Friday, August 18, 2017

The Jose Flash Review
The Underdogs

Mau tak mau harus diakui bahwa media sosial menjadi fenomena sosial yang paling besar dewasa ini. Media sosial lah yang menggeser makna dan sistem popularitas menjadi lebih umum, tak lagi soal bakat saja. Salah satu yang pengaruhnya adalah YouTube yang membuat semua orang bisa punya channel sendiri berisi aksi pribadi masing-masing hingga membentuk profesi baru; YouTuber. Sinema Indonesia sudah pernah mengangkat tema ini lewat Youtubers tahun 2015 silam dengan menggandeng berbagai YouTuber betulan, seperti da Lopez Bersaudara. 

Rumah produksi StarVision Plus tahun ini kembali membidik fenomena YouTuber lewat The Underdogs dengan menggandeng Ernest Prakasa sebagai salah satu co-producer yang kian dipercaya setelah kesuksesan Ngenet dan Cek Toko Sebelah. Alit Susanto (lebih dikenal sebagai penulis buku sekaligus YouTuber berjuluk Shitlicious) yang pernah menyusun naskah Relationshit dipercaya menggarap naskahnya bersama komika Bene Dion Rajagukguk yang pernah dipercaya menyusun naskah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Stip & Pensil, dan Rafathar. Sementara bangku penyutradaraan kali ini dipercayakan kepada Adink Liwutang yang selama ini dikenal sebagai manajer produksi untuk Comic 8, CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu, serta line director untuk Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan Ada Cinta di SMA. Film ini menandai debutnya sebagai sutradara utama. Ernest sendiri ikut tampil bersama rapper yang sedang menjadi fenomena lewat YouTube, Young Lex, YouTubers berdarah Korea yang dikenal lewat serial Kelas Internasional, Han Yoo Ra, Sheryl Sheinafia yang pernah memikat kita di Koala Kumal dan Galih & Ratna, Babe Cabita, Brandon Salim (putra Ferry Salim yang pernah memerangkan Patrick remaja di Ngenest), serta Jeff Smith yang selama ini dikenal sebagai bintang sinetron Romeo & Juminten dan berbagai FTV.
Sejak SMA Ellie, Bobi, Dio, dan Nanoy sudah dianggap sebagai anak-anak aneh yang jauh dari kata gaul. Malahan teman-teman mereka hanya satu sama lain saja. Ketika duduk di bangku kuliah yang mereka kira akan mengubah kondisi pun ternyata tak berbeda. Gara-gara melihat performance group YouTuber rap, SOL yang terdiri dari Sandro X, Oscar, dan Lola, mereka beride untuk menjadi YouTuber juga supaya setidaknya masih bisa jadi terkenal di dunia maya. Setelah mencoba membuat konten prank dan social project yang gagal total, satu-satunya pilihan adalah bikin video rap sendiri dengan nama The Underdogs. Awalnya tak ada yang menggubris video rap mereka sampai Dio diam-diam mempromosikan videonya kepada Sandro X dan akhirnya menyebar ke Raditya Dika yang punya follower jutaan. Video mereka segera menjadi viral tapi diiringi pula dengan cacian. Mulai merasa di atas awan dengan popularitas, satu per satu menunjukkan ego masing-masing, terutama Bobi. Sandro yang nyolot membuat The Underdogs nekad bertaruh untuk menyuguhkan penampilan terbaik di sebuah festival YouTuber. Yang kalah harus menutup channel YouTube-nya. Ellie marah karena menganggap Bobi sudah berubah dan lupa tujuan utama mereka pertama kali memutuskan jadi YouTuber. The Underdogs terpecah dan terancam tutup channel untuk selamanya.
Jika Youtubers punya plot yang kelewat ribet untuk mengangkat tema sosialnya, maka The Underdogs memilih plot yang jauh lebih simple, amat sangat formulaic di temanya malah. Kuncinya terletak pada tiga hal saja; persahabatan, popularitas, dan persaingan. Formula yang sama sering digunakan untuk berbagai tema, misalnya Bring It On untuk tema cheerleader, atau Pitch Perfect untuk tema dunia tarik suara. Namun formula ini ternyata adalah pilihan tepat untuk memberikan gambaran fenomena sosial YouTubers secara relevan dan sederhana. Toh kelewat rumit justru bisa mendistraksi tujuan utamanya, bukan?. Dengan pace pengembangan yang tertata baik, laju film terasa mengalir dengan asyik tanpe mengorbankan momentum-momentum emosional yang cukup menyentuh.
Tak semata-mata soal fenomena YouTuber saja, The Underdogs membidik persahabatan antara Ellie, Bobi, Dio, dan Nanoy sejak SMA dengan konflik masing-masing yang akhirnya saling mempertemukan mereka. Ini menjadi pondasi, setup cerita, sekaligus character investment yang efektif sehingga mampu memberikan impact emosional yang cukup terasa ketika konfliknya mulai kick-in. Meski membidik kaum yang dianggap ‘geek’, tapi ia tetap menggambarkannya secara fun dengan berbagai elemen komedi a la Ernest dan Bene Dion yang pernah membuat kita tertawa terbahak-bahak di Ngenest dan Cek Toko Sebelah. Belum lagi ditambah penampilan Babe Cabita yang selalu mampu membawakan beban comedic menjadi ‘pecah’. Malah boleh dibilang, penampilannya di sini adalah salah satu terlucu.
Di balik plot utama, disisipkan pula background masing-masing karakter utama yang sebenarnya (juga) tergolong cliché dan tak punya pengembangan berarti, tapi apa yang ditampilkan lebih dari cukup untuk sekedar menjadi motivasi plot utama tanpa mendistraksi laju plot utama. Misalnya Bobi yang punya beban meneruskan bisnis pabrik tahu dari sang ayah (teringat Cek Toko Sebelah?) dan Ellie yang kedua orang tuanya selalu bertengkar (oh, tak perlu kan saya menyebutkan ada berapa banyak film bertemakan broken home seperti ini?). 
Selain plot persahabatan yang meski ditulis dengan kelewat familiar dan formulaic, tapi tersusun baik, The Underdogs masih punya banyak performance musikal yang kocak, keren in its own way, dan lagu-lagu yang ear-catchy. Sayang di beberapa performance yang melibatkan dialog di antaranya kurang terasa natural. Masih ada feel lip-sync dan kelewat ditata, padahal konsepnya seharusnya spontaneous. 
Selain Babe Cabita yang tak perlu dipertanyakan lagi performanya sebagai comedic character, chemistry yang terbangun antara Babe, Jeff Smith sebagai Bobi, Brandon Salim sebagai Dio, dan Sheryl Sheinafia sebagai Ellie pun convincing dan malahan di banyak kesempatan, terasa sangat manis dan hangat. Masing-masing juga memberikan performa yang cukup natural sesuai kebutuhan karakter masing-masing. Begitu pula Ernest dan Han Yoo Ra yang punya momen emosional di balik porsi yang tak banyak. Hanya Young Lex saja yang terlihat masih sangat canggung berakting.
Pemilihan Dede Yusuf sebagai papa Bobi serta pasangan Joko Anwar dan Febby Febiola sebagai orang tua Ellie adalah keputusan yang menarik meski mungkin seharusnya bisa digantikan oleh siapa saja. Namun pemilihan mereka bagi saya justru menambah daya tarik tersendiri.
Seperti kebanyakan film dengan keterlibatan Ernest lainnya, The Underdogs pun menggandeng puluhan cameo yang sekali lagi, masing-masing berhasil mencuri perhatian. Mulai Dodit Mulyanto sebagai editor video klip, Amel Carla sebagai Retno, Tretan Muslim, Soleh Solihun, Yudha Keling, Gita Bhebhita (masih ingat Mak Rambe di Stip & Pensil?), Pandji Pragiwaksono, geng capsa di Cek Toko Sebelah, Yusril Fahriza, Asri Welas, sampai Meira Anastasia (istri Ernest Prakasa), kesemuanya memberikan performance yang berkesan. Tak ketinggalan performance YouTubers betulan, seperti Cameo Project (masih ingat penampilan akting mereka di Mars Met Venus?) dan Aulion yang semakin menyemarakkan film. 
Sinematografi Agung Dewantoro terlihat efektif menyampaikan berbagai upaya pembangunan momen komedi maupun emosionalnya secara cukup sinematis. Tak istimewa tapi sangat efektif dalam menyampaikan emosi dan rasa dari adegan. Editing Ryan Purwoko membuat momentum-momentum komedinya berhasil, selain mampu menjaga keseimbangan laju plot sepanjang film. Desain produksi Windu Arifin beserta tim artistik menyuguhkan warna-warni cerah yang memanjakan mata, terutama untuk basecamp The Underdogs, kamar Bobi, dan basecamp SOL. Musik dari Andhika Triyadi memang tidak sampai jadi sesuatu yang memorable, tapi berfungsi cukup efektif dalam memperkuat feel adegan-adegannya. Sementara lagu-lagu dari Igor Saykoji sangat catchy, baik dari segi lirik yang menggelitik hingga melodi yang hummable.
Plot yang ditawarkanThe Underdogs memang sangat generik, tapi punya relevansi yang kuat terhadap tema sosial fenomena YouTuber dan tersusun dengan baik pula. Dengan kemasan yang secara konsisten fun, kocak, cool, dan lagu-lagu yang catchy, The Underdogs saya rasa telah sukses mengusung tema yang terlalu familiar menjadi sajian yang AZQ (baca: asik) diikuti. Bahkan mungkin masih AZQ untuk dialami berkali-kali.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates