Thursday, August 24, 2017

The Jose Flash Review
The Hitman's Bodyguard

Hollywood sudah sejak lama memasangkan aktor-aktor terbaiknya dalam tema-tema ‘buddy’, terutama untuk frame polisi, penegak hukum, maupun penjahat. Sebut saja Bad Boy, Training Day, The Other Guys, sampai yang paling populer dan menjadi franchise besar, Lethal Weapon. Tema dan premise-nya boleh sekedar daur ulang, tapi yang menjadi kekuatan utama adalah chemistry antar karakter utama yang harus selalu terasa fresh dan klop. Maka tak heran jika tema serupa akan selalu ada dan selalu berevelousi mengikuti selera generasi masing-masing. Upaya terbaru adalah memadukan Ryan Reynolds yang makin kuat dengan image bad-ass sekaligus kocak terutama setelah Deadpool, dan Samuel L. Jackson yang sudah sejak lama dikenal mampu memadukan karakter action star dengan suara yang begitu khas. Dengan sutradara yang dikenal lewat Red Hill dan The Expendables 3, Patrick Hughes, dan naskah dari Tom O’Connor (Fire with Fire), The Hitman’s Bodyguard (THB) punya ‘pemasangan’ yang unik; seorang pembunuh bayaran dan bodyguard-nya. 

Reputasi level AAA Michael Bryce dan agensi pengamanan swasta yang dibangunnya tercoreng ketika ada klien penting yang terbunuh di bawah pengawasannya. Dua tahun kemudian Bryce punya kesempatan kedua untuk mengembalikan reputasinya dengan membantu sang mantan kekasih, Amelia Roussel yang merupakan agen Interpol. Ia harus menjaga seorang narapidana bernama Darius Kincaid yang dikenal sebagai pembunuh bayaran paling berbahaya. Kincaid mendapatkan tawaran sang kekasih, Sonia, akan dibebaskan dari penjara asalkan dia bersedia menjadi saksi untuk memberatkan seorang diktator asal Belarus, Vladislav Dukhovich. Tentu perjalanan membawa Kincaid ke pengadilan di Den Haag terhadang oleh anak buah Dukhovich yang tak kalah kejam. Belum lagi Bryce dan Kincaid harus belajar untuk bekerja sama setelah mendapati ternyata selama ini selalu bermusuhan, baik secara sengaja maupun tak disengaja. 
Seperti halnya film-film bertema buddy, THB memang tak menyuguhkan plot kejar-kejaran dan politisnya sebagai menu utama. Perkembangan hubungan antara Bryce-Kincaid lah yang menjadi highlight terbesarnya. For that purpose, baik naskah Connor maupun arahan Hughes menjalankan pengembangan dengan runtutan yang natural dan di lapisan terluarnya, begitu menggelitik dan menarik berkat chemistry comedic yang witty serta terasa begitu klop. Menjadikan sebuah perjalanan perkembangan hubungan yang mengasyikkan, dynamic, sedikit raunchy, punya pembelajaran saling melengkapi yang cukup solid, dan yang tak kalah penting, heart yang hangat kendati di balik background yang sama-sama ‘keras’. Konsep “when ‘someone who used to save lives’ met ‘someone who used to take lives’” termanfaatkan dengan cukup maksimal lewat gelaran rollercoaster love-hate relationship yang witty seiring dengan adegan-adegan aksi yang mendebarkan sekaligus menggairahkan, bahkan tak jarang mengejutkan di tangan dingin Hughes.
Above all, siapa sangka ia tak melupakan inti terbesar dari hidup dan menjadi alasan dari setiap langkah hidup manusia; love. THB pun memasukkan tema ‘love’ menjadi tujuan akhir yang manis berkat chemistry antara Ryan Reynolds-Elodie Yung serta Samuel L. Jackson-Salma Hayek, pembangunan atmosfer yang suportif, termasuk pemilihan soundtrack yang tak kalah gokil.
Mengedepankan perkembangan hubungan antar karakter bukan berarti mengabaikan sama sekali jalinan plot politis yang menjadi latar belakang cerita. Setidaknya THB masih menjalankan plot ini dengan porsi yang cukup tanpa mendistraksi pengembangan hubungan antar karakter dan punya konklusi dengan momentum yang klimaks dan glorious. Tak ketinggalan, wrap-up a la Lethal Weapon yang seolah menutup film dengan manis tapi tetap ‘gokil’.
Ryan Reynolds masih menyuntikkan sedikit banyak karakterisasi Wade Wilson alias Deadpool untuk karakter Michael Bryce. Tentu dengan porsi latar belakang depresif yang dikurangi dan menambah dosis comedic-nya. Begitu juga Samuel L. Jackson yang sama-sama belum beranjak jauh dari peran tipikalnya, seperti let’s say di Pulp Fiction, dengan tingkat comedic maupun bad-ass yang kurang lebih setara. Hanya saja dengan suntikan ‘heart’ lebih. Salma Hayek masih saja mempesona dengan aksi brutal yang tak kalah mengesankan dari perannya di Everly, lewat karakter Sonia. Penampilan Elodie Yung sebagai Amelia Roussel pun tak kalah mencuri perhatian di balik porsi yang tak terlalu banyak. Di lini-lini pendukung berikutnya, Gary Oldman sebagai Vladislav Dukhovich dan Joaquim de Almeida sebagai Jean Foucher tampil cukup sesuai dengan kebutuhan peran masing-masing meski belum sampai menjadi karkater-karakter yang cukup memorable.
Tata adegan Hughes yang ‘unik’, baik untuk kebutuhan aksi maupun komedinya, didukung secara maksimal oleh sinematografi Jules O’Loughlin yang mampu memompakan adrenaline sesuai kebutuhan adegan-adegan aksi lewat camera work yang dinamis tanpa ada yang terkesan membingungkan. Hanya saja beberapa bagian frame yang blurry (entah dengan tujuan atau alasan apa) terasa agak mengganggu. Apalagi kemunculannya tergolong banyak (ini bukan metode sensor karena keluhan yang sama juga terjadi di negara lain). Editing Jake Roberts pun menjaga porsi tiap elemen dan perkembangan plotnya serba seimbang dengan pace yang pas. Begitu juga musical score dari Atli Örvarsson yang secara efektif membangun nuansa keseruan adegan-adegan aksi sekaligus momentum comedic-nya. Tentu saja tak boleh melupakan pemilihan soundtrack yang tergolong gokil dalam mengiringi adegan-adegan yang ada. Mulai yang berirama old-school macam Sittin’ and Cryin’ the Blues dari Memphis Slim dan Willie Dixon, Ain’t No Love in the Heart of the City dari Bobby Bland, Ships on the Ocean dari Junior Wells, Just Because dari Lloyd Price, Human Nature dari Brutus Angel, I Wanna Know What Love Is dari Foreigner, dan Hello dari Lionel Richie, hardcode macam New Noise dari Refused, hingga Dancing in the Moonlight dari King Harvest yang manis.
Sebagai film bertema buddy, THB mungkin memang belum mengeskplor terlampau jauh. Namun dengan konsep pertemuan sosok-sosok yang cukup segar, chemistry yang klop dan mengasyikkan, adegan-adegan aksi yang intens, seru, dan kerap mengejutkan untuk diikuti, dan ‘heart’ yang manis, THB menjadi paket hiburan yang komplit untuk dinikmati. Sayang jika sampai terlewatkan di layar lebar. 

P.S. : Ada outtakes menggelitik setelah credit roll berakhir.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates