Wednesday, August 30, 2017

The Jose Flash Review
Baby Driver

Kiprah sutradara Inggris, Edgar Wright dengan style film-filmnya yang ‘nyeleneh’ tapi asyik dengan mudah dilirik dan bahkan dipuja oleh banyak moviegoers di dunia. Terutama lewat Cornetto Trilogy (istilah yang kemudian muncul karena di masing-masing film menunjukkan referensi terhadap tiga rasa es krim Cornetto yang berbeda) yang terdiri dari Shaun of the Dead (2004), Hot Fuzz (2007), dan The World’s End (2013), serta tentu saja Scott Pilgrim vs. the World (2010) yang dianggap sebagai sebuah game-changer. Maka tak heran jika tiap kali perilisan film terbarunya selalu mendapatkan perhatian serta antusiasme khusus. Itulah yang membuat Baby Driver (BD) jadi hype tersendiri, selain tentu saja ‘gebrakan’ lain yang dilakukan Wright. Menggandeng Ansel Elgort (The Fault in Our Stars, franchise Divergent), Kevin Spacey, Lily James, Jamie Foxx, John Hamm, Eiza González, CJ Jones, hingga penyanyi, Sky Ferreira yang sebelumnya juga pernah mendukung di The Green Inferno. Daya tarik lain tentu saja jajaran soundtrack list-nya yang membentang lintas genre dan era, mulai era ’60-an hingga ’90-an. 

Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai sopir aksi-aksi perampokan untuk bos kriminal, Doc, sebagai bentuk pelunasan hutang, Baby berencana untuk berhenti. Apalagi dengan dorongan dari CJ, ayah angkatnya yang tuna rungu. Baby adalah yatim-piatu sejak kecil setelah kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Baby sendiri mengidap tinnitus sehingga tak pernah lepas dari iPod dan musik. Ia memanfaatkannya sebagai pemicu adrenaline-rush selama ‘beraksi’. Kepiawaiannya dalam mengendarai mobil yang menyukseskan berbagai aksi kejahatan membuat Doc enggan untuk melepaskan Baby begitu saja. Baby yang sudah berniat membuka lembaran baru, termasuk bersama Debora, pramusaji tempat ia biasa makan, yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Sambil menjalankan aksi terakhirnya bersama Buddy, Darling, dan Bats, Baby terus-terusan mencari cara untuk melarikan diri bersama Debora. Tentu saja mereka semua tak ada yang rela membiarkan Baby kabur. Rangkaian aksi saling serang pun dimulai.
Di atas kertas, apa yang ditawarkan Wright bak perpaduan tema one-last-job yang sudah berulang kali ditampilkan di sub-genre crime (bahkan Fast and Furious berkali-kali mengingkari ‘janji’ one last job di tiap installment-nya) dan extreme romance a la True Romance. Tentu desain universe membuatnya menjadi lebih menarik. Misalnya karakter Baby yang dibuat mengalami tinnitus atau Doc yang kerap berganti-ganti personel untuk menjaga keamanan aksi-aksi yang dilancarkannya selama ini. Perpaduan yang sebenarnya cukup jamak dilakukan, tapi dengan style yang memadukan driving style a la Drive (2011 - dibintangi Ryan Gosling dan Carey Mulligan) dan music-driven a la franchise Iron Eagle (1986-1995). Yang disebutkan terakhir lah yang menjadi highlight sekaligus concern terbesar Wright untuk BD.
Memanfaatkan playlist dengan range yang cukup lebar, baik dari segi genre (soul, blues, R&B, hingga hardcore rock) maupun era (’60-an hingga ’90-an), Wright menyusun mood gelaran adegan-adegan aksi hingga romantis menjadi satu kesatuan yang secara konstan mengasyikkan. Sejak pembuka dengan iringan Bellbottoms dari The Jon Spencer Blues Explosion, Harlem Shuffle dari Bob & Earl (yang opening tune-nya lebih dikenal saat ini sebagai opening tune Jump Around dari House of Pain), Egyptian Reggae dari Jonathan Richman & The Modern Lovers, The Edge dari David McCallum (yang digunakan sebagai sampling The Next Episode dari Dr. Dre), Tequila dari Button Down Brass, hingga Brighton Rock dari Queen. Kesemuanya membangun masing-masing adegan secara signatural hingga membuat kesemuanya menjelma menjadi adegan-adegan yang memorable. Bagi penonton kekinian, playlist ini bisa sekaligus menjadi ensiklopedia musik lintas era yang menarik untuk diketahui.
Tak hanya menggunakan playlist (yang bahkan durasi total di CD albumnya mendekati total durasi film) yang membuktikan referensi musiknya yang luar biasa, Wright masih menambahkan berbagai elemen sound effect dalam adegan untuk memperkuat konsep music-driven-nya. Terutama sekali dapat dirasakan lewat suara tembakan, ledakan, dan baku hantam yang beritme, mengikuti 'ketukan' iringan soundtrack-nya. Termasuk juga sinematografi Bill Pope dengan camera work yang sangat suportif dalam pembangunan konsep secara keseluruhan serta editing Jonathan Amos dan Paul Machliss dengan timing luar biasa pas dalam menyatukan keseluruhan elemennya.
Naskah Wright pun menjalankan plot dengan lancar, baik dari segi perkembangan karakter Baby maupun sisi romantisnya. Memasukkan lirik-lirik lagu sebagai bagian dari dialog, bahkan memanfaatkan nama-nama karakter dan referensi-referensi lagu yang mengandung nama mereka sebagai pick-up line dan joke, turut membuat BD sajian hiburan yang gokil. Tak ketinggalan juga berbagai referensi pop-culture yang diselipkan di sana-sini sebagai materi humor yang menggelitik, seperti misalnya kesalah-pahaman antara Michael Myers (sosok pembunuh di franchise horor Halloween) dan Mike Myers (pemeran karakter ikonik, Austin Powers). 
Penulisan karakter yang serba menarik di balik pemilihan nama-nama alias yang juga cukup ikonik otomatis membuat mereka menjadi memorable. Apalagi kemudian memang dibawakan dengan sangat baik oleh para aktornya. Seperti Ansel Elgort yang menghidupkan karakter Baby dengan tingkat coolness dan emotional yang seimbang. Begitu juga chemistry manis yang dibangunnya bersama Lily James. Kevin Spacey, seperti biasa, menunjukkan kharisma villainous yang kuat sekaligus menggelitik. Jon Hamm dan Eiza González membuat pasangan Buddy-Darling mencuri perhatian lewat romansa a la Bonny & Clyde-nya. Jamie Foxx masih memerankan sosok villain dengan sisi humor yang menarik yang sedikit mengingatkan saya akan peran sejenis yang ia bawakan di Horrible Bosses. Terakhir, tentu pantang untuk tidak menyebutkan CJ Jones sebagai CJ yang menyumbangkan ‘hati’ cukup besar ke dalam film, serta penampilan singkat Sky Ferreira sebagai ibu Baby.
Dengan perpaduan yang tepat, BD menjadi sajian pengalaman sinematis yang tergolong one of a kind. Lebih dari sekedar menghibur, ia merupakan pertunjukan drive-and-bang-along berirama yang secara konstan asyik dinikmati sepanjang film. Salah satu pengalaman sinematis yang pantang dilewatkan di layar bioskop dengan kualitas audio-visual terbaik. Sekali lagi Wright membuktikan diri sebagai sineas unik yang karyanya layak masuk berbagai daftar film terbaik sepanjang masa.
Lihat data film ini di IMDb.


The 90th Academy Awards Nominee for:

  • Best Achievement in Film Editing - Paul Machliss & Jonathan Amos
  • Best Achievement in Sound Editing 
  • Best Achievement in Sound Mixing
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates