Friday, August 18, 2017

The Jose Flash Review
Atomic Blonde

Dunia tak akan pernah cukup melahirkan tokoh-tokoh jagoan baru di film, tak terkecuali bergender wanita yang harus diakui punya daya tarik tersendiri. Setelah ‘era kejayaan’ Angelina Jolie yang pernah menjelma menjadi sosok Lara Croft, Evelyn Salt, Mrs. Smith, dan Fox (Wanted) dan di era ini ada Scarlett Johansson (Black Widow di Marvel Cinematic Universe, Lucy, dan Major (Ghost in the Shell), aktris asal Afrika Selatan, Charlize Theron pun tak mau ketinggalan kembali mengambil peran kick-ass heroine pasca Æon Flux dan Furiosa di Mad Max: Fury Road. Kesempatan terbaru ini berasal dari sutradara David Leitch, yang sebelumnya bertindak sebagai stuntman, stunt coordinator, sekaligus fight choreographer dari film-film blockbuster seperti Fight Club, Mr. & Mrs. Smith, X-Men Origins: Wolverine, The Bourne Legacy, dan pernah dipercaya menyutradarai beberapa adegan di John Wick, film pendek Deadpool: No Good Dead, dan upcoming, Deadpool 2. Naskahnya disusun oleh Kurt Johnstad (300, Act of Valor, dan 300: Rise of an Empire) berdasarkan novel grafis The Coldest City keluaran Oni Press karya Antony Johnston dan Sam Hart. Didukung James McAvoy, John Goodman, Toby Jones, Sofia Boutella, hingga aktor Jerman yang sering main di film Hollywood, Til Schweiger, Atomic Blonde (AB) yang merupakan kisah espionage ini berpotensi berkembang menjadi franchise baru setara John Wick.

November 1989. Agen wanita MI6, Lorraine Broughton, dipanggil untuk interogasi yang dihadiri sang atasan, Eric Gray dan agen CIA, Emmett Kurzfeld, terkait tewasnya agen James Casciogne di Berlin Timur 10 hari sebelumnya ketika membawa informasi rahasia tentang agen-agen lapangan Soviet di Eropa Barat. Lorraine pun menceritakan awal misinya ketika dikirim ke Berlin untuk mendapatkan daftar yang menjadi incaran banyak pihak dan menghabisi Conrad Satchel, agen yang dikabarkan berkhianat dan menjadi dalang di balik kematian Gasciogne. Dibantu seorang kontak bernama David Percival, seorang petugas Stasi bernama Spyglass, wanita seksi bernama Delphine, dan seorang pembuat jam misterius, misi Lorraine dihadang oleh pemasok senjata KGB, Aleksander Bremovych dan anak buahnya yang tampaknya turut mengincar informasi daftar tersebut. 
Sebenarnya sebutan John Wick versi wanita tak salah disematkan untuk aksi Agen Lorraine Broughton yang memang punya ilmu beladiri setara dengan style koreografi, visualisasi, dan serta bangunan universe senada. Namun secara keseluruhan, AB ternyata punya jalinan plot tak sesederhana John Wick. Plot espionage yang berbelit dan serius ini memang sudah berasal dari novel grafis The Coldest City. Fokus pada pengembangan plot espionage seperti halnya Tinker Tailor Soldier Spy dan minim adegan aksi. Naskah Johnstad serta pengarahan Leitch lantas menambahkan adegan-adegan aksi stylish untuk menambah daya tariknya sebagai film hiburan. 
Sayangnya, porsi perkembangan plot espionage yang cukup rumit masih dipertahankan. Memang tak sampai jadi jatuh kelewat serius seperti halnya Tinker Tailor Soldier Spy, tapi agaknya Johnstad masih belum cukup mampu meng-handle plot seserius dan serumit itu sehingga butuh konsentrasi dan effort menganalisis lebih serius dari penonton untuk memahaminya. Jika Anda memilih untuk mengabaikan perkembangan plot, maka AB akan menjadi sajian yang semakin menyesatkan dan membosankan. Apalagi jarak antara satu adegan aksi spektakuler ke berikutnya cukup terbentang lama. 
Namun tak perlu khawatir soal gelaran adegan-adegan aksinya. Apa yang ‘dijanjikan’ di trailer ada semua dengan tingkat kespektakuleran yang sama. Dengan koreografi yang sebenarnya tak terlalu inventif tapi tetap mampu menghadirkan suasana intens dan begitu enjoyable berkat camera work Jonathan Sela (John Wick) yang meski mengusung konsep handheld tapi masih terasa smooth serta editing Elísabet Ronaldsdóttir yang mempertajam pace adegan-adegan aksinya. Teknik ilusi long take (seolah-olah terasa seperti long take, padahal terdiri dari beberapa take yang dirangkai dengan transisi pergerakan kamera) membuat adegan-adegan aksi brutal terlihat lebih nyata. Tentu saja ini menambah intensitas adegan bagi penonton. Musik dari Tyler Bates dan pemilihan tracklist populer era 80’an (mostly pop dance), semakin memper-stylish berbagai adegan aksinya menjadi jauh lebih seru dan asyik untuk dinikmati. Mulai Blue Monday ’88 dari New Order, Cat People (Putting Out Fire) dari David Bowie, 99 Luftballons (versi Nena maupun ballad versi Kaleida - juga mengisi soundtrack John Wick), Father Figure dari George Michael, London Calling dari The Clash, Stigmata dari Marilyn Manson, Behind the Wheel dari Depeche Mode, hingga Under Pressure dari Queen dan David Bowie. 
Charlize Theron kembali membuktikan diri bahwa dirinya masih pantas mengisi peran kick-ass heroine. Bahkan mungkin melebihi sosok Aeon Flux maupun Furiosa. Ada keseimbangan yang pas antara sosok dingin dan kegaharan yang mematikan. James McAvoy pun mengimbangi dengan baik lewat sosok David Percival yang tak kalah slengean dan mematikan. Sofia Boutella tampil semakin memikat lewat pesona fisik dan kharisma keseksiannya sebagai Delphine Lasalle. Eddie Marsan, John Goodman, Toby Jones, dan James Faulkner berlakon pas sesuai porsi masing-masing. Bill Skarsgård sedikit mencuri perhatian lewat peran Merkel. Terakhir tak boleh mengabaikan Til Schweiger sebagai Sang Pembuat Jam yang punya kharismatik misterius yang pekat.
Selain sinematografi, editing, dan musik, desain produksi David Scheunemann tak luput memanjakan mata. Di tangannya, setting Berlin 1989 menjadi begitu stylish bak punya universe tersendiri. Gelap, tapi dihiasi temaram warna-warni neon yang mencolok serta berpadu serasi. Desain kostum Cindy Evans pun menambah kesan eye-candy, terutama untuk karakter Lorraine Broughton yang tiap penampilannya begitu mencolok.
Plot serius dan berbelit-belit AB memang masih belum ter-handle maksimal menjadi sajian yang asyik untuk diikuti. Butuh konsentrasi dan effort analisis lebih untuk memahaminya. Namun secara keseluruhan, AB masih menjadi sajian aksi espionage yang stylish, dengan koreografi a la John Wick, desain produksi yang eye-candy, dan tentu soundtrack era ’80-an yang paduannya jelas menaikkan level keasyikan menikmati adegan-adegan aksinya. Seksi sekaligus eksplosif.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates