Wednesday, July 12, 2017

The Jose Flash Review
Spider-Man: Homecoming

Jauh sebelum Marvel Studios dibeli oleh Disney dan mampu berdiri sendiri, rights tokoh-tokoh superhero-nya tersebar di berbabai major studio. Di antara semuanya, Spider-Man yang dipegang oleh Columbia Pictures (Sony Pictures) bisa dikatakan yang paling stabil, baik dari segi kualitas maupun perolehan box office. Maka ketika banyak yang ‘kembali’ ke pangkuan Marvel Studios setelah akuisisi Disney, Sony Pictures boleh berbangga karena rights Spider-Man masih berada di tangannya, sementara Fox bersusah-payah mempertahankan rights X-Men dan Fantastic Four.

Namun siapa yang tak tergoda dengan kesuksesan besar Marvel Studios membangun Marvel Cinematic Universe (MCU) yang begitu kokoh? Bahkan mix review dan hasil box office The Amazing Spider-Man 2 (TASM2) yang dianggap di bawah ekspektasi (masih menghasilkan US$ 709 juga di seluruh dunia, tapi pasar domestik ‘hanya’ menyumbangkan US$ 202.9 juta dengan budget US$ 293 juta), mampu membuat Sony Pictures gusar dan mempertimbangkan kerjasama dengan Marvel Studios untuk menjadikan Spider-Man bagian dari MCU. Kontrak Andrew Garfield sebagai Peter Parker di TASM yang masih ada dua film lagi, dibatalkan. Begitu juga rencana spin-off Sinister Six yang sedianya dipegang oleh Drew Goddard dan hanya menyisakan Venom dengan bintang Tom Hardy yang tetap jalan tanpa hubungan dengan Spider-Man versi manapun, termasuk di MCU. 

Deal pun tercapai antara Sony Pictures dan Marvel Studios dimana Sony akan mendanai, mendistribusikan, dan punya kuasa penuh atas kontrol kreatif dan hasil akhirnya. Kehadiran Spider-Man versi ini dimunculkan pertama kali di Captain America: Civil War (CACW - 2016) sebagai semacam tease untuk memperkenalkan sosok Spider-Man terbaru yang cukup mencengangkan. Musim panas 2017 ini, installment pertama Spider-Man versi MCU dilepas dengan sub-judul Spider-Man Homecoming (SMH) dan bangku penyutradaraannya dipercayakan kepada Jon Watts (sutradara acara TV parodi berita The Onion News Network, film fanmade, Our RoboCop Remake, Clown, dan Cop Car) yang mana ini merupakan major project pertamanya. Kendati demikian, SMH tetap saja menjadi pertaruhan bagi Sony Pictures terkait masa depan rights franchise Spider-Man, yang bisa jadi salah satu  aset perusahaan paling menguntungkan setelah sempat ‘berdarah-darah’ pasca bocornya data perusahaan di internet 2014 silam.

Selepas bentrokan di dalam tubuh The Avengers, yaitu antara kubu Iron-Man dan Captain America, Peter Parker yang sempat direkrut oleh Tony Stark dipulangkan kembali ke lingkungan tinggal asalnya. Ia dijanjikan akan dikabari jika Stark membutuhkan bantuannya lagi, sementara ia ditugaskan untuk mengawasi lingkungan tinggal sekitarnya dulu. Karena kostum dan berbagai gadget canggih masih dipercayakan kepadanya, gerak-gerik Peter selalu dawasi oleh asisten Stark, Happy Hogan. Peter pun menjalani kehidupan remaja normalnya. 

Sebuah perampokan yang berhasil digagalkannya membuat ia curiga darimana para perampok ini mendapatkan senjata dahsyat yang tampaknya tak berasal dari dunia ini. Penyelidikannya menuntun ke Adrian Toomes, seorang ‘pemulung’ sisa reruntuhan Stark Tower yang memanfaatkan yang tersisa dari Chitauri. Sempat melaporkan ke pihak Stark tapi tak mendapatkan tanggapan serius, Peter berinisiatif mengambil tindakan sendiri bersama sahabatnya, Ned. Kehidupan sosial Peter di sekolah jadi terpengaruh, mulai soal keterlibatannya dalam tim cerdas cermat hingga urusan asmara dengan sang pujaan hati, Liz. Peter dihadapkan pada pilihan kehidupan sosial remaja yang normal, menjadi jagoan di lingkungan tempat tinggalnya saja, atau kesempatan menjadi sosok superhero yang dipandang berharga di mata Stark sehingga dianggap layak sejajar dengan anggota The Avenger lainnya.

Meski lagi-lagi berstatus ‘remake’, SMH tak mau mengulang origin karakter sentral sepenuhnya. Ia melanjutkan apa yang sudah diperkenalkan di CACW. Ini keputusan yang sangat baik demi efektivitas cerita dengan asumsi penonton sudah khatam (malah berpotensi menjadi bosan jika diulang sekali lagi secara keseluruhan). Pun juga gambaran sosok Peter Parker dan konsep keseluruhan kisah Spider-Man yang semakin mirip komiknya. Tak hanya postur tubuh dan karakteristik (paling signifikan: tingkat kebawelan), tapi juga pola penceritaan yang porsinya lebih banyak ke kehidupan sosial remaja. Banyak bereferensi pada film-film remaja khas John Hughes yang berjaya di era 80-an, khususnya The Breakfast Club, nuansa teenage-nya lebih ke ceria meski dibidik dari sudut pandang kaum nerd dan (yang dianggap) ‘loser’ yang mana di era 2000-an ini menjadi kian depresif. Ini tentu membuat nuansa film secara keseluruhan menjadi lebih fun. 

Ia tak juga melupakan sisi kisah superhero yang sejatinya menjadi komoditas jualan utama. SMH menghadirkannya dengan porsi yang seimbang dengan hubungan sebab-akibat yang cukup solid. Adegan-adegan aksi yang dihadirkan Jon Watts pun punya intensitas yang seru dan mendebarkan, termasuk untuk adegan aksi utama yang disiapkan menjadi signatural scene, yaitu menyelamatkan kapal ferry yang masih setara dengan adegan Spider-Man menyelamatkan kereta api di Spider-Man 2.

Ada pengubahan yang cukup siginifkan dari versi-versi Spider-Man sebelumnya; less spidersense yang seharusnya menjadi kekuatan utama Spider-Man. Mungkin ada golongan fans setia yang kecewa, tapi dengan frame tempat ia diletakkan kali ini, konsep demikian sebenarnya bisa dipahami. Dengan dukungan gadget super canggih dari Tonh Stark, seorang remaja seperti Peter Parker wajar jika terlena oleh kecanggihan teknologi hingga lupa dengan kemampuan diri yang sebenarnya menjadi bekal utama. Menurut saya, konsep inilah yang menjadi highlight atau garis besar konsep SMH. Sebagai sindiran pula terhadap kaum milenial yang kelewat tergantung dengan kecanggihan teknologi hingga lupa untuk mengembangkan potensi diri. Termasuk juga untuk kaum yang sekedar ikut-ikutan pakai gadget tapi ogah mempelajari cara penggunaan dan fitur-fiturnya. Konsep yang relevan dengan keseluruhan MCU sekaligus kondisi sosial saat ini, bukan? Maka dari itu line Tony Stark, “If you’re nothing without the suit, then you shouldn’t have it,” menjadi quote yang begitu sharp dan powerful untuk menjadi highlight keseluruhan film.

Konflik klasik identitas sang villain khas Spider-Man masih dipertahankan. Begitu juga dengan karakter-karakter ikonik lainnya, tapi dengan penggambaran yang berbeda, mengikuti trend diversity di Hollywood. Tak salah mengingat ini merupakan alternate version dari materi aslinya, baik versi komik maupun film manapun. Anggap saja sekedar sebagai tribute terhadap materi aslinya, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk beradaptasi dengan trend dan kondisi sosial.

Representasi yang dilakukan Tom Holland terhadap sosok Peter Parker semakin mirip dengan versi komik. Soal versi Peter Parker mana yang terbaik masing-masing punya kelebihan dan kekurangan tersendiri tergantung selera penonton. Namun apa yang ditampilkan Holland di sini menunjukkan representasi yang paling mirip versi komik; bawel, sok tahu, ingin dipandang lebih, sama seperti kebanyakan remaja pada usianya. Holland menampilkan kesemua kepribadian ini dengan luwes dan natural. Pilar akting yang tak kalah pentingnya adalah Michael Keaton sebagai Adrian Toomes. Dengan kekuatan kharisma yang tak perlu diragukan lagi, Toomes menjadi salah satu villain Spider-Man paling kharismatik dan mengesankan, atau malah dari keseluruhan film superhero yang pernah ada. Momentum terbaiknya di sini justru bukan berasal dari adegan aksi, tapi dialog yang dibawakan dengan begitu powerful dan punya impact yang kuat, tidak hanya bagi karakter Peter Parker, tapi juga bagi penonton.

Di lini cast pendukung, Jacob Batalon cukup berhasil menghadirkan sosok komikal sekaligus smart geek. Laura Harrier pun menampilkan on-screen charm yang cukup, meski belum cukup kuat untuk menjadi karakter love-interest yang ikonik. Zendaya sebagai Michelle sedikit mencuri perhatian lewat porsinya yang mungkin memang sengaja dipersiapkan untuk porsi yang lebih besar di installment berikutnya. Kehadiran Logan Marshall-Green dan Bokeem Woodbine sebagai Shocker pun masih bak ‘teaser’ seolah enggan untuk mengganggu dominasi Toomes atau Vulture.

Barisan cast tetap, mulai Marisa Tomei, Robert Downey Jr., Jon Favreau, hingga Gwyneth Paltrow masih tampil cukup konsisten. Setidaknya penampilan masing-masing masih memberi warna yang familiar di universe-nya. Suara Jennifer Connelly sebagai Suit Lady terdengar cukup menarik meski belum sampai seikonik, let’s say Scarlett Johansson di Her. Last but not at least, cameo Stan Lee yang cukup menggelitik.

Dukungan teknis SMH tergolong suportif sebagai sajian blockbuster. Mulai sinemaografi Salvatore Totino yang memberikan energi pas pada adegan-adegan aksinya lewat camera work cepat tapi tidak sampai jadi memusingkan. Lihat saja bagaimana adegan perampokan ATM menjadi terasa begitu seru, intens, indah, dan berakhir membelalakkan mata. Tentu kesemuanya juga berkat editing Debbie Berman dan Dan Lebental yang serba tepat secara momentum dan membuat pace laju plot cukup lancar dan seimbang untuk dinikmati, tanpa mengorbankan emosi di momen-momen terpentingnya. Score music Michael Giacchino mengiringi sesuai kebutuhan emosi adegan. Mempertahankan theme music dari Spider-Man klasik dan beberapa nomor-nomor musikal dari installment-installment The Avengers yang jelas-jelas terdengar sangat sinematik sekaligus majestik, dengan racikan orisinil yang senada dan senuansa. Sound mixing tertata maksimal dengan sound-sound effect yang powerful dan pembagian kanal surround yang jelas dan masing-masing memompakan daya yang sama powerful-nya. 

Format 3D memberikan depth-of-field yang cukup layak, tapi nyaris tak ada gimmick pop-out yang cukup mencolok maupun memorable. Sementara format 4DX memberikan experience yang sesuai ekspektasi. Seat movement yang banyak sesuai adegan, terutama saat swinging dan penyelamatan kapal ferry dan tower elevator yang membuat saya berkali-kali secara spontan mencengkeram seat handle. Other than that, a few water spray and wind blow memberikan impact lebih nyata di beberapa adegan.

Pertanyaan yang kerap muncul mengenai remake atau reboot adalah versi mana yang terbaik. Jawabannya sangat relatif mengingat masing-masing versi punya kelebihan dan kekurangan (baca: kompromi) masing-masing. Yang pasti tiap versi Spider-Man selama ini masih belum ada yang benar-benar terpuruk dalam. SMH sendiri punya cukup banyak kelebihan yang belum sempat dihadirkan di versi-versi sebelumnya, terutama sebagai tujuan utamanya untuk masuk ke dalam MCU. For that purpose, SMH tergolong berhasil, baik karena keseimbangan elemen-elemen yang diracik maupun beberapa elemen baru dan tambahan yang fresh. Lebih bijak jika menyaksikan SMH sebagai bagian dari MCU ketimbang berusaha keras membanding-bandingkan dengan versi-versi sebelumnya. Perjalanan kiprahnya masing panjang. Semoga lebih panjang dari versi-versi pendahulunya.

P.S.: seperti biasa, ada mid-credit scene yang mengisyaratkan urusan Vulture dengan Peter Parker belum berakhir, dan at-the-very-of-the-credit scene yang cukup menggelitik, terutama bagi kaum penonton yang selama ini rela menunggu hingga credit roll benar-benar habis hanya demi dugaan adanya after-credit scene.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates