Monday, August 21, 2017

The Jose Flash Review
A: Aku, Benci, dan Cinta

Popularitas bintang muda Jefri Nichol dan Amanda Rawles selepas Dear Nathan semakin meroket tak terbendung. Keduanya kemudian dipasangkan kembali di Jailangkung dan masih di tahun yang sama dipertemukan lagi di A: Aku, Benci, dan Cinta (AABC), sebuah drama romantis remaja dengan bumbu komedi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi (sebelumnya juga merupakan karya tulis yang dipublikasikan di Wattpad sebelum diterbitkan dalam bentuk buku, sama seperti Dear Nathan). Naskah adaptasinya disusun oleh Alim Sudio yang sudah berpengalaman menyusun puluhan naskah film, termasuk yang diadaptasi dari novel, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Surga yang Tak Dirindukan, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Cinta Laki-Laki Biasa, dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Rizki Balki sebagai film debutnya setelah dikenal sebagai sutradara TVC. Selain Jefri dan Amanda, digandeng juga nama-nama bintang muda populer seperti Indrah Permatasari ({rudy habibie}, Pesantren Impian, Athirah, dan Stip & Pensil), Brandon Salim (di hari yang sama ada dua filmnya yang dirilis, satunya The Underdogs), Syifa Hadju, dan Maxime Bouttier.

Anggia yang menjabat wakil ketua OSIS sebal setengah mati terhadap sang ketua OSIS, Alvaro, yang kerjaannya hanya flirting dengan para siswi lainnya. Ajaibnya, semua siswi bermimpi bisa menjadi kekasihnya tanpa memperdulikan fakta bahwa Alvaro hobi tebar-tebar pesona ke mana-mana. Menjelang prom night, Alvaro mengejek Anggia tak ada pria yang mau mengajaknya ke prom night. Saking kesalnya, Anggia sesumbar akan datang ke prom dengan pria yang jauh lebih baik dan tampan daripada Alvaro. Takdir justru makin mendekatkan Anggia dan Alvaro. Anggia yang mendapat nilai C untuk ujian musik harus ujian ulang dengan Alvaro sebagai tutornya. Sebaliknya, Alvaro harus memperbaiki penilaian sikapnya di sekolah dengan menjadi tutor musik Anggia. Keduanya pun semakin dekat meski masih terus mengalami pasang-surut hubungan. Di saat yang bersamaan, Anggia diperkenalkan kepada Alex oleh sang kakak, Dani. Sosok Alex yang baik, tampan, sopan, dan pintar bernyanyi membuat Anggia otomatis jatuh cinta. Melihat kedekatan Alex dan Anggia membuat Alvaro cemburu. Siapa sangka ternyata Alvaro dan Alex punya masa lalu yang membuat keduanya berseteru gara-gara gadis bernama Athala yang sedang koma setahun terakhir. Anggia semakin bingung dengan kondisi ini.
Tak banyak formula plot yang benar-benar baru dapat ditawarkan di genre drama romantis. Mungkin hanya bisa memberikan variasi dari formula-formula yang sudah ada. Apa yang ditawarkan AABC, sejak setup cerita hingga konklusi, pun sebenarnya masih tergolong sangat formulaic. Hanya saja ada komplikasi cerita lebih yang coba dikombinasikan untuk memperunyam plot. Ada dua plot utama yang sebenarnya bisa tetap menjadi sajian manis lewat salah satu saja; kebencian  antara Anggia dan Alvaro yang berubah menjadi cinta karena kedekatan sebagai tutor musik, dan pertaruhan Anggia mencari pasangan yang lebih baik daripada Alvaro ke prom night. Dua-duanya punya potensi yang sama baiknya jika salah satu saja dikembangkan secara terfokus. Either naskah atau pengarahan yang membuat keduanya tak berjalan beriringan secara seimbang. Ini masih ditambah dengan sub-plot tentang hubungan Alex-Alvaro-Athala yang semakin membuat flow pergerakan plot semakin tersendat-sendat. Jika alasannya adalah untuk menjaga kesetiaan terhadap materi aslinya, sebenarnya masih bisa ditata dengan struktur yang lebih runtut dan nyaman untuk diikuti. 
Namun di kemasan terluar, AABC masih punya daya tarik yang membuatnya terkesan fun dan segar. Memasukkan visualisasi-visualisasi fantasi dan jokes menggelitik yang lebih dominan ketimbang feel romance drama-nya, AABC menjadi sajian yang sangat menghibur. Mengingatkan akan teenage rom-com a la Thailand dan Cina yang ternyata style-nya relevan dalam menyampaikan joke-joke Indonesia. Tak ketinggalan pula pembangunan feel yang tak boleh dilupakan di ranah film remaja; youth spirit yang naif tapi ceria dan segar. AABC punya spirit tersebut dengan kadar yang tergolong pas dan menyatu dengan konflik yang dihadirkan.
Kembali dipercaya mengisi peran lead, Jefri Nichol mungkin masih belum beranjak jauh dari tipikal karakter remaja pria slengean tapi punya pesona yang ‘dimanfaatkan’ semaksimal mungkin pada karakter Alvaro. Namun ia terasa makin luwes dalam membawakan peran tersebut dengan range emosi yang juga mengalami sedikit perkembangan sesuai porsi dan kebutuhan peran. Indah Permatasari pun masih menggunakan kharisma akting yang memang sudah ada pada dirinya sejak pertama kali terlihat di belantika perfilman Indonesia, meski di sini mungkin belum dimaksimalkan. Pengucapan dialog-dialog berbahasa Inggris sedikit memperlemah pembangunan karakternya, tapi setidaknya kebutuhan-kebutuhan emosi dalam adegan tersampaikan dengan cukup jelas. 
Dengan porsi yang tergolong terbatas, Brandon Salim tak punya cukup kesempatan untuk membuat karakter Alex punya daya tarik lebih selain sekedar ‘memperkeruh’ konflik. Begitu juga dengan Amanda Rawles yang ternyata tak punya porsi peran yang signifikan sebagai Athala. Syifa Hadju sedikit mencuri perhatian lewat tampilan fisiknya meski kharisma aktingnya masih belum terlihat dengan porsi yang tergolong sangat terbatas. Pencuri perhatian terbesar tentu saja TJ Ruth yang lagi-lagi memanfaatkan kapasitas skill komediknya yang besar secara maksimal sebagai Bu Hana.
Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful tak menawarkan sesuatu yang baru maupun istimewa selain sekedar mampu menyampaikan gelaran plot dan dramatisasinya secara pas. Editing Ahsan Andrian masih mampu menjaga laju plot dan comedic timing, tapi masih kebingungan menjahit beberapa sub-plot menjadi satu kesatuan yang padu. Artistik Allan Sebastian menyuguhkan warna-warni cerah sebagai manifestasi youthful spirit yang berhasil menjadi salah satu elemen pembangun nuansa serta mood film secara keseluruhan. Ditambah musik dari Donny Irawan dan Alfa Dwiagustiar yang memperkuat spirit serta nuansa komedi dan manis-nya romance meski tak ada yang terdengar benar-benar signatural untuk bisa diingat dalam jangka waktu lama, selain tentu saja melodi dari Terima Kasih Cinta dan nomor musikal Puisi Anggia yang terdengar catchy, baik secara melodi maupun lirik yang punya pertalian dengan plot.
Secara keseluruhan AABC memang belum menemukan perpaduan yang pas untuk merangkai sub-plotnya menjadi kesatuan yang solid dan enak diikuti. Namun dengan kemasan yang segar, spirit youthful, dan gelaran dialog dengan punchline menggelitik, AABC masih menjadi komedi romantis remaja yang sangat menghibur. Pun juga dengan penampilan aktor-aktris pengisi peran-peran utama populer yang mampu mengangkat berbagai feel film yang ingin dicapai meski pemilihan aktor-aktris pendukung terlihat masih kurang menarik.  

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates