Saturday, August 12, 2017

The Jose Flash Review
Annabelle: Creation

Reputasi James Wan sebagai produser spesialis horror jaminan mutu semakin terkukuhkan dengan lahirnya The Conjuring Universe. Terbukti ‘pancingan’ sosok-sosok horror ikonik yang ia sebar di dua installment The Conjuring (dan rupanya masih akan terus berlanjut) begitu diminati, bahkan dengan antusiasme tinggi oleh penggemar sekaligus penonton umum di seluruh dunia. Diawali dengan spin-off pertama, Annabelle (2014) yang meski lebih banyak mendapatkan review negatif tapi berhasil mengumpulkan US$ 256.9 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 6.5 juta. Tentu ini membuat New Line Cinema, Warner Bros., dan James Wan sendiri selaku produser, percaya diri untuk ‘menebus’ seri Annabelle dengan follow-up. Gary Dauberman yang kembali ditunjuk menyusun naskahnya memilih untuk mengembangkan prekuel bertajuk Annabelle: Creation (AC) dengan setting country (pedesaan) Amerika Serikat era ’50-an. Ini bisa jadi sedikit penyegaran setelah mengambil setting suburban dan country Amerika Serikat, serta suburban Inggris era ’70-an. Bangku sutradara dioper ke David F. Sandberg yang sukses mengangkat film pendek fenomenalnya, Lights Out ke layar lebar dan menarik perhatian Wan. Di deretan cast, ada Stephanie Sigman yang pernah kita lihat di Spectre, Miss Bala, dan terakhir belum lama ini, Once Upon a Time in Venice, Anthony LaPaglia, Miranda Otto, dan si cilik yang ‘keranjingan’ bermain di film horror, Lulu Wilson (Ouija: Origin of Evil).

Pasangan Mullins yang dikenal sebagai pembuat boneka kehilangan putri semata wayang mereka, Annabelle, yang tewas dalam sebuah kecelakaan. Dua belas tahun tanpa kehadiran anak, mereka memutuskan untuk mengundang anak-anak dari panti asuhan beserta seorang suster biarawati, Suster Charlotte, tinggal di rumah mereka. Di antaranya adalah Janice yang kesulitan berjalan karena terkena wabah polio. Ia dituntun oleh sosok misterius masuk ke dalam kamar yang Samuel Mullins larang untuk dimasuki. Suasana di dalam kamar pun lebih ganjil lagi. Awalnya Suster Charlotte dan anak-anak yang lain tak percaya. Namun ketika satu persatu juga mulai mengalami kejadian mengerikan, Janice sudah semakin dikuasai oleh kekuatan jahat. Kemisteriusan sosok pasangan Mullins rupanya memang menyimpan rahasia selama dua belas tahun terakhir.

Di atas kertas, AC memang tak menawarkan sesuatu yang baru. To be honest, horror dengan melibatkan boneka sudah punya pakem formula tersendiri, termasuk juga motivasi yang sudah menjadi rahasia umum. Namun bukan itu komoditas utama yang ditawarkan oleh AC, melainkan bagaimana ia menjadi sajian horror yang efektif. Toh, bukankah itu yang selalu menjadi tujuan utama penonton berbondong-bondong merasakan pengalaman horror di bioskop? 

Sandberg ternyata pilihan sutradara yang jitu untuk membawa AC ke level yang jauh melewati predesesornya. Sebenarnya pendekatan horror Annabelle yang mengambil referensi utama dari Rosemary’s Baby tak buruk, tapi rupanya sudah tak relevan dengan selera style horror penonton sekarang. Maka Sandberg membawa AC dengan pendekatan yang tak begitu jauh dari induknya, The Conjuring, citarasa old-fashioned classical horror. Namun tentu saja Sandberg tak serta merta mengikuti pendekatan style Wan di The Conjuring. Ia memanfaatkan dengan cukup maksimal skill terbaiknya, yaitu dalam membangun tensi lewat segala elemen teknisnya, mulai properti (misalnya kursi pengangkut di tangga, lift barang, dan bohlam lampu), pencahayaan, sound effect, camera work (terutama pergerakan kamera untuk menjaga timing revealing) dan sinematografi Maxime Alexandre, musical score Benjamin Wallfisch, serta yang tak kalah penting, editing Michel Aller yang menjaga segala elemen-elemen ini dengan timing yang serba tepat. Alhasil, kesemua setpiece adegan horror yang ia sajikan berhasil secara efektif menekan kekhawatiran dan rasa takut penonton. Penonton bak sedang berada di sebuah wahana rumah hantu yang dipenuhi rasa takut dan was-was atas apa yang akan terjadi pada diri mereka.

Meski termasuk yang paling penting dalam sebuah sajian horror, sayangnya keberhasilan AC hanya sampai di situ saja. Sandberg agaknya masih belum terlepas dari teknik pengembangan film pendek. Untuk film panjang, tentu ada pengembangan plot yang utuh dan along the way, intensitas yang klimaks. Keduanya tergarap dengan baik di The Conjuring dan sekuelnya, tapi belum teraplikasi di AC. Secara keseluruhan, AC menjadi semacam rangkaian segmen-segmen kejadian horror. Plotnya tak bergerak banyak karena sebenarnya hanya menunggu revealing dan konklusi. That’s still fine, actually. Namun tak salah juga jika AC tak pernah menyentuh titik terklimaksnya. Secara keseluruhan film jika digambarkan dalam bentuk grafik, tak ada titik yang lebih tinggi daripada titik tertinggi di masing-masing segmen. Bandingkan misalnya dengan The Conjuring dan sekuelnya yang punya klimaks utama yang begitu maksimal, melebihi klimaks masing-masing setpiece adegan horror. Bahkan menekan sisi emosional yang cukup mendalam, hasil dari bond-investment yang terbangun sejak awal. AC belum punya itu. 

Sebagai kompensasi, AC menambah daya tarik lewat hint-hint trivia penampakan sosok-sosok ghaib yang (mungkin) akan dihadirkan di The Conjuring Universe berikutnya, termasuk tentu saja Suster Valak di The Nun yang memang sudah diproduksi untuk tayang musim panas 2018 mendatang. Selain itu, sedikit aftermath yang menjelaskan kaitan AC dengan Annabelle pun tergolong memuaskan dan menjadikan konsep keseluruhan seri menjadi lebih menarik.

Performa aktris-aktris cilik menjadi highlight akting terkuat di AC. Mulai transformasi Talitha Bateman dari sosok Janice yang lugu dan penakut menjadi mengerikan, Lulu Wilson yang tetap mengesankan sebagai Linda, protagonis yang lugu tapi cerdas (berlawanan dengan karakter antagonis yang ia perankan di Ouija: Origin of Evil), hingga penampilan singkat tapi memberikan kesan kemisteriusan yang cukup kuat dari Samara Lee sebagai Bee Mullins. Stephanie Sigman tampil cukup baik sebagai karakter ‘pengimbang’, Suster Charlotte. Sementara Anthony LaPaglia dan Miranda Otto menunjukkan kemisteriusan yang convincing dan cukup mengesankan sebagai pasangan Mullins. Tak boleh dilupakan juga Grace Fulton sebagai Carol dan Philippa Coulthard sebagai Nancy yang ‘menghiasi’ layar dengan layak sesuai porsinya.

Dibandingkan predesesornya, AC jelas jauh lebih berhasil dan efektif, terutama dalam membangun ketegangan lewat (hampir) semua elemen teknisnya. Secara satu kemasan utuh, memang belum mencapai keberhasilan dua installment The Conjuring, termasuk dalam upaya menjalin ikatan emosi karakter dengan penonton. Namun apa yang disajikan Sandberd di AC masih tergolong sangat berhasil memenuhi ekspektasi tujuan utama penonton dan penggemar horror menikmati film horror di layar lebar. Semoga saja skill dan sense Sandberg terus berkembang dan franchise The Conjuring Universe bisa menjaga kestabilan kualitas dan reputasinya.

N.B.: Jangan lupa ada 2 after credit scene. Satu yang mempertegas hubungan antara AC dengan The Conjuring, yaitu di antara end title cards dan credit roll, satu lagi yang memberikan hint setting The Nun, ada setelah credit roll selesai.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates