Saturday, August 26, 2017

The Jose Flash Review
Toilet - Ek Prem Katha
[टॉयलेट: एक प्रेम कथा]

Tanah Hindustan termasuk salah satu negara besar di dunia ketiga yang punya cukup banyak masalah sosial, bahkan sampai saat ini. Salah satu yang pernah menjadi perhatian dunia adalah sanitasi, dimana hasil sensus tahun 2011 seperti yang dilansir di The Hindu pada 2Juli 2012, bahwa ada 131 juta rumah tangga di India yang tak punya toilet sama sekali. Delapan juta di antaranya menggunakan toilet umum dan 123 juta buang air di tempat terbuka. Sebuah fakta ironis yang sempat mencuatkan kasus wanita seperti Priyanka Bharti dan Anita Narre yang menuntut sang suami yang baru dinikahi karena tak ada toilet di rumah tangga mereka. Kasus yang dialami Anita Narre ini yang kemudian mengilhami Toilet: Ek Prem Katha (TEPK) yang naskahnya disusun oleh Siddharth Singh dan dialog dari Garima Wahal (keduanya yang menggarap naskah Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela, Brothers, dan Raabta), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Shree Narayan Singh, editor Baby, Rustom, dan M.S. Dhoni: The Untold Story yang menandai film panjang keduanya setelah Yeh Jo Mohabbat Hai (2012). Pemilihan cast-nya tak main-main. Di lini terdepannya ada Akshay Kumar dan Bumi Pednekar (Dum Laga Ke Haisha). Penghasilan box office-nya pun tergolong baik setelah film-film blockbuster beberapa bulan terakhir yang jeblok. Dengan budget ‘hanya’ 18 crore (sekitar US$ 2.8 juta), berhasil mengumpulkan 225.15 crore di seluruh dunia dalam kurun waktu 14 hari saja.

Keshav adalah bujang lapuk yang kesulitan mencari jodoh karena kepercayaan sang ayah yang masih sangat relijius dan percaya takhayul. Menurut ramalan, ia harus menikahi wanita dengan jari jempol ganda jika tak ingin hidup sial. Setelah menemukan seseorang yang membuatnya jatuh cinta setengah mati dan upaya yang tak mudah untuk mendapatkannya, Keshav mengakali jari jempol Jaya supaya mendapatkan restu. Ketika semua seolah berjalan mulus, Jaya menemukan fakta bahwa di rumah mereka tidak ada toilet. Di desa mereka jika ingin buang air, beberapa wanita berinisiatif untuk membentuk kelompok dan meninggalkan rumah subuh-subuh untuk buang air di pinggir jalan. Permintaan membangun toilet sendiri di dalam rumah ditentang habis-habisan oleh ayah Keshav. Setelah capek mencoba berbagai akal-akalan, Jaya memutuskan meninggalkan Keshav dan menuntut perceraian jika permintaannya untuk mendirikan toilet di dalam rumah tak dikabulkan. Urusan rumah tangga pun meluas menjadi isu nasional ketika keberanian Jaya menginspirasi revolusi sanitari di seluruh penjuru negeri.
Sinema Hindi dikenal mampu mengangkat tema-tema sosial di negaranya dengan kemasan yang menghibur sekaligus mengena. TEPK semakin menambah panjang daftar tersebut. Paruh pertama dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyampaikan effort Keshav mendapatkan Jaya sebagai bentuk penanaman koneksi emosional kepada penonton sehingga ketika konflik kick-in, penonton dapat merasakan simpati yang kuat terhadap keduanya. Bahkan ada penulisan perbedaan karakter antara Keshav dan Jaya yang solid sebagai salah satu elemen pembangun konflik hingga klimaks; Keshav yang cenderung menghindari masalah dengan solusi sementara dan Jaya yang lebih mendukung solusi permanen. Benturan adat istiadat dengan pola pikir modern pun ditampilkan dengan cukup keras tapi dipertemukan di satu titik dengan hati yang besar. Kompromi tanpa harus menyudutkan salah satu pihak. 
Akshay Kumar seperti biasa, tampil dengan kharsima penuh sebagai karakter utama, Keshav. Berbagai rollercoaster emosinya, termasuk untuk kebutuhan comedic, dibawakan dengan emotional impact yang tepat dan pas. Bhumi Pednekar pun memberikan performa yang tak kalah luar biasa dalam menampilkan keseimbangan antara kekuatan feminisme dan sensitivitas emosinya. Divyendu Sharma tampil layak sebagai Naru. Sementara yang mencuri perhatian di lini pendukung ada Sudhir Pandey sebagai ayah Keshav, Shubha Khote sebagai nenek Keshav, Atul Srivastava dan Ayesha Raza sebagai orang tua Jaya, serta tentu saja Anupam Kher yang kerap menjadi pencair suasana lewat karakter Kakka.
Teknis TEPK mungkin tak terasa ada yang terlalu istimewa, tapi setidaknya sesuai dan cukup mendukung dalam menyampaikan ceritanya. Mulai sinematografi Anshuman Mahaley yang cukup naturalis dengan emotional impact yang mengena, editing Shree Narayan Singh sendiri yang menjaga pace pengembangan plot terasa seimbang, sampai desain produksi Udai Prakash Singh yang mampu menampilkan estetika visual tersendiri di balik setting pedesaan kumuh. Iringan soundtrack mungkin tak terlalu memorable tapi masih cukup memberikan warna dalam upaya pembangunan nuansa adegan-adegan. Seperti Hans Mat Pagli, Bakheda, dan Subha Ki Train yang manis, serta Gori Tu Latth Maar dan Toilet Ka Jugaad yang festive.
Di antara film-film blockbuster Hindi akhir-akhir ini, kemasan terluar TEPK mungkin terasa tak terlalu istimewa. Namun upaya menggambarkan kondisi sosial sekaligus bagaimana mereka mengatasinya lewat sajian yang menghibur, manis untuk diikuti, dan mengundang simpati yang cukup mendalam, TEPK layak menjadi salah satu film Hindi terbaik tahun ini
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates