Wednesday, July 26, 2017

The Jose Flash Review
War for the Planet of the Apes

Remake atau reboot sudah jadi hal yang lumrah di Hollywood. Namun apa yang dilakukan Fox untuk Rise of the Planet of the Apes (RotPotA) ini tergolong unik. Meski memegang hak atas novel karya penulis Perancis, Pierre Boulle, yang diterbitkan pertama kali tahun 1963, dan pernah diangkat ke layar lebar sebanyak lima seri sejak tahun 1968, dan di-remake oleh Tim Burton pada 2001, bukan ide Fox untuk kembali me-remake-nya. Adalah prakarsa pasangan suami-istri penulis naskah yang pernah menyusun naskah The Relic, Rick Jaffa dan Amanda Silver, yang beride ketika mengumpulkan berbagai fakta tentang simpanse. Fox kemudian memberikan lampu hijau untuk memproduksinya dengan menunjuk Mark Bomback untuk membantu memodifikasi naskah tersebut, terutama memasukkan berbagai tribute dari materi aslinya. Kesuksesan RotPotA, baik secara komersial (mengumpulkan US$ 481.8 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 93 juta) maupun resepsi kritikus, produksi sekuel Dawn of the Planet of the Apes (DotPotA) segera terlaksana dengan keuntungan yang ternyata lebih besar lagi (US$ 710.6 juta di seluruh dunia dari budget US$ 235 juta).

Sampailah Fox ke seri ketiga. Karena statusnya yang bukan murni remake maupun reboot, tim punya kebebasan penuh ingin membawa pengembangan kisah ke mana. Sutradara RotPotA, Matt Reeves, kembali menjadi ‘komandan’ sekaligus menulis naskahnya dengan bantuan Mark Bomback yang memang sudah terlibat dalam penyusunan naskah sejak film pertama.
Jika RotPotA banyak mengambil referensi dari Conquest of the Planet of the Apes (installment ke-empat dari versi pertama), maka installment ketiga yang diberi tajuk War for the Planet of the Apes (WftPotA) ini memilih untuk mengambil referensi dari Battle of the Planet of the Apes, installment kelima dari versi pertama yang sekaligus menjadi pamungkasnya. Apakah ini artinya WftPotA akan menjadi seri terakhir dari versi ketiga? Well, ada baiknya kita melihat dulu apa yang disuguhkan di WftPotA ini.
Setelah militer AS memburu koloni para kaum kera yang terus berkembang, baik secara jumlah maupun intelijensia, kaum kera yang dipimpin oleh simpanse cerdas bernama Caesar, memilih untuk  menetap di sebuah hutan tersembunyi. Kedamaian hidup mereka terusik oleh serangan tim pasukan yang berkode Alpha-Omega. Sejumlah besar kaum kera ditangkap, termasuk anak bungsu Caesar, Cornelius. Caesar pun berniat mencari markas pasukan yang juga menjadi lokasi penyekapan kaumnya, dengan didampingi orangutan bijak bernama Maurice, seekor gorila bernama Luca, dan Rocket, simpanse yang dipercaya menjadi letnan Caesar.
Perjalanan mempertemukan mereka dengan seorang gadis anak manusia bisu yang akhirnya mereka bawa serta karena belas-kasihan, dan simpanse yang juga bisa bicara, Bad Ape. Hingga akhirnya berhadapan langsung dengan Sang Kolonel dari Pasukan Alpha-Omega. Dibakar dendam amarah, Caesar dihadapkan pada pergulatan batin antara mengikuti insting asli binatangnya atau menjadi kera yang lebih beradab setelah perkembangan yang ia alami selama ini.
Melanjutkan perkembangan kaum kera yang semakin cerdas dan beradab setelah terinfeksi virus Simian, WftPotA kembali mengangkat pergulatan batin terutama dari sosok sang pemimpin, Caesar. Sebagai spesies simpanse, tentu masih ada insting binatang buas yang tersembunyi. Namun dengan perkembangan kecerdasan yang terjadi, ia punya pilihan untuk mengambil keputusan sesuai dengan perkembangan dirinya, di balik dendam atas apa yang dilakukan manusia terhadap keluarga dan kaumnya. Ditambah lagi nasehat dari Maurice yang selalu mengingatkannya untuk tidak jatuh menjadi just another Koba.
Konsep utama tersebut kemudian dipadukan dengan plot pencarian dan strategi pembebasan yang sangat terasa sekali mengambil referensi terutama dari kisah Nabi Musa dan Ben-Hur. Bahasa isyarat kera dengan subtitle Bahasa Inggris (dan tentu juga Bahasa Indonesia untuk teritori Indonesia) membuat pengalaman mengikuti perkembangan plot menjadi lebih menarik. Ada kalanya memang penyusunan adegan terasa seperti fragmen-fragmen terpisah dengan koherensi antar adegan yang sedikit kurang halus, tapi dengan sedikit kesabaran sebenarnya terlalui dengan tidak begitu terasa di balik durasinya yang mencapai 140 menit. Apalagi kemudian pecah perang yang disajikan dengan tingkat intensitas yang tinggi dan konklusi yang glorious berkat kepiawaian camera work dan framing dari sinematografi Michael Seresin, sharp editing dari William Hoy dan Stan Salfas, serta salah satu yang terpenting, score music dari Michael Giacchino yang tak hanya membawa kembali feel film-film bertema sejenis di era 60-70’an, tapi juga menaikkan level taste majestic dan kemegahan sinematik. One of the best musical score in 2017, atau bahkan selama  beberapa tahun terakhir.
Tak hanya konsep ‘evolusi’ kaum kera dan plot pembebasan, DotPotA juga tak lupa membubuhkan perkembangan (atau sebenarnya lebih tepat disebut sebagai revealing) penting dari premise besar keseluruhan trilogi versi ketiga ini. Dikemas tidak secara terang-terangan sehingga cukup menimbulkan keterkejutan ketika dimunculkan. Sebuah revealing yang sebenarnya kembali mempertanyakan masa depan manusia (sebagai spesies) yang tersisa setelah semua yang terjadi, seiring dengan kelanjutan perkembangan kaum kera. Apakah akan semakin mencapai sisi ‘kemanusiaan’-nya atau masih berada di tengah-tengah antara manusia dan kera.
Kualitas akting Andy Serkis dalam merepresentasikan sosok Caesar mengalami ujian yang semakin meningkat di sini. Di luar ekspektasi, di WftPotA Serkis berhasil memberikan performa terbaiknya sepanjang karir sebagai aktor motion capture selama ini. Lihat saja bagaimana ia bereaksi di momen-momen paling emosional yang jumlahnya sangat banyak di sini. Dengan kharisma yang terus meningkat, tampaknya Serkis siap untuk menapak level karir akting yang lebih tinggi. Woody Harrelson mengimbangi performa Serkis secara head-to-head lewat karakter Sang Kolonel yang tampak beringas dan tanpa ampun.
Di lini pemeran pendukung pun, baik dari sudut manusia maupun kaum kera tampil sama baiknya. Terutama Karin Konoval yang terasa sekali kebijaksanaannya di balik sosok Maurice, Sara Canning sebagai Lake, dan si pencuri perhatian terbesar, Steve Zahn (Bad Ape) yang juga berhasil menjalankan fungsinya sebagai comedic character. Terakhir, tentu tak boleh mengabaikan penampilan si cilik Amiah Miller sebagai Nova yang cukup jelas mengekspresikan emosi dan komunikasinya tanpa dialog.
Kemegahan visual dan musik pengiring WftPotA masih diperkuat lagi lewat sound design serta sound mixing. Dengan dukungan Dolby Atmos, sound design memberikan detail yang luar biasa. Mulai ambience hutan yang terdengar begitu kaya dan detail sehingga seolah membawa penonton benar-benar di tengah hutan dikelilingi oleh kaum kera buas, ditambah suara gemericik air dari berbagai kanal yang memberikan feel kedalaman dimensi ruang, hingga suara ledakan dan tembakan yang terdengar powerful. One of the best use of Dolby Atmos facility so far.
Dengan kombinasi berbagai konsep dan elemen, WotPotA menjadi sebuah konklusi yang bold tentang sisi kemanusiaan, baik dari kaum manusia sendiri maupun dari kaum kera yang berkembang menjadi semakin ‘manusia’. Pertanyaan ‘what it takes to reach humanity?’ seolah dilontarkan sekaligus dijawab terutama lewat karakter sang pemimpin, Caesar. Namun masih ada pertanyaan tentang bagaimana nasib sisa manusia yang selamat tapi kondisi keceradasannya kian menurun dan bagaimana ia hidup berdampingan dengan kaum kera yang justru berkembang sebaliknya. Pertanyaan yang akan menimbulkan rasa penasaran penonton jika kelak dikembangkan menjadi sekuel berikutnya. Apalagi seri selanjutnya kelak masih belum punya pijakan referensi yang benar-benar pasti dari versi-versi sebelumnya. Semoga saja menjadi sesuatu yang lebih menarik lagi dengan mengulik konsep-konsep yang lebih thoughtful. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates