Thursday, August 24, 2017

The Jose Flash Review
Cars 3

Di antara franchise animasi yang dimiliki Pixar, Cars termasuk salah satu yang menguntungkan. Dimulai dari Cars tahun 2006 yang berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 462 juta di seluruh dunia, Cars 2 yang dirlis tahun 2011 justru punya penghasilan yang meningkat, yaitu lebih dari US$ 562 juta. Selain itu dirilis pula spin-off Planes yang diproduksi di bawah DisneyToon dan mengumpulkan US$ 239 juta di seluruh dunia, serta sekuelnya, Planes: Fire & Rescue yang semakin jeblok dengan penghasilan ‘hanya’ sekitar US$ 151 juta. Di usia yang menginjak 11 tahun sejak installment pertama, Pixar menelurkan installment ketiga, Cars 3 dengan voice talent utama yang masih tetap, seperti Owen Wilson, Bonnie Hunt, Larry the Cable Guy, Tony Shalhoub, John Ratzenberger, serta tambahan dari Armie Hammer, Cristela Alonzo, Chris Cooper, dan Nathan Fillion yang mengisi suara karakter-karakter baru. Brian Fee yang sudah menjadi animator dengan berbagai jobdesk di Disney dan Pixar, termasuk storyboard artist di Cars, Ratatouille, Wall-E, Cars 2, dan Monsters University, dipercaya untuk menjadikan Cars 3 debutnya duduk di bangku sutradara, berdasarkan naskah yang disusun Kiel Murray dan Bob Peterson yang sudah sangat berpengalaman menggarap naskah animasi-animasi Pixar, serta Mike Rich yang pernah menyusun naskah Finding Forrester, The Rookie, Radio, The Nativity Story, dan Secretariat

Setelah menjadi juara Piston Cup selama 7 kali berturut-turut sekaligus legenda balapan, Lightning McQueen terancam oleh kehadiran pembalap-pembalap generasi baru. Di antaranya yang paling unggul adalah Jackson Storm yang menggunakan teknologi mutakhir untuk mendukung performa balapannya. Tak seperti pembalap-pembalap lain seangkatannya yang memilih untuk pensiun, McQueen nekad untuk terus melaju. Akibatnya kegagalan membuatnya kehilangan sponsor. Satu-satunya investor yang tertarik untuk membiayai pelatihan McQueen adalah Sterling di bawah pelatih muda Cruz Ramirez. McQueen tak menyukai metode pelatihan Cruz yang menyebabkan kerusakan parah di pusat pelatihan. Sterling mengancam McQueen harus berhenti balapan selamanya dan hanya menjadi endorser produknya jika ia gagal di season berikutnya di Florida. 
Maka berlatihlah McQueen dan Cruz yang akhirnya saling melengkapi metode masing-masing. Siapa sangka ternyata Cruz menyimpan bakat serta angan-angan terpendam untuk menjadi pembalap, bukan hanya pelatih. Waktu yang semakin mendesak membuat McQueen harus membuat keputusan penting atas masa depan karirnya di dunia balap. 
Tema ‘those dancing days are gone’ bukan lagi formula baru yang digunakan berbagai franchise besar di Hollywood. Apalagi untuk franchise yang sudah menelurkan begitu banyak installment dengan rentang waktu yang cukup lama, seperti Rocky, misalnya. Maka ketika Pixar memilih tema ini untuk installment (yang masih) ke-3 Cars dengan rentang waktu yang belum terlalu lama (hanya 11 tahun sejak film pertama), ini menjadi pertanyaan besar dalam benak saya. Apakah Pixar sudah kehabisan ide untuk mengembangkan kisah franchise Cars ke mana? Bisa jadi pengembangan tema petualangan a la espionage yang coba dihadirkan Cars 2 lalu ternyata tidak memuaskan penggemar, sementara tema yang berfokus pada kepribadian sosok McQueen (baca: tema karir atlet) sulit untuk berkembang ke ranah-ranah lain jika tak ingin sekedar pengulangan dengan background setting berbeda-beda. Tak masalah sebenarnya, meski harus disadari tema ‘pensiun’ tentu sangat berjarak bagi penonton cilik yang menjadi target audience-nya. Let’s say penonton yang menonton Cars pertama kali ketika masih SD saja sekarang masih menginjak bangku kuliah. 
Secara general, tema retirement yang disuguhkan Cars 3 sebenarnya tergarap lewat plot yang tersusun baik. Templatic tapi tersusun baik. Dengan poin-poin seputar retirement yang cukup thoughtful dan wise pula, terutama tentang peninjauan ulang passion hidup, tahu kapan harus berhenti, hingga yang tak kalah penting, saling mempelajari dan melengkapi metode old-school dan modern yang masing-masing punya kelebihan serta kelemahan tersendiri. Tak ketinggalan elemen serah-terima estafet warisan antar generasi yang bisa dijadikan ide cerita untuk installment-installment berikutnya. 
Sayangnya sebagai film animasi dengan target audience utama anak-anak, Cars 3 agaknya menjadi kurang menarik. Selain tema yang memang berjarak, adegan-adegan balapan yang seharusnya menjadi komoditas utama sejak awal juga terasa kurang punya excitement, selain sekedar pengulangan rutinitas semata. Terasa cukup jauh menurun jika dibandingkan seri-seri sebelumnya. Tema yang ‘kelewat dewasa dan serius’ ini memang tak sampai dibawa pada atmosfer yang kelewat kelam ataupun depresif, tapi tetap saja sulit untuk membuat penonton anak-anak bisa menikmati ‘perjalanan’ plotnya. Jangan heran jika penonton cilik merasa kebosanan sampai tertidur atau rewel. 
Ngomong-ngomong soal masa depan franchise, jika benar Cruz disiapkan untuk jadi fokus cerita di installment berikutnya, maka PR para kreator cukup banyak dan dengan beban yang berat. Jujur, in my opinion, desain karakter Cruz tak hanya masih jauh dari kesan ikonik ataupun memorable, tapi menjadi karakter yang menarik dan unik saja belum. Secara desain fisik, bandingkan dengan, let’s say, Mater, Luigi, atau Mack. Cruz terlihat tak beda dari mobil biasa lainnya dan kelewat polos (literally).
Para voice talent tetap masih secara konsisten menjaga kualitas karakter suara masing-masing. Mulai Owen Wilson sebagai McQueen, Larry the Cable Guy sebagai Mater, Bonnie Hunt sebagai Sally, Chris Cooper sebagai Smokey, John Ratzenberger sebagai Mack, Tony Shalhoub sebagai Luigi, Guido Quaroni sebagai Guido, dan Bob Peterson yang menggantikan Michael Keaton sebagai Chick Hicks. Sementara itu di lini karakter baru, Cristela Alonzo cukup menyuntikkan karakterisasi suara yang unik untuk Cruz.  Armie Hammer memang menyumbangkan karakter suara yang khas, tapi tak begitu mencolok  maupun punya keunikan karakter tersendiri sebagai Jackson Storm. Favorit saya adalah Lea DeLaria yang mengisi suara Miss Fritter, selain tentu saja faktor desain karakter yang memang menarik.
Sinematografi Jeremy Lasky dan Kim White tak menawarkan sesuatu yang istimewa. Kesemuanya sudah pernah dilakukan di seri-seri sebelumnya. Masih cukup efektif dalam bercerita dan menyampaikan beberapa emosional, tapi tak memberikan energi apa-apa untuk adegan-adegan race. Editing Jason Hudak pun sekedar merangkai plot dengan pace yang berjalan seimbang dan beberapa momentum emosional yang suportif. Untuk memberikan excitement, sayangnya masih jauh dari harapan, kecuali untuk adegan Thunder Hollow yang menurut saya paling mewakili spirit balapan yang sebenarnya. Musik Randy Newman pun masih belum beranjak jauh dari seri pertama. Masih sangat sinematik, grandeur, dan witty. Sayangnya dengan volume yang jauh di bawah dialog dan sound effect, musik-musik ilustrasi ini jadi terdengar sekedar pengiring. Fungsi pembangunan atmosfernya tidak terasa punya signifikansi. Pun juga tak ada yang terdengar benar-benar memorable. Sound design dan sound mixing terdengar cukup maksimal tertata dengan pembagian kanal surround yang memberikan kedalaman ruang lebih. 
Format 3D tak begitu banyak menawarkan keistimewaan selain kedalaman ruang yang sekedar fairly worked di beberapa adegan. Tak ada pop-out gimmick ataupun pop-out visual illusion yang dihadirkan sepanjang film. Sementara format 4DX memberikan sedikit excitement lebih, terutama lewat motion seat di banyak adegan, terutama saat ‘senam’ Zumba ala Cruz, semburan air yang cukup shocking, dan tentu saja tiupan angin di tiap adegan arena race yang lebih signifikan dalam upaya pembangunan atmosfer.
Cars 3 menurut kacamata saya merupakan upaya desperate Pixar yang kebingungan untuk mengembangkan franchise ke arah mana lagi. Bagi penonton dewasa mungkin masih bisa relate dan menikmati prosesnya, tapi jelas kelewat serius dan membosankan bagi penonton cilik. Semoga saja upaya untuk regenerasi dengan hadirnya Cruz bisa kembali mem-fuel up franchise. Desain karakter Cruz yang secara kepribadian lebih ceria dan bawel bisa jadi pertanda bagus. Meski tentu saja secara fisik masih perlu menemukan tampilan yang jauh lebih menarik dan ikonik dari yang ditampilkan di sini. Sebelum itu semua terwujud, sejauh ini Cars masih menjadi the least favorite Pixar franchise bagi saya pribadi. And I’m sure I’m not the only one. 

P.S.: Jangan terlambat masuk karena ada short animation Lou yang simple tapi imajinatif dan punya value yang bagus. Ada juga sedikit after credit scene.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates