Wednesday, August 2, 2017

The Jose Flash Review
Banda:
The Dark Forgotten Trail

Di pelajaran sejarah ketika duduk di bangku sekolah dulu selalu disebutkan bahwa bangsa-bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena memperebutkan rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, tapi saya tidak pernah tahu kenapa. Apa yang membuat rempah-rempah punya signifikansi bagi peradaban Barat? Sebuah film dokumenter produksi Lifelike Pictures yang pernah memproduksi Pintu Terlarang, Modus Anomali, dan Tabula Rasa, memberikan jawabannya. Tak hanya tentang seluk-beluk pala, tapi juga mengeksplorasi Kepulauan Banda yang pernah menjadi rebutan bangsa-bangsa Barat di abad ke 18. Di bawah sutradara Jay Subiyakto yang selama ini lebih dikenal sebagai sutradara video musik dan pertunjukan (terutama konser), Banda: The Dark Forgotten Trail (BTDFT) tak hanya mencoba menjadi film dokumenter yang sangat informatif, tapi juga disusun dengan pendekatan video musik yang stylish dan dinamis. Apalagi ditambah dengan narasi dari Reza Rahadian (untuk narasi berbahasa Indonesia) dan Ario Bayu (untuk narasi berbahasa Inggris), BTDFT tampak begitu menarik dan penting untuk disimak.

Penelusuran Kepulauan Banda dimulai dari tanaman yang menjadi komoditas utama, yaitu pala. Mengapa ia menjadi rebutan antara Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris dalam sejarahnya. Lantas apa yang terjadi setelah pala sudah tidak lagi menjadi komoditas yang menguntungkan dalam perdagangan dunia. Bagaimana kondisi demografi dan sosiologi penduduknya. Bagaimana ia menjadi bagian sejarah terpenting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, dimana tokoh-tokoh besar seperti Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir pernah diasingkan di Pulau Banda Naira. Bagaimana pula sejarah panjang tersebut mempengaruhi kondisi Banda kini dan signifikansinya terhadap bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Sebagai sebuah dokumenter tentang Banda, BTDFT menyajikan informasi-informasi yang tergolong komplit, terutama dalam kaitannya untuk memahami mengapa Banda (pernah dan hingga kini pun masih) punya pengaruh penting bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Disusun dengan runtut, baik secara kronologis maupun korelasi antar subjek. Secara keseluruhan menjadikannya sebuah pengalaman dan pemahaman yang menyeluruh terhadap Banda. Dengan visualisasi dinamis a la video musik (atau mungkin malah title film-film thriller) dan sangat pop, pengalaman yang disuguhkan terasa sangat asyik untuk diikuti dan mampu menjaga daya tarik subjek.
Kemasan yang menarik dan punya impact emosional terhadap penonton tak lepas dari dukungan teknis yang menurut saya punya peran penting yang setara dalam membangunnya. Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful (dengan dukungan kamera dari Oscar Motuloh, Dodon Ramadhan, hingga Davy Linggar) yang sangat berpengalaman sebagai DoP tentu tahu betul bagaimana bercerita lewat bahasa gambar, kendati menceritakan kejadian-kejadian yang telah lampau. Animasi karya SMK Raden Umar Said Kudus pun menambah dramatis shot-shot yang dihasilkan. Editing Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, dan Syauqi ‘Bimbo’ Tuasikal tak hanya berhasil menyusun adegan menjadi kronologis yang runtut dan punya korelasi yang koheren, tapi juga mampu menciptakan bangunan emosi yang sesuai dengan keperluan adegan. Apalagi masih ditambah iringan musik Lie Indra Perkasa yang membuat segala bangunan artistik maupun emosinya terasa lebih hidup, stylish, sekaligus powerful.
Voice talent dari Reza Rahadian merupakan pilihan yang tepat untuk menyampaikan narasinya. Gesture pengucapan naskah Irfan Ramli (dengan pilihan-pilihan kata yang mudah dipahami oleh semua umur dan lapisan masyarakat dari berbagai tingkat pendidikan) dan pilihan intonasi di berbagai kesempatan, menjadikan narasinya tak hanya informatif tapi juga punya kekuatan storytelling tersendiri.
Tak banyak film dokumenter yang disajikan dengan style semenarik dan se-pop BTDFT. Apalagi dengan informasi-informasi yang cukup mendalam dan disampaikan dengan runtutan yang enak untuk diikuti, BTDFT menjadi sebuah pengalaman sekaligus pemahaman yang menyeluruh tentang subjeknya, Banda. Baik sejarah masa lampau, kini, ide-ide tentang masa depan. Tentu saja harapannya membuat penonton semakin mengenal bangsa kita sendiri dan pada akhirnya semakin menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk memajukan bangsa. Dengan visual yang tertata apik, sayang rasanya jika tidak mengalaminya di layar lebar dengan fasilitas audio-visual yang mumpuni.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates