Monday, August 28, 2017

The Jose Flash Review
Bareilly Ki Barfi
[बरेली की बर्फी]

Senyata kelahiran dan kematian, dipertemukan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan kita, termasuk pasangan hidup, bisa jadi merupakan takdir. Setidaknya berdasarkan pengalaman, itulah yang saya percaya. Setiap kejadian, termasuk dipertemukan dengan siapa saja, punya maksud dan tujuan tersendiri. Namun saya juga percaya, apa yang terjadi setelah pertemuan tergantung dari keputusan atas dasar free will dari masing-masing pribadi. Beberapa film pernah mengangkat ‘fenomena’ ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah film Perancis berjudul Le fabuleux destin d’Amélie Poulain dan Serendipity. Meyakini fenomena serupa, film Hindi dari sutradara wanita, Ashwiny Iyer Tiwari, istri dari Nitesh Tiwari, sutradara/penulis naskah Chillar Party dan Dangal. Ashwiny sendiri sempat mencuri perhatian lewat debutnya, Nil Battey Sannata (2015) dan remake versi Tamil-nya setahun kemudian, Amma Kanakku. Dari naskah yang ditulis sang suami bersama rekannya di Kill Dill dan Dangal, Shreyas Jain, film komedi romantis berjudul Bareilly Ki Barfi (BKB) ini punya Kriti Sanon (Heropanti, Dilwale, dan baru saja, Raabta), Ayushmann Khurrana (VJ MTV India yang makin dikenal setelah Vicky Donor dan Dum Laga Ke Haisha), Rajkummar Rao (Kai po che!, Queen, Raabta) di jajaran cast terdepannya serta narasi dari penulis naskah legendaris, Javed Akhtar (Don, Deewaar, Lakshya). 

Bitti adalah gadis desa di kota Bareilly, Uttar Pradesh, India. Meski semua orang terpesona ketika ia menari breakdance, tak satupun pria ada yang mau menikahinya. Maklum, Bitti punya kebiasaan-kebiasaan yang dianggap buruk sebagai perempuan oleh masyarakatnya, seperti merokok, kebiasaan menonton film asing berbahasa Inggris, dan tingkah-tingkah lain yang cenderung kelaki-lakian. Jauh dari kesan feminin. Bagi Bitti pun, kebanyakan pria yang terpental setelah bertemu langsung dengannya tak layak dijadikan suami karena dinilai egois dan tidak bisa menerimanya apa adanya. 
Ketika suatu hari memutuskan untuk menyendiri naik kereta api tanpa tujuan, ia menemukan buku berjudul Bareilly Ki Barfi yang ternyata tentang seorang wanita yang punya ciri-ciri mirip dirinya. Penasaran dengan sang penulis, Pritam Vidrohi, Bitti pun mencari tahu keberadaannya dan berniat sekedar ingin bertemu. Ia dibantu sang penerbit independen yang juga melayani percetakan berbagai jenis undangan, Chirag Dubey. Ternyata Chirag lah yang menulis buku Bareilly Ki Barfi sebagai pelampiasan setelah ditinggalkan oleh gadis pujaannya, tapi agar tidak menimbulkan polemik, ia menyuruh salah satu sahabatnya yang culun, Pritam Vidrohi, untuk menjadi identitas sang penulis. 
Chirag yang mulai jatuh cinta dengan Bitti masih takut untuk menyatakan isi hati kepadanya sehingga memutuskan untuk memperkenalkan Bitti pada Pritam. Ia mengajari Pritam untuk menjadi pria arogan dan tak sopan agar dibenci oleh Bitti serta keluarganya. Siapa sangka akal-akalan Chirag justru jadi backfire bagi dirinya sendiri.
Diadaptasi dari novel berjudul The Ingredients of Love karya penulis Perancis, Nicolas Barreau, tak heran jika BKB memiliki style penceritaan yang sangat Perancis, terutamanya Amélie. Mulai dari visualisasi pengenalan karakter dan universe-nya lengkap dengan narasi, line-line witty dan menggelitik yang terceletuk keluar dari bibir para karakter, hingga arah plot dengan kejadian-kejadian tak terduga merujuk pada tema takdir. Namun naskah menyuntikkan beberapa elemen romance yang lebih serius dan relatable bagi banyak penonton, seperti susah move on, ketakutan mengungkapkan perasaan, dan yang menurut saya bisa jadi bahan perenungan penting tapi jarang diangkat di film; bagaimana seseorang sebenarnya bisa menjadi begitu egois dan jahat ketika sedang jatuh cinta. Ini dengan sangat jelas disampaikan lewat konflik persahabatan antara Pritam dan Chirag. Chirag yang sejak awal digambarkan sebagai sosok protagonis perlahan dibalik menjadi sosok egois sehingga simpati penonton sebenarnya bisa saja pindah kepada Pritam, tapi ia tahu bagaimana cara membuat penonton tetap mengharapkan idealisme klise meski secara moral harus menerima konsekuensi dari perbuatannya selama ini dengan lapang dada.  Klimaksnya pun tergarap dengan begitu ‘menggerakkan’ lewat performa Ayushmann Khurrana sebagai Chirag yang punya kharisma pecinta begitu kuat di balik transformasi sikapnya yang terpresentasi dengan sangat natural dan realistis. Kesemuanya terbungkus dalam sebuah kemasan komedi romantis yang manis (barfi = manis), witty, dan yang terpenting, terasa begitu tulus terutama lewat dilematis karakter Chirag. Mengalir elegan lewat segala kesederhanannya. Fun dan menggelitik tanpa ada sesuatu yang terasa kelewat ‘meledak-ledak’.
Mengimbangi performa apik Ayushmann Khurrana, Kriti Sanon mungkin masih memerankan tipikal wanita modern yang berani memperjuangkan feminisme lainnya, tapi she’s still best at it. Apalagi pesonanya sebagai lead semakin meningkat. Rajkummar Rao pun menampilkan transformasi karakter Pritam dari culun menjadi badass dengan cukup mulus. Pun juga tahu betul menempatkannya sesuai konteks, menjadi gimmick komedi atau di momen-momen serius. Rohit Choudhary tak punya cukup porsi untuk tampil menarik ataupun mencuri perhatian lewat peran Munna. Begitu pula Swati Semwal sebagai Rama yang untungnya masih sedikit lebih mengesankan daripada Rohit. Terakhir, Pankaj Tripathi dan Seema Bhargava sebagai pasangan Narottam-Sushila Mishra cukup mencuri perhatian lewat bangunan-bangunan komedi situasional yang tergarap pas.
Di balik feel yang serba sederhana, teknik BKB sebenarnya cukup variatif dan menarik. Lihat saja bagaimana sinematografi Gavemic U Ary mengeksplorasi setting interior rumah perkampungan Bareilly dengan angle-angle dan camerawork yang variatif dan sejalan dengan konsep sinematik a la Perancis meski dengan effort yang tergolong sederhana. Editing Chandrashekhar Prajapati pun mampu menjaga keseimbangan antara komedi dan drama seriusnya menjadi sama-sama terasa maksimal sekaligus laju pace plot yang tergolong lancar. Musik dari Arko Pravo Mukherjee, Tanishk Bagchi, Samira Koppikar, Vayu, dan Sameer Udin lebih dari cukup untuk memperkuat konsep elegant in simplicity-nya. Masih terasa ada sedikit ‘aroma’ Perancis meski tak terlalu pekat untuk mempertahankan atmosfer aslinya. Ada nomor-nomor musikal yang cukup memorable, seperti Twist Kamariya dan Sweety Tera Drama yang festive. Sementara Nazm Nazm dan Bairaagi yang manis terdengar lebih generik, tapi Badass Babuaa yang berirama hip-hop cukup asyik untuk  bikin head-nodding.
Di balik kesederhanannya, siapa sangka BKB ternyata menyuguhkan kisah romance dengan tema takdir yang menggelitik, witty a la French romance, manis, menyentil aspek-aspek jatuh cinta yang jarang diangkat, dan punya momentum-momentum romantis yang terasa begitu tulus hingga ‘menggerakkan’. Sederhana tapi justru terkesan elegan olehnya. Ia otomatis menjadi Hindi romance favorit saya tahun ini. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates