Sunday, August 13, 2017

The Jose Flash Review
The Hunter's Prayer

Penggabungan action thriller dengan drama lewat mengulik sisi emosional dari sosok yang identik dengan dingin dan kejam seperti yang pernah dilakukan oleh Léon: The Professional (1994) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa jadi paduan yang menghibur sekaligus menyentuh. Formula serupa coba dihadirkan sekali lagi oleh Jonathan Mostow yang pernah dipercaya menggarap Breakdown, U-571, Terminator 3: Rise of the Machines, dan Surrogates. Naskah film bertajuk The Hunter’s Prayer (THP) yang diadaptasi John Brancato dan Michael Ferris (keduanya bekerja sama menyusun naskah The Net, The Game, Terminator 3 & Salvation, serta Surrogates) ini berasal dari novel For the Dogs karya Kevin Wignall yang dirilis tahun 2004. Dengan membawa nama-nama populer di jajaran cast, seperti Sam Worthington (Terminator Salvation, James Cameron’s Avatar) dan bintang muda yang karir aktingnya kian mengkilat setelah The Odd Life of Timothy Green, The Giver, serta Goosebumps, Odeya Rush, THP punya daya tarik yang cukup mengundang rasa penasaran.

Seorang pengusaha kaya, Martin Hatto, beserta istrinya, ditemukan tewas terbunuh di rumahnya. Tak lama kemudian, sang putri yang sedang berkuliah di Switzerland, Ella, mulai merasakan dirinya selalu dibuntuti. Satu titik peristiwa terungkap bahwa ia dibuntuti oleh seorang pembunuh bayaran bernama Lucas. Namun Lucas justru berniat untuk melindungi Ella dari pembunuh-pembunuh bayaran lain suruhan pengusaha kriminal, Richard Addison, yang mengincarnya. Ella mengingatkan Lucas atas putri yang belum pernah ia temui sama sekali dalam hidupnya. Lucas sendiri merupakan veteran perang yang kini menjadi pecandu narkoba sebagai bentuk penyesalan terhadap pilihan-pilihan hidup yang ia ambil selama ini. Meski selama ini ia mengaku membenci sang ayah, Ella akhirnya memutuskan untuk mencari sosok Richard Addison dan membalaskan dendam sang ayah. Tentu niatan Ella untuk menerobos ke ‘sarang berbahaya’ Richard membuat Lucas merasa harus lebih berhati-hati dalam upayanya menyelamatkan nyawa Ella.

Komoditas utama film berformula sejenis sejatinya adalah adegan-adegan aksi yang seru dan koneksi antar karakter utama yang menyentuh. THP terasa bak menggabungkan style action-thriller fugitive a la The Bourne Trilogy dengan drama koneksi antar-karakter layaknya Léon: The Professional. Dengan pengalaman Mostow, THP tak mengalami banyak kesulitan dalam menghadirkan adegan-adegan aksi kejar-kejaran yang cukup mendebarkan. Tidak sampai menjadi sesuatu yang eksepsional, tapi lebih dari cukup sekedar sebagai instant entertainment. Ini berkat timing yang tergolong pas di banyak kesempatan, hasil sinergi camera work José David Montero dan editing Ken Blackwell. Begitu juga musical score Federico Jusid yang cukup suportif pula dalam membangun intensitas meski masih tergolong generik di genrenya.

Sayang Mostow seolah mengabaikan bond-investment antara kedua karakter utamanya, Lucas dan Ella. To be honest, aspek ini sudah sangat minim (jika tak mau dianggap absen sama sekali) sejak penulisan karakter. Alasan pilihan Lucas untuk urung menghabisi Ella, justru melindunginya, terasa hanya sebatas di permukaan terluar saja. Tanpa adanya pengembangan yang bisa memperkuat motivasi ini. Alhasil, koneksi antara Lucas dan Ella pun susah untuk mampu menyentuh, apalagi menggerakkan penonton. Padahal potensinya untuk menjadi sajian yang lebih solid cukup besar.

Keputusan membuat nuansa film menjadi serius dan kelam memang tak sampai membuat THP terasa kelewat tenggelam dalam depresi hingga melelahkan untuk diikuti. Namun sedikit membubuhkan humor sehingga film menjadi terasa lebih fun dan playful sebenarnya bisa membuat level nilai hiburannya meningkat.

Sam Worthington memberikan gambaran karakter Lucas yang cukup natural dan meyakinkan. Namun justru gambaran yang depresif dan kelewat serius tersebut membuat Lucas tak ubahnya just another veteran yang enggan mati tapi juga bingung ingin membawa arah hidup ke mana. Tak beda jauh dan tak lebih baik dari peran yang pernah ia bawakan di James Cameron’s Avatar maupun Terminator Salvation. Karakter Ella yang dibawakan oleh Odeya Rush pun tipikal another naïve young girl yang terbakar dendam. Beruntung kharisma akting Odeya yang terasa makin menguat membuat penampilannya lebih mencuri perhatian. Penampilan Tina Maskell juga sempat mencuri perhatian lewat karakter Rosa. Sebelum sadar karakter ini ternyata tak diberi porsi pengembangan lebih lanjut. Begitu juga karakter antagonis, Richard Addison yang diperankan oleh Allen Leech dan Banks yang diperankan Amy Landecker. Berpotensi jadi karakter-karakter yang menarik tapi dilewatkan begitu saja.

Sebagai sajian action-thriller yang berpadu dengan koneksi ayah (pengganti) dan sang putri, THP punya potensi yang cukup besar untuk semenarik film-film bertemakan serupa. Sayang, dengan penulisan naskah yang hanya sebatas terlihat di permukaan, ia hanya berhasil sekedar menjadi instant entertainment lewat adegan-adegan aksi seru yang meski tergarap baik, tapi jatuhnya masih tergolong mediocre. Tidak eksepsional, tapi cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates