Saturday, August 26, 2017

The Jose Flash Review
Bad Genius
[ฉลาดเกมส์โกง]

Ujian menjadi bagian penting dari dunia pendidikan di negara manapun, yang mana masih menjadikannya tolak ukur keberhasilan seseorang dalam pendidikan. Namun film yang secara khusus membidik tentang ujian tingkat pendidikan tergolong masih jarang diangkat. So far hanya The Perfect Score (2004) yang masih saya ingat dalam memori. Maka apa yang diangkat oleh PH terinovatif Thailand, GDH 559 (sebelumnya GTH) di tahun 2017 ini menjadi sajian yang menarik. Disutradarai Nattawut Poonpiriya (Countdown) dari naskah yang disusun Tanida Hantaweewatana (Hormones), Vasudhorn Piyaromnam (May Who), dan Nattawut sendiri, film bertajuk Bad Genius (BG) ini meletakkan model Chutimon Cheungcharoensukying alias Aokbab, Eisaya Hosuwan yang baru saja kita lihat di Siam Square, Teeradon Supapunpinyo alias James, dan Chanon  Santinatornkul alias Nonkul yang keduanya pernah mendukung serial Hormones. Dengan kultur dan sistem pendidikan yang serupa dengan kita di Indonesia, tak sulit bagi BG untuk terasa dekat dengan penonton kita.

Lynn, siswi terpintar di SMA-nya berniat membantu Grace, sahabat yang dikenalnya sejak pertama kali masuk, sekedar lolos naik kelas. Siapa sangka niatan baik tersebut berkembang ketika Pat, pacar Grace yang anak orang kaya, mengetahui rahasia mereka selama ini dan menawarkan uang banyak kepada Lynn untuk ikut ‘membantu’-nya dalam ujian. Lynn yang punya impian besar akan masa depan pendidikannya menerima tawaran menggiurkan tersebut. ‘Kelompok’ contekan Lynn makin berkembang hingga Grace dan Pat dikirim kuliah di Amerika Serikat oleh orang tua Pat. Pat mengira selama ini nilai Pat melesat karena diajar oleh Grace. Namun untuk bisa berkuliah di Amerika Serikat, mereka harus mengikuti ujian STIC (semacam SAT) yang digelar serentak di seluruh belahan dunia. Lagi-lagi Lynn tergiur untuk mendapatkan uang banyak secara instan. Diaturlah siasat besar-besaran. Lynn dan seorang ‘jenius’ lainnya di sekolah mereka, Bank, akan mengikuti ujian STIC di belahan bumi yang paling awal menggelar tes, yaitu Sydney, sehingga kemudian jawaban-jawabannya bisa diteruskan kepada para ‘klien’ yang telah dikumpulkan Pat dan Grace di Thailand. Tentu saja semakin tinggi tingkatan tesnya, semakin ketat peraturan-peraturannya, dan harus semakin lihai juga strategi yang harus mereka pasang.
Di permukaan terluarnya, Poonpiriya mentransformasi fenomena mencontek dan kerjasama saat ujian yang tak lekang waktu menjadi thriller yang begitu intens bak film heist. Mulai dari metode yang sederhana (yang pasti sangat familiar bagi yang pernah bersekolah) hingga yang ekstrim. Untuk metode-metode ekstrim, sekilas terdengar jenius dan bikin geleng-geleng kepala saking tak terpikirkannya. Meski setelah dianalisis lagi, sebenarnya mustahil. Terutama sekali metode tuts piano. Ada juga pengkondisian yang sebenarnya mustahil dan bertujuan memuluskan flow plot semata, terutama untuk adegan klimaks (I mean come on. Bagaimana mungkin bisa membawa masuk handphone dengan aman hingga toilet yang letaknya selalu berada setelah counter inspeksi?). Selain itu tingkat pengamanan yang digambarkan di sini sebenarnya terasa begitu obsolete. Mustahil akal-akalan seperti yang digambarkan di film lolos semudah itu. Once again, atas nama penjagaan pace dan memuluskan plot, kompromi-kompromi harus dilakukan. Namun berkat penanganan yang sangat dinamis dan memicu adrenaline lewat gelaran thriller-nya, terutama camera work Phaklao Jiraungkoonkun yang bersinergi sangat baik dengan editing Chonlasit Upanigkit dan musik Vichaya Vatanasapt (bahkan termasuk theme song Maung Chun Tee yang merupakan versi daur ulang dari Why Can’t You See, dibawakan oleh pemenang The Voice Thailand, Image Suthita, yang sangat mewakili spirit film), makin mendukung pembangunan suasana intens, sehingga masih mampu mendistraksi perhatian penonton. Setidaknya dengan mengikuti plot dan pace lapisan terluarnya, penonton (umum) tidak punya cukup waktu untuk memikirkan aspek logikanya.
Above all, BG sebenarnya merupakan tamparan terhadap sistem pendidikan yang berlaku di manapun. Ketidakadilan dimana si miskin sulit mendapatkan kesempatan meraih pendidikan setinggi mungkin, bahkan dengan kecerdasan luar biasa. Sementara si kaya bisa bebas memilih pendidikan yang diinginkan meski seringkali belum sesuai dengan kemampuan diri. Dari sudut siswa, ada pula pembelajaran bahwa akal-akalan saat ujian tak ada gunanya karena yang terpenting kemudian adalah ketika benar-benar menjalaninya. Ironi dari karakter Bank dan konklusi emosional dengan hati begitu besar pada karakter Lynn dan sang ayah menjadi nilai lebih yang melengkapi value film. 
Dipercaya mengisi peran lead, Lynn, Aokbab memberikan performa yang terlihat maksimal. Lihat saja ekspresinya dalam menghantarkan adegan-adegan intens, pun juga momen-momen emosional terutama bersama Thaneth Warakulnukroh yang mengisi karakter sang ayah. Nonkul pun mengimbangi dengan tampil tak kalah kuatnya sebagai Bank. Masih ditambah perkembangan dan turnover karakter yang tersusun baik. Sementara Eisaya Hosuwan sebagai Grace dan James sebagai Pat tampil cukup catchy, baik secara tampilan fisik maupun kharisma akting. 
Secara umum, BG memang menawarkan sesuatu yang terasa fresh dan berhasil menjadi hiburan yang mendebarkan lewat tema yang secara mudah relate dengan siapa saja yang pernah duduk di bangku sekolah di belahan dunia manapun. Dengan kritik serta tamparan terhadap sistem pendidikan sekaligus fenomena sosial yang tak beda dengan di Indonesia, BG sekaligus menjadi bahan perenungan yang thoughtful tentang inti dari pendidikan itu sendiri. Film yang tertata begitu baik dengan hasil yang punya impact begitu kuat. Paduan yang tergolong jarang ada di ranah sinema manapun.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates