seperti sutradara Antoine Fuqua, Edward Zwick, hingga Jeffrey Nachmanoff yang akhirnya diputuskan kepada Michael Cuesta (Kill the Messenger), hingga pilihan aktor seperti Gerard Butler, Colin Farrell, hingga Chris Hemsworth untuk merepresentasikan karakter Rapp, hingga akhirnya jatuh ke tangan Dylan O’Brien yang dirasa lebih cocok sesuai dengan usia karakter di film pertama bertajuk American Assassin (AA) ini. 

Kebahagiaan Mitch Rapp ketika melamar sang kekasih di tepi pantai di Ibiza seketika berubah menjadi dendam membara oleh serangan teroris yang secara membabi-buta menembaki para pengunjung, termasuk sang kekasih. Selama 18 bulan ia habiskan untuk melatih diri secara keras, menyelidiki keberadaan sang pelaku, bahkan sampai mempelajari Al-Qur’an agar samarannya sebagai calon pengikut pimpinan teroris berjalan mulus. Ketika misi dijalankan, ia malah direkrut oleh Direktur Deputi CIA, Irene Kennedy, yang melihat potensi luar biasa pada dirinya. 
Ternyata perekrutan Mitch bukan tanpa alasan. CIA sedang menyelidiki kasus pencurian plutonium yang wilayah Timur Tengah yang dikhawatirkan mengancam keamanan global. Namun sebelum dipercaya turun ke lapangan, Mitch wajib mengikuti pelatihan yang lebih keras lagi dari agen veteran, Stan Hurley. Ketika siap terjun ke lapangan, Mitch mendapati bahwa sang pelaku mengenal baik Hurley dan punya agenda tersendiri dengan memanfaatkan pejabat Iran.
Bagi penggemar kisah-kisah espionage, plot yang ditawarkan AA memang terdengar begitu familiar dan generik di temanya. Begitu juga dengan formula-formula yang digunakan untuk membumbui plotnya. Namun yang menjadi highlight terbesarnya adalah kehadiran Dylan O’Brien yang selama ini dikenal sebagai aktor muda di franchise young-adult, The Maze Runner dan serial Teen Wolf, bertransformasi menjadi action hero. Apalagi ternyata ia membuktikan diri layak menghidupkan peran dengan kharisma yang cukup kuat dan skill bela diri yang mencengangkan. 
Ditambah dengan koreografi Marcus Shakesheff yang dinamis, sedikit brutal, dan bahkan tak jarang inventif (meski tak sampai seinventif, sebut saja John Wick). Didukung pula oleh camera work Enrique Chediak yang tak kalah dinamisnya meski setting-setting eksotis yang digunakan masih terasa kurang maksimal tereksplorasi lewat bidikan kameranya, score music Steven Price yang masih mampu memperkuat tensi adegan walau harus diakui terdengar sangat generik, serta editing Conrad Buff yang memper-‘tajam’ gelaran-gelaran aksi seru. Bahkan kerap menyelipkan momen-momen mengejutkan yang membuat saya meringis dan tertegun.
Penampilan aktor-aktris pendukung makin memperkuat kegaharan adegan-adegan aksi, terutama berkat Michael Keaton sebagai Stan Hurley yang kharisma-nya tak sedikit pun luntur, aktris pendatang baru asal Iran, Shiva Negar sebagai Annika, yang tak hanya punya pesona fisik yang eksotis tapi juga sepak terjang aksi yang tak kalah gahar, dan Taylor Kitsch yang ternyata tampil meyakinkan sebagai karakter antagonis yang beringas dan brutal. Sementara Sanaa Lathan tampil fairly sebagai deputi direktur CIA, Irene Kennedy, penampilan Scott Adkins terasa mubazir dengan porsi yang ternyata sangat terbatas.
Meski tergelar lewat plot yang berkembang secara generik, termasuk lewat formula-formula yang diramu di dalamnya, setidaknya AA punya konsep besar tentang masalah pribadi para agen CIA yang ditampilkan secara konsisten sepanjang durasi film. Mulai sebagai setup motivasi aksi Mitch, konflik keputusan Hurley ketika dihadapkan pada situasi yang menguji nasehatnya sendiri, hingga konklusi dari pilihan sikap Mitch di klimaks. Konsistensi konsep besar ini yang setidaknya masih membuat AA punya value lebih ketimbang sekedar ‘just another generic espionage movie’.
Sebagai film pertama yang merupakan introduksi dari karakter franchise baru, AA menurut saya sangat menjanjikan, terutama sekali oleh penampilan para aktor di lini terdepannya yang ternyata tergolong baik. Memang masih belum menemuan ciri-ciri khas ataupun elemen-elemen ikoniknya sendiri, tapi bukan berarti mustahil untuk terus dikembangkan. Setidaknya level adegan-adegan aksi yang digelar di AA lebih dari cukup untuk memperkenalkan sekaligus membuat penonton tertarik untuk terus mengikuti sepak terjangnya di installment-installment berikutnya. Meski mungkin tak akan bertahan lama di dalam memori.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates