Sunday, July 30, 2017

The Jose Flash Review
TEN: The Secret Mission

Wanita-wanita seksi. Jago bela diri. Misi espionage. Paduan formula yang sudah sangat jamak dilakukan di ranah sinema manapun. Mulai produksi kelas A Hollywood seperti Charlie’s Angels hingga produksi kelas B macam film-film karya Andy Sidaris yang populer di era 80-an dengan istilah BBB alias Bullets, Bombs, and Boobs. Sensualitas akan selalu menjual, apalagi dipadukan dengan kemampuan beladiri yang semakin menambah sisi sensual wanita. Resep itulah yang ingin coba dihadirkan oleh Vicky G. Saputra, co-founder sekaligus CEO Papilon Group yang menerbitkan majalah pria dewasa, Popular, sebagai salah satu bentuk ekspansi bisnis terbarunya. Menggandeng sutradara Helfi Kardit yang pernah menangani puluhan film multi genre, di antaranya Miracle, Lantai 13, Mengaku Rasul: Sesat, Arisan Brondong, Arwah Goyang Karawang, BrokenHearts, Guardian, dan Kacaunya Dunia Persilatan, digelarlah audisi menjaring sepuluh orang model bergelar Miss Popular yang digembleng berbagai seni bela diri yang berbeda-beda selama dua setengah bulan, mulai Pencak Silat, Kung Fu, Taekwondo, Park Our, Muay Thai, Kravmaga, Karate, hingga memanah dan menembak.

Memulai syuting sejak akhir 2015, film bertajuk TEN: The Secret Mission (10TSM) ini mengklaim tidak digarap dengan main-main. Pasca-produksinya memakan waktu 6 bulan sendiri, termasuk pengerjaan CGI dari Rudi Kawilarang Epix Studio, sound mixing 7.1. Total budget yang dikeluarkan pun tergolong banyak, yaitu sebesar US$ 3 juta. Seolah mengabaikan cemoohan film tak bermoral, formula yang memang akan selalu ‘menjual’, dan jika digarap dengan layak, mengapa tidak? 10TSM akhirnya mendapatkan jadwal rilis di bioskop-bioskop nasional 27 Juli 2017 dengan distribusi dari StarVision Plus.

Sepuluh wanita muda yang awalnya berniat mengikuti pemotretan dari sebuah agensi model, dijebak untuk mengikuti program pelatihan militer sebuah satuan bernama SIS (Secret Intelligence Service) di sebuah camp tersembunyi. Awalnya mereka berusaha menolak karena tidak mau mati konyol, tapi ancaman dari Mayor Cathy yang ditunjuk menjadi komandan mereka, kebutuhan akan uang berjumlah besar yang menjadi iming-iming, dan tergugah untuk melakukan sesuatu yang mulia bagi orang lain, mereka akhirnya bersedia. Waktu mereka hanya tinggal lima hari sebelum langsung terjun menjalankan misi penyelamatan anak duta besar Amerika Serikat, Kelly, yang diculik oleh sekelompok teroris di sebuah pulau terpencil. Tak hanya Mayor Cathy, kesepuluh wanita yang ternyata punya background ilmu bela diri yang berbeda-beda ini juga didukung oleh Kolonel John dan Kapten Dalton. 

Premise-nya memang teramat sangat generik di genrenya. Helfi pun tampaknya sengaja menghindarkan atmosfer yang kelewat serius dan membuat 10TSM sebagai sajian yang murni menghibur dengan memasukkan elemen-elemen konyol, termasuk dialog-dialog yang sekilas terdengar quottable, tapi ternyata jika disimak lengkap, konyol luar biasa. Bodoh, tapi niscaya akan kerap membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Konteksnya memang lebih ke ‘mentertawai’, bukan hanya ‘tertawa’, tapi itu juga merupakan bentuk hiburan tersendiri, bukan? Bahkan nilai hiburan-nya bisa jadi bertambah ketika penonton terpancing untuk menciptakan kelanjutan tiap adegan yang bisa jadi tak kalah konyolnya (atau tak kalah ngeres-nya?).

Hadirnya sepuluh wanita dengan kemampuan bela diri jelas tidak mungkin dibekali karakterisasi yang spesifik. Selain akan membuat film berjalan makin bertele-tele, tak ada penonton yang perduli juga selain kemolekan lekuk tubuh (meski hanya sampai sebatas bikini saja, tak ada yang sampai benar-benar polos, off-screen sekalipun) dan aksi mereka menghajar para teroris, bukan? So yes, Helfi cut ‘em out as well. Silakan penonton menentukan pilihan SIS favorit masing-masing dan mengarahkan perhatian kepadanya sepanjang film.

Secara keseluruhan 10TSM memang terkesan seperti film main-main dengan menampilkan kebodohan demi kebodohan (oh let’s say kekonyolan saja deh) yang akan spontan mengundang tawa penonton. Namun untuk urusan gelaran adegan-adegan aksinya, ia ternyata sama sekali tak main-main, terutama untuk adegan klimaksnya yang punya pace dinamis sesuai kebutuhan. Koreografi dari SFC Team (yang sebelumnya menata aksi bela diri di Gangster) terlihat tergarap serius. Begitu pula penampilan kesepuluh model dan para aktor pendukung lainnya. Didukung juga oleh sinematografi Novy Kardit yang membidik detail adegan aksi pertarungan dengan jelas, serta editing Cesa David Luckmansyah, Indra W. Kurnia, dan Codie yang punya momentum cukup pas dalam menjaga kedinamisannya. Agak kelewat panjang, tapi beberapa aksi yang hingga melibatkan sedikit gore berdarah-darah cukup menjaga semangat untuk tetap menyaksikannya. Tata suara dari Khikmawan Santosa dan Mohamad Ikhsan Sungkar terdengar cukup layak dalam mendukung keseruan adegan, meski tak sampai kelewat superior lewat kejernihan, power, maupun pembagian kanal surround-nya. Musik dari Andhika Triyadi pun tergolong cukup memompa energi adegan-adegan aksinya meski tak sampai pula jadi memorable.

Selain kesepuluh model Popular (Ayunia Elfahrez, Shela Nadine, Gege Fransiska, Yenny Arianti, Rhere, Lavenia, Ismi Melinda, Putri Riri, Echa Frauen, dan Putri Zairah), Jeremy Thomas punya kharisma yang cukup (dengan mengesampingkan line-line patriotik yang ternyata punya inti konyol) sebagai sosok Kolonel John. Begitu juga debut dari Gibran Marten (ya, anak dari Roy Marten dan adik dari Gading Marten) sebagai Kapten Dalton yang cukup luwes membawakan perannya, termasuk dalam beraksi. Hanya saja masih terbata-bata dan pemenggalan kalimat yang kurang pas ketika membawakan dialog panjang. Karenina Maria Anderson terasa paling ‘menonjol’ (baik secara konotasi maupun denotasi, if you know what I mean) lewat karakter Mayor Cathy yang cadas, kasar, dan kerap membentak-bentak. Svitlana Zavialova sebagai salah satu kaki tangan pihak teroris, Jane, juga sempat mencuri perhatian lewat aksi wushu-nya. Sementara Hans De Kreker sebagai Paul, sang pemimpin teroris, agaknya terpilih asal sekedar bule. Sama sekali tak menunjukkan wibawa sebagai villain sama sekali selain sekedar jago membentak-bentak. Tanpa ilmu bela diri yang cukup layak pula.

10TSM memang tipikal trash movie yang penuh dengan kebodohan dan kekonyolan, entah disengaja atau tidak. Anggap saja kebodohan dan kekonyolan tersebut sebagai gimmick humor yang ingin diusung untuk menjaga film tetap terasa fun di balik setting yang sebenarnya serius. Ditambah kemolekan tubuh kesepuluh model Miss Popular dan aksi bela diri yang tergarap serius, nikmati saja sebagai produk pure hiburan main-main jika Anda masih penasaran untuk mencicipinya. Mengutip salah satu line Cathy di film yang saya modifikasi sedikit menjadi kesan singkat yang saya sematkan di banner paling atas.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates