Sunday, August 6, 2017

The Jose Flash Review
Mars Met Venus
[Part Cowo]


Setelah beberapa minggu sebelumnya Mars Met Venus: Part Cewe (PCe) dirilis dan ternyata mendapat sambutan penonton yang sangat baik (sudah melewati angka 200 ribu penonton di minggu ketiga penayangannya!), giliran Part Cowo (PCo) mencoba menyajikan perspektif berbeda dari materi cerita yang sama.

Setelah menjalani hubungan yang cukup lama (sejak tahun pertama perkuliahan), Kelvin yang calon arsitek berniat untuk melamar kekasihnya, Mila. Maka ia berniat membuat sebuah rangkaian vlog berisi interview yang meruntut perjalanan hubungan mereka selama ini dengan bantuan Lukman sebagai sang interviewer. Proses pembuatan vlog ini justru membuka banyak miskonsepsi yang terjadi di antara mereka berdua hingga menyadari bahwa selama ini mereka punya banyak perbedaan dan terjadi kesalah-pahaman. Dengan dukungan dan nasehat-nasehat dari para sahabatnya; Reza, Bobby, Martin, dan Steve, Kelvin tak pernah patah arang untuk terus meyakinkan bahwa mereka masih layak untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah perjalanan yang telah mereka lalui bersama.
Meski melakukan cukup banyak pengulangan adegan dari PCe, tampaknya PCo cukup cermat memilih part-part terpenting sekedar untuk mengingatkan penonton sebelum menjelaskan apa yang melatari, sebelum maupun sesudah, kejadian-kejadian tersebut. PCo menyematkan begitu banyak pembahasan yang berbobot, cerdas, sekaligus menggelitik khas kaum pria tentang menghadapi (baca: memahami) wanita, termasuk analogi mie ayam yang menjadi highlight. Bahkan jauh dari kesan seksis yang sebenarnya merendahkan kaum wanita seperti yang justru digambarkan secara langsung oleh karakter-karakter wanita di PCe. Komedi-komedi yang terbentuk dari chemistry antara Ge Pamungkas dan geng cowoknya pun terasa lebih natural dan sesuai konteks.
Ada beberapa adegan pengulangan yang lebih pendek, tak sedetail di PCe, misalnya adegan ketika Kelvin menembak Mila dengan gangguan tukang sate Padang. Sekilas ini seperti sebuah inkonsistensi. Namun jika melihat konteksnya sebagai flashback atau visualisasi dari sudut pandang penceritaan, ini justru memperkuat konsep perbedaan sudut pandang antara cowok dan cewek. Yang mana kaum cowok cenderung mengingat inti-inti terpenting dari sebuah kejadian, sementara kaum cewek mengingat tiap detail dari sebuah kejadian.
Dengan penyusunan adegan dari Yoga Krispratama yang runtut antara tiap kejadian dengan latar belakangnya, struktur PCo menjadi jauh lebih koheren untuk dinikmati sekaligus dipahami sebagai satu kemasan yang utuh. Apalagi momentum-momentum emosional yang dihadirkan di PCo terasa lebih pas untuk berhasil menggerakkan maupun membuat penonton bersimpati terhadap karakter-karakternya. Masih ditambah pula theme song Dulu, Kini, dan Nanti (di versi ini dibawakan oleh Adis Putra), yang cukup memperkuat adegan-adegan terpentingnya.
Tak hanya karakter komedik yang menjadi satu-satunya penyelamat dari PCe, Ge Pamungkas di sini punya momen emosional yang ternyata mampu dibawakannya dengan sangat natural dan serius. Jauh dari kesan komedik seperti yang sudah menjadi image-nya selama ini. Penampilan geng cowok pun masing-masing punya karakteristik yang lebih jelas dan memorable ketimbang di PCe. Reza Nangin, Ibob Tarigan, Martin Anugrah, dan Steve Pattinama cukup membuktikan bahwa karakter masing-masing (yang mereka ciptakan) memang harus diperankan oleh mereka sendiri. Dari geng cewek, Pamela Bowie yang porsinya masih cukup banyak masih terlihat konsisten dari PCe. Sementara Ria Ricis (Icha) dan Rani Ramadhany (Malia), untungnya, hanya tampil di beberapa  momen yang sekedar untuk menjaga konsistensi adegan seperlunya. Terakhir yang tak kalah penting, Lukman Sardi akhirnya membuka identitas dirinya setelah selama ini hanya berupa voice over pewawancara dengan nama Wisnu Adji Hidayat di credit PCe.
Jika mau dianalisis lebih jauh, PCo sebenarnya lebih dari cukup dalam menyampaikan poin-poin konsep battle of sexes yang ingin disodorkan MMV. Pun punya keseimbangan dan korelasi kuat antara pembahasan topik secara berbobot dengan jokes-nya. Konsep MMV sebenarnya sudah cukup kuat lewat PCo saja. Sayang, PCo masih terasa punya missing link yang terjelaskan di PCe. Idealnya sama seperti yang terjadi pada The Disappearance of Eleanor Rigby (yang juga membagi film menjadi dua bagian; Him dan Her, tapi akhirnya dirilis juga menjadi satu film utuh, Them), MMV bisa saja menjadi sajian terbaik lewat satu film saja yang menggabungkan beberapa missing link dari PCe ke dalam PCo. But well, dengan pendapatan PCe yang tergolong sukses, dilanjutkan PCo yang ternyata secara kualitas lebih baik (sehingga seharusnya bisa mengumpulkan penonton yang lebih banyak, atau setidaknya setara PCe), berarti trik pembagian menjadi dua film ini adalah sebuah kesuksesan, setidaknya secara finansial. Wait, siapa tahu nanti memang ada rencana untuk merilis MMV versi gabungan dalam satu film seperti yang pernah dilakukan 99 Cahaya di Langit Eropa?
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates