Saturday, July 29, 2017

The Jose Flash Review
Overdrive

Bicara soal film bertemakan mobil, kebut-kebutan, dan heist, judul The Fast and the Furious sebagai brand besar masih menjadi yang terdepan. Namun bukan berarti tidak ada film-film bertemakan serupa yang menarik untuk disimak. Misalnya remake Italian Job tahun 2003 silam dan Gone in 60 Seconds. Tahun 2017 ini sinema Perancis mencoba mengangkat (atau mendompleng popularitas franchise The Fast and the Furious?) formula serupa Italian Job dengan menggandeng Antonio Negret, sutradara film action thriller Transit 2012 silam dan serial-serial populer seperti The Flash, Lethal Weapon, Arrow, dan remake MacGyver. Penyusun naskahnya pun cukup menjanjikan, yaitu duo Michael Brandt dan Derek Haas yang pernah menyusun naskah 2 Fast 2 Furious, remake 3:10 to Yuma, dan Wanted. Putra sulung aktor veteran Clint Eastwood, Scott Eastwood, didapuk sebagai aktor utama, bersama Freddie Thorp, Ana de Armas (Knock Knock, War Dogs, dan upcoming Blade Runner 2049), Gaia Weiss (serial Vikings), Clemens Schick (Casino Royale dan Point Break versi 2015), serta Simon Abkarian (Casino Royale dan Persepolis). Meski bukan produksi major studio Hollywood, nama-nama tersebut sama sekali tidak boleh diremehkan. Setidaknya sebagai sekedar sajian hiburan, Overdrive masih punya daya tarik yang cukup besar.

Andrew Foster dan saudara tirinya, Garrett Foster dikenal sebagai pencuri mobil-mobil mewah dan limited edition. Dengan spesialisasi demikian tak heran jika jasa mereka dimanfaatkan oleh para konglomerat kolektor mobil. Aksi mereka mencuri Bugatti 1937 ketika pengiriman pasca pelelangan diketahui oleh sang pemilik yang ternyata juga bos mafia, Jacomo Morier. Sebagai penebus kesalahan sekaligus menyelamatkan nyawa mereka keduanya menawarkan untuk mencuri Ferrari 250 GTO 1962 yang sudah lama diincar oleh Morier. Pemiliknya adalah Max Klemp, sesama bos mafia yang sudah lama menjadi rivalnya. Morier setuju, maka strategi pencurian pun disusun, termasuk melibatkan kekasih Andrew, Stephanie, seorang copet teman Stephanie, Devin, dan beberapa anggota tim rekrutan yang lain. Namun rencana menjadi runyam ketika Klemp mengetahui rencana Foster Bersaudara. Perang antara kubu Klemp dan Morier terancam pecah, dengan Foster Bersaudara beserta timnya terjepit di tengah-tengah.

Premise demikian mungkin terdengar sangat formulaic di genre dan temanya. Tak pelak pula mengingatkan kita akan Italian Job dan Gone in 60 SecondsSeiring dengan berjalannya plot, penonton pun sempat dibikin mengerutkan kening, mempertanyakan fungsi perekrutan anggota tim sebegitu banyak. Begitu pula ketika pola plot seolah berulang, penonton dibuat membacanya sebagai modus operandi Foster Bersaudara. Istilah lokalnya mungkin sepadan dengan peribahasa ‘gali lobang, tutup lobang’. Namun rupanya ada twist lain yang akhirnya menjawab dan menepis persepsi yang sempat dibangun sebelumnya. Twist cerdik yang menurut saya cukup bikin geleng-geleng kepala, salut akan kecerdasan dan kerapihan penyusunan plot dalam ‘menipu’. 

Sementara di kemasan terluar, Overdrive ternyata menyuguhkan tata adegan aksi dan stunt yang tak kalah nekad dan gila dari franchise The Fast and the Furious. Beberapa cukup breathtaking berkat sinematografi Laurent Barès (Hitman versi 2007) yang mampu memvisualisasikan detail adegan pencurian dengan jelas, selain aerial shot yang juga mengeksplorasi keindahan panorama Marseille, Perancis. Tak boleh dilupakan pula editing Samuel Danési dan Sophie Fourdrinoy (Go Fast) yang menjaga pace tetap energetic sesuai kebutuhan serta beberapa match editing, terutama di paruh awal film, yang menambah sisi stylish film. Score music dan pemilihan soundtrack tergolong cukup suportif dalam membangun feel dan nuansa film yang diinginkan, seimbang dengan sound design dan sound mixing yang lebih dari cukup untuk menambah keseruan adegan-adegan laganya.

Karakter-karakter di Overdrive memang sangat generik di genrenya, tapi setidaknya masih diisi wajah-wajah rupawan dan performa akting yang sekedar layak. Scott Eastwood mungkin menerjemahkan karakter Andrew Foster yang kalem menjadi kelewat kaku, tapi masih tergolong cukup layak mengisi peran lead. Sebaliknya, Freddie Thorp tampil lebih simpatik sebagai Garrett Foster. Representasi sosok bawel tapi penuh perhatian dan perhitungan dibawakan dengan lebih natural olehnya. Ana de Armas jelas punya daya tarik sensual untuk menghiasi layar, apalagi dengan porsi dan performa yang cukup layak untuk membuatnya tampak bersinar. Begitu juga Gaia Weiss pada porsi yang sedikit di bawahnya sebagai sosok Devin. Sayang, sosoknya yang sebenarnya bisa lebih memanipulasi  kepercayaan Garrett (dan juga kepercayaan penonton, tentu saja) tak dimanfaatkan lebih jauh. Simon Abkarian tampak cukup berwibawa sebagai Jacomo Morier, meski harus diakui tak terlalu memorable untuk jangka waktu yang lama. Sementara Clemens Schick masih tampil lebih menarik sebagai Max Klemp berkat desain karakter yang lebih misterius dan unik.

Sebagai sajian film bertema mobil, kebut-kebutan, dan heist yang menghibur, Overdrive sama sekali tidak mengecewakan. Memang skalanya tidak sebesar franchise The Fast and the Furious, tapi dengan hasil akhir yang sedemikian tertata dengan baik, masih sangat-sangat layak untuk diperhitungkan. Tak hanya sebagai tontonan hiburan instan pemicu adrenaline, tapi juga keasyikan mengikuti sekaligus menebak-nebak arah plot yang terjalin dengan cukup rapih dan memanipulasi. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates