Sunday, August 6, 2017

The Jose Flash Review
Once Upon a Time in Venice

Meski image-nya lebih kuat sebagai aktor laga, Bruce Willis sebenarnya tak jarang juga mengambil peran-peran komedi. Sebut saja The Whole Nine Yards, The Bandits, dan Cop Out. Toh ternyata ia cukup luwes juga mengisi peran-peran komedi. Setelah Cop Out, Willis kembali menerima tawaran Mark Cullen (penulis naskah Cop Out) untuk tampil di Once Upon a Time in Venice (OUTV). Nama Mark Cullen dan Robb Cullen sebenarnya cukup punya reputasi bagus, terutama karena nominasi Emmy Awards untuk serial Lucky yang mereka ciptakan. Aktor-aktor pendukung OUTV pun cukup menjanjikan. Mulai dari Jason Momoa (Aquaman di upcoming DC’s Justice League dan Aquaman), John Goodman, Thomas Middleditch, Famke Janssen, hingga Adam Goldberg. Dengan premise detektif dengan bumbu komedi dan latar tropis Venice, OUTV sebenarnya berpotensi menjadi sajian yang menghibur.

Steve Ford dikenal sebagai detektif swasta di Venice dengan anak buah, John. Namun alih-alih menyelesaikan kasus yang ditangani, Steve justru kerap mengacaukannya. Ia benar-benar kena batunya ketika dikejar-kejar klien berbadan kekar setelah meniduri sang adik yang sebelumnya dilaporkan hilang. Satu kejadian berimbas pada rentetan kejadian naas yang membuatnya harus berurusan dengan mafia narkoba yang paling ditakuti di Venice, Spyder, demi menyelamatkan anjing kesayangannya. Di saat yang bersamaan, Lou the Jew berjanji akan mengembalikan rumah Steve yang pernah disita apabila ia berhasil menemukan pelaku bombing grafiti di gedung apartemennya. Bersama sang sahabat yang baru saja digugat cerai, Dave, Steve berupaya membereskan satu demi satu kepingan kekacauan tersebut.
Dari kemasan terluar jelas bahwa OUTV memang ditujukan untuk menjadi fucked-up comedy dimana sang karakter utama, Steve, mengalami petaka demi petaka akibat dari tingkahnya selama ini. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga, dilanjutkan petaka-petaka lainnya. Tentu saja dengan bingkai komedi yang tak perlu ditanggapi dengan serius-serius amat.
Namun apa yang disuguhkan Cullen Brothers lewat OUTV benar-benar menjadi sebuah petaka yang membuat kening saya berkerut sepanjang film, kendati sudah merendahkan ekspektasi sebagai sekedar sajian main-main. Permasalahannya bukan pada serius atau main-mainnya, tapi struktur plot yang kelewat kacau balau. Tak hanya soal logika (yang jujur saja, bagi saya yang punya dumbness tolerance cukup tinggi, masih kelewat dungu), tapi koherensi antar adegan yang terus-terusan saya pertanyakan, dan juga tingkatan petaka yang kelewat dibuat-buat dan bertele-tele. At some point, gelaran guyonan-guyonan yang berusaha dilontarkan masih belum mampu menutupi kelelahan tuturan plotnya. Kerap saya berpikir sebenarnya konflik sudah bisa disudahi tapi masih ditambah dengan kejadian lain yang tak punya kepentingan korelasi sama sekali, selain (mungkin) untuk sekedar memperpanjang durasi. Mungkin istilah ‘gali lubang, tutup lubang’ yang dihadirkan terus-terusan secara bertingkat tepat untuk menggambarkan OUTV secara keseluruhan.
Bruce Willis tampak laid-back dan cool membawakan peran Steve Ford di balik petaka demi petaka yang dilaluinya. I don’t know if it means it’s good or otherwise. You decide. I can’t. Yang pasti ia sampai harus rela ber-skateboard sambil telanjang bulat keliling kota dan didandani bak Drag Queen untuk menarik perhatian.
Hal yang sama juga terlihat pada John Goodman dalam mengisi peran Dave yang tampak nothing to lose or to fight for. Tak pula terasa sedang had some fun seperti yang dilakukan Anthony Hopkins di Transformers: The Last Knight, misalnya. Jason Momoa yang perawakannya sudah semakin berandalan memang cocok mengisi peran Spyder, kendati sisi comedic-nya masih kurang eksentrik, apalagi sampai mengundang gelak tawa.
Satu-satunya yang masih terasa ‘hidup’ dan beberapa kali masih sempat mengundang senyum karena nasib dan ekspresi wajahnya adalah Thomas Middleditch sebagai John. Adam Goldberg tampil nyentrik lewat karakter Lou the Jew, tapi masih belum cukup untuk mencuri perhatian, apalagi menjadi karakter yang memorable. Sementara Famke Janssen tampak sekedar sebagai ‘pajangan’ yang tak memberikan kontribusi apa-apa. Sorry to say, it’s such a waste of talent and in financial-wise, such a waste of budget (kecuali jika ia tampil secara sukarela sebagai cameo yang hanya syuting beberapa jam).
Penyia-nyiaan juga begitu terasa di teknis, seperti sinematografi Amir Mokri (yang filmografinya rata-rata major project seperti misalnya franchise Transformers) serta editing Zach Staenberg (Oscar winner editor berkat The Matrix Trilogy) dan Matthew Diezel (asisten editor X-Men: First Class dan additional editor untuk Now You See Me dan RED) yang tak memberikan kontribusi apa-apa untuk menaikkan level maupun citarasa OUTV.
Dengan segala ‘kekacauan’ yang disajikan, saya sebenarnya bingung atas apa yang ingin dicapai oleh Cullen Brothers lewat OUTV. Jika hanya sekedar ingin menyajikan fucked-up comedy yang menggelitik saraf tawa penonton dari awal hingga akhir, tak perlu membuat tingkatan petaka sebegitu banyaknya dengan penyelesaian yang sebenarnya bisa jadi satu ketimbang satu-satu. Toh upaya pembangunan komedi situasional tak satupun yang berhasil mengundang gelak tawa saya selain sekedar senyum dan geleng-geleng kepala. Ya, bahkan dengan toleransi keburukan film yang cukup tinggi, tanpa ragu saya menobatkan OUTV sebagai film terburuk dari sekian banyak film yang sudah saya tonton tahun ini. Malah mungkin untuk range waktu beberapa tahun belakangan. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates