Sunday, August 13, 2017

The Jose Flash Review
The Emoji Movie

Saat ini smartphone mungkin sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski tetap saja ada tingkatan-tingkatan ‘ada harga ada rupa’, setidaknya fungsi-fungsi dasar smartphone sudah bisa dinikmati bukan lagi sebagai barang mahal. Saking smart-nya, mungkin tak sedikit yang bertanya-tanya seperti apa sih kinerja di balik kecerdasan fungsional mereka. Tony Leondis (story artist dari The Lion King 2: Simba’s Pride, The Prince of Egypt, dan Home on the Range yang pernah dipercaya untuk menyutradarai animasi Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch dan Igor) mencoba untuk menjelaskan kinerja di balik smartphone, terutama salah satu elemen paling populernya, emoji, secara imajinatif. 

Menggabungkan pendekatan treatment Inside Out, Toy Story, dan Wreck-It-Ralph!, yang ditawarkan animasi bertajuk The Emoji Movie (TEM) ini mungkin terdengar seperti pengulangan dengan modifikasi di sana-sini semata. Namun jika memang relevan dengan tujuan dan tergarap dengan menarik, mengapa tidak? Meski mendapatkan rating super-duper-rendah dari banyak pihak (seperti misalnya konsensus Rotten Tomatoes yang jatuh pada rating 8% dari 90 review dan skor 12 dari 100 pada Metacritic), saya tetap tertarik untuk mencoba menyaksikannya. Apalagi dari trailer yang mungkin memang tak terlalu menarik, tapi juga tidak terlihat akan menjadi sesuatu yang super buruk juga. Apalagi saya sudah tidak pernah mempercayai rating yang kelewat rendah ataupun kelewat tinggi. Kerap kali itu merupakan hasil campur tangan basis fan atau haters yang tentu saja jauh dari kata objektif. Toh beda kondisi kultur sosial tentu punya point of view yang berbeda pula, bukan?

Konon di dalam smartphone, tiap aplikasi merupakan satu universe yang berbeda satu sama lain dengan kehidupan sendiri-sendiri. Di Textopolis, tinggal para emoji dengan bentuk dan ekspresi yang berbeda-beda. Mereka bekerja sebagai emoji yang akan tampil di layar smartphone sesuai dengan pilihan pengguna. Tugas mereka memberikan ekspresi yang benar sesuai dengan identitas masing-masing emoji sehingga aplikasi teks bisa berjalan lancar.

Gene, putra dari pasangan emoji ‘meh’, sangat antusias untuk bekerja di Pusat Teks yang dikepalai oleh emoji paling basic, Smiler. Namun orang tuanya, Mel dan Mary, khawatir jika Gene tak bisa memberikan ekspresi ‘meh’ yang benar ketika dibutuhkan. Benar saja, ketika di hari pertama benar-benar digunakan oleh sang pengguna, Alex, Gene nervous dan gagal memberikan ekspresi wajah ‘meh’ yang benar. Alhasil di layar smartphone terlihat ekspresi wajah Gene yang berubah-ubah. Akibatnya, Gene harus segera dihapus oleh robot-robot Antivirus agar si pemilik tidak menganggap smartphone-nya malfungsi dan menghapus keseluruhan aplikasi. Gene berusaha kabur dan bertemu dengan Hi-5, mantan emoji populer yang sudah lama menganggur karena tidak dipakai. Hi-5 menyarankan Gene meminta bantuan hacker bernama Jailbreak untuk memprogram ulang dirinya sehingga dianggap emoji ‘meh’ sesungguhnya dan tidak dihapus.

Bertualanglah mereka menyusuri wallpaper smartphone dan melewati berbagai aplikasi dengan para robot antivirus yang terus mengejar. Petualangan mereka membuat aplikasi-aplikasi tersebut aktif sendiri hingga membuat Alex berpikir smartphone-nya rusak dan berniat untuk meng-install ulang, yang artinya eksistensi aplikasi sebagai tempat tinggal mereka terancam. Waktu semakin sempit bagi Smiler, seisi Textopolis, Gene, Hi-5, dan Jailbreak sebelum semuanya benar-benar berakhir.

Menjelaskan cara kerja smartphone yang rumit tak mudah, tapi dengan pendekatan serupa dengan yang dilakukan Inside Out dalam menjelaskan kinerja emosi manusia, universe yang digambarkan TEM secara cerdas dan imajimatif cukup mewakili. Memang tak kesemuanya mampu terepresentasi dengan tepat guna, seperti misalnya konsep keluarga emoji yang lebih merupakan elemen tambahan untuk memasukkan plot utama ketimbang sebagai bagian dari penjelasan cara kerja universe. Namun secara umum, apa yang dijelaskan cukup mewakili dan yang paling penting, mudah dipahami oleh penonton cilik sekalipun yang memang menjadi target audience utamanya.

Di atas bangunan universe tersebut dimasukkanlah tema utama yang sebenarnya cukup sering diangkat film animasi, tentang penerimaan diri apa adanya kendati berbeda dari kebanyakan (salah satunya yang paling saya ingat, Happy Feet). Tema yang bisa dimaklumi mengingat Leondis openly gay. Namun jangan khawatir, Leondis mengangkat tema ‘berbeda’ secara umum. Tidak ada satupun indikasi unsur LGBT yang diselipkan di dalamnya. Selain itu masih ada selipan tema persahabatan dan kecenderungan manusia era digital yang mengutamakan popularitas di atas segalanya. Tema-tema tersebut kemudian dibangun dengan petualangan antar aplikasi bak Wreck-It-Ralph dan dengan konsekuensi a la Toy Story, yang menjadi inspirasi utama Leondis dalam mengembangkan idenya. Konsep ‘what if’ emoji tidak lagi digunakan dan/atau aplikasi dihapus, setara dengan apa yang terjadi ketika mainan di Toy Story tak lagi dimainkan dan jadi favorit. Harus saya akui, hasil akhirnya menunjukkan perpaduan konsep yang menarik, pun juga punya relevansi yang kuat satu sama lain.

Seiring dengan penyusunan plot di atas konsep-konsep tersebut, tentu ia tak melupakan unsur hiburan, sebagaimana tujuan utamanya sebagai pure entertainment untuk segala usia. Terutama sekali justru, di bawah 18 tahun. Ada cukup banyak humor yang disebar sepanjang film. Mulai dari slapstick yang masih tergolong mild, plesetan istilah (tentu saja ini hanya dipahami oleh penonton tertentu yang familiar dengan idiom Bahasa Inggris), sindiran terhadap kecenderungan generasi saat ini yang tak bisa lepas dari smartphone, hingga humor-humor bereferensi pada pop culture yang tergolong sangat familiar bagi penonton cilik saat ini. Tak ketinggalan pula selipan unsur-unsur faktual tentang dunia gadget, seperti emoticon klasik, sebagai semacam tribute sekaligus materi humor yang setidaknya membuat tersenyum.

Pilihan desain karakter-karakter emoji yang diwajibkan konsisten terhadap satu ekspresi saja mungkin berhasil dalam menciptakan humor, seperti yang terjadi pada karakter Smiler. Namun di sisi lain, pilihan konsistensi ini juga punya konsekuensi yang berlawanan ketika diperlukan pada momen-momen emosional. Lihat saja momen Mel dan Mary yang seharusnya bisa begitu emosional dan menyentuh menjadi terasa tereduksi, bahkan menjadi bahan tertawaan. Gara-gara mereka adalah emoji ‘meh’ yang tetap berekspresi ‘meh’ ketika sedang sedih sekalipun. Pun demikian, masih ada momen-momen Gene bersama Jailbreak yang masih cukup terasa hangat dan manis.

Voice talent punya andil yang cukup besar dalam membangun serta menghidupkan karakter-karakternya. Mulai T.J. Miller yang punya keseimbangan antara comedic character dan charm yang cukup, James Corden yang jelas sekali cocok mengisi suara karakter comedic Hi-5, Maya Rudolph yang masih terdengar sinister di balik tone suara serba ceria dari Smiler, hingga Steven Wright dan Jennifer Coolidge yang berupaya membangun emosi di balik konsistensi serba ‘meh’. Hanya Anna Faris mungkin tak memberikan karakteristik yang cukup unik maupun spesial pada Jailbreak. Sementara di lini pendukung, ada Patrick Stewart sebagai Poop, Sofia Vergara sebagai Flamenco dancer, Rachael Ray sebagai Spam, dan tentu saja Christina Aguilera sebagai Akiko Glitter dari game Just Dance.

Departemen-departemen teknis tergolong suportif terhadap pembangunan nuansa dan plotnya menjadi terasa pas. Seperti editing William J. Caparella yang membuat pacenya berjalan seimbang dengan momentum-momentum yang cukup efektif pula. Score music Patrick Doyle lebih dari cukup dalam mengiringi atmosfer seru dan fun sepanjang film meski tak sampai menjadi sesuatu yang signatural. Pemilihan soundtrack yang pas dan lintas generasi, mulai ’80-an seperti We’re Not Gonna Take It dari Twisted Sister, Wake Me Up Before You Go-Go dari Wham!, hingga generasi milenial seperti Feel This Moment dari Pitbull & Charistina Aguilera, Cheerleader dari OMI, Watch Me (Whip/Nae Nae) dari Silento, dan Bubble Butt dari Major Lazer, jelas men-treat rentang usia penonton yang cukup luas secara adil. Terakhir, pilihan format 3D masih layak untuk dipertimbangkan. Meski tak ada pop-out gimmick, tapi kedalaman ruang di beberapa adegan, seperti tiap kali kemunculan robot Antivirus dan di universe aplikasi Spotify, cukup memberikan keindahan tersendiri.

Saya bersyukur tidak pernah percaya apa kata review maupun rating yang kelewat rendah. Terbukti sekali lagi, TEM bukanlah sajian animasi yang buruk. Dengan konsep yang meski tak sepenuhnya orisinil, tapi kombinasinya punya relevansi yang pas. Pun juga berbagai elemen penyusun sepanjang film yang kesemuanya tertata pada porsi pas. Memang tak sempurna, tapi juga jauh dari kata buruk. Malahan to be honest, salah satu animasi paling fun yang saya alami di tahun 2017 ini. Jangan ragu pula untuk mengajak anak-anak, apalagi yang sudah akrab dengan smartphone. Selain mengajak bersenang-senang dan memberikan value-value positif, bisa jadi juga dampaknya sama seperti setelah menonton Toy Story, merasa sayang ketika hendak menghapus aplikasi yang sudah lama akrab digunakan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates