Wednesday, August 30, 2017

The Jose Flash Review
American Made

Status superstar Tom Cruise sampai detik ini belum pudar. Maka tak heran jika studio-studio major Hollywood masih dengan senang hati meletakkannya di garda depan, bahkan tak jarang menjadi satu-satunya komoditas daya tarik film. Tak hanya yang pure blockbuster, tapi juga film-film serius yang berpotensi menjadi tontonan segmented. American Made (AM) yang merupakan biopik dari tokoh nyata, Barry Seal, adalah salah satu contohnya. Karakter Barry Seal sendiri sebenarnya pernah muncul di beberapa film karena punya kaitan erat dengan tokoh mafia Kolumbia paling populer, Pablo Escobar. Sebut saja dokudrama Doublecrossed (1991) dan The Infiltrator yang baru beberapa bulan lalu menyambangi bioskop kita. Hanya saja tentu akan jauh berbeda jika menggunakan treatment blockbuster dari aktor kelas A, Tom Cruise dan sutradara Doug Liman (Mr. & Mrs. Smith, The Bourne Identity, Edge of Tomorrow). Dari naskah Gary Spinelli yang pernah masuk 2014 Black List, AM masuk menjadi salah satu peran Tom Cruise paling menarik dari daftar panjang filmografi-nya.

Barry Seal yang berprofesi sebagai pilot maskapai komersial, TWA, tergiur ketika ditawari ambil bagian dalam misi CIA oleh seorang agen bernama Monty Schafer. Tugasnya hanya melewati wilayah-wilayah tertentu di Amerika Selatan untuk memotret bukti-bukti kegiatan pasukan gerilya. Kesuksesan misi demi misi yang menuai pujian para petinggi negara membuatnya tertarik untuk terlibat lebih jauh. Siapa sangka ternyata kiprahnya dilirik oleh Kartel Medellin dan menawarinya untuk menyelundupkan kokaina produksi mereka ke Louisiana. Tentu dengan tawaran upah yang sangat besar membuatnya tergiur, mengingat kenaikan upah dari CIA tak pernah dianggap sementara mulai ada kehadiran anak-anak yang harus dinafkahi di dalam keluarganya. 
Kegiatan Barry lama-kelamaan terendus oleh DEA. Untuk melindungi Barry, CIA menyiapkan rumah khusus untuk Barry dan keluarganya di kota terpencil di Arkansas bernama Mena. Sebagai gantinya, tugas Seal di CIA merangkap pengiriman senjata untuk pasukan pemberontak Amerika Selatan bernama Contras. Seal pun terlibat makin jauh, terjepit di antara pemerintah Amerika Serikat dan Kartel Medellin Amerika Selatan. Meski merengguk harta melimpah sampai bingung mau menyimpannya di mana lagi, Seal menjadi incaran banyak pihak. Begitu juga dengan nyawa dirinya dan keluarganya.
Secara garis besar AM memang masih tak jauh-jauh dari biopik bertema mafia ataupun drug smuggling, terutama Blow (2001) yang dibintangi Johnny Depp dan Penélope Cruz. Namun di tangan Liman, AM punya treatment yang sangat fun dan playful. Dimulai dari bumper Universal Pictures yang dimodifikasi sedemikian rupa dan color tone a la Technicolor yang disesuaikan setting era ’70-an hingga penggalan-penggalan footage asli yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan narasi (favorit saya; memasukkan footage-footage film yang dibintangi Ronald Reagan sebagai narasinya di kehidupan nyata). Begitu playful, termasuk kejadian-kejadian yang dialami karakter Barry Seal yang membuatnya lebih seperti sebuah film dark comedy. Sedikit banyak mengingatkan saya akan treatment yang digunakan Martin Scorsese di Wolf of Wallstreet. Dengan treatment demikian, tak heran jika intensitas terasa cukup terjaga sepanjang film. Apalagi dengan skill Liman dalam membangun adegan-adegan action dan thriller yang tak perlu diragukan lagi. 
Hanya saja dengan intensitas yang konsisten sepanjang film membuat klimaksnya menjadi tak begitu terasa. Meski perkembangan plotnya lebih dari cukup untuk menggugah pemikiran saya akan ironi jebakan lingkaran setan yang justru berasal dari keinginan untuk mengabdi pada negara, tapi masih sulit bagi saya untuk cukup peduli akan nasib para karakternya, terutama sekali Barry Seal yang diposisikan sebagai highlight utama. Don’t get me wrong. Tom Cruise, as usual, tampil begitu kharismatik dalam menghidupkan karakter Barry Seal, termasuk untuk urusan keseimbangan antara karakter serius dan komedinya (itu sebabnya ada kalanya Seal terasa sebagai pribadi yang rapuh. Itu bukanlah kekurang-kuatan karakternya, tapi memang sengaja didesain demikian). Sarah Wright sebagai Lucy Seal pun mengimbangi Cruise dengan performa yang terasa kuat dan (justru) lebih mengundang simpati penonton di balik fisik yang memang mempesona (bak perpaduan Kim Basinger dan Rachel McAdams). Domnhall Gleeson pun cukup mencuri perhatian sebagai Monty Schafer yang misterius dan licik. Begitu juga Caleb Landry Jones sebagai JB yang sempat memancing emosi penonton. Sementara Jesse Plemons sebagai Sherriff Downing dan Lola Kirke, Judy, terasa seperti tak punya impact yang cukup signifikan dalam keseluruhan film. Jayma Mays justru sedikit lebih mencuri perhatian lewat karakter Dana Sibota yang punya porsi peran lebih terbatas.
Teknis AM tergolong suportif terhadap konsep film secara keseluruhan. Sinematografi César Charlone banyak menyuguhkan konsep handheld tapi terasa sangat jelas dalam upayanya bercerita dan sangat nyaman untuk diikuti. Sinergi dengan editing Saar Klein, Andrew Mondshein, dan Dylan Tichenor membuat momentum adegan-adegan mendebarkannya berhasil. Musik dari Christophe Beck mempertajam kesan fun dan playful, bersama dengan pilihan-pilihan soundtrack yang tak kalah gokil. Termasuk penggunaan A Fifth of Beethoven versi Walter Murphy yang disatukan menjadi sebuah rangkaian medley yang mengiringi adegannya dengan sangat gokil.
Dengan kemasan yang fun dan playful, AM menjadi biopik yang gokil. Bukan treatment yang benar-benar baru ataupun fresh, tapi masih sangat jarang digunakan dan hasilnya cukup berhasil. Pun juga bagi saya mampu menjadi sajian yang thought-provoking sebagai ironi dari quote legendaris John F. Kennedy, “ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”, yang justru menjadi sumber dari lingkaran setan dan semakin dalam menghantarkan pada jurang kegelapan. Hanya saja saya kesulitan untuk bersimpati pada karakter Seal secara emosional. Bisa jadi faktor kemasan yang fun dan playful sehingga mendistraksi di momen emosionalnya. Nevertheless, AM masih menjadi sajian asyik sekaligus cukup menggugah. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates