Monday, July 31, 2017

The Jose Flash Review
Napping Princess
[ひるね姫
知らないワタシの物語]

Selain Hollywood, Jepang sejak lama dikenal lewat karya-karya sci-fi dengan imajinasi dunia masa depan yang tergolong tinggi dan punya ciri-ciri visual yang khas, terutama lewat medium animasi atau yang secara spesifik disebut anime. Tak sedikit yang akhirnya di-remake Hollywood seperti baru-baru ini, Ghost in the Shell. Selain bertemakan dewasa, ada pula yang membidik pasar yang lebih luas dengan mengambil setting remaja. Setelah terakhir penonton bioskop Indonesia disuguhi Your Name (Kimi no na wa.), kali ini giliran distributor Feat Pictures menawarkan Napping Princess (Hirune-hime: Shiranai watashi no monogatari), sebuah gabungan fantasi sci-fi dengan kehidupan sosial remaja, seperti yang kerap disandingkan oleh sinema Jepang, terutama lewat animenya. Merupakan produksi anime pertama dari studio Signal.MD (bagian dari I.G Port), Napping Princess (NP) ditulis dan disutradarai oleh Kenji Kamiyama (Ghost in the Shell: Stand Alone Complex, Moribito – Guardian of the Spirit, dan Eden of the East). Dengan terlibatnya Satoko Morikiwa (The Cat Returns, Eden of the East, dan Xi AVANT) selaku desain karakter, Shigeto Koyama (Michiko & Hatchin, Moribito – Guardian of the Spirit, Heroman) selaku desainer mekanis, serta Christophe Ferreira (Bleach, Crayon Shin-chan Movie 22, Fullmetal Alchemist: Brotherhood, Gala) yang menangani concept art, creature design, dan key animation, NP menjanjikan sebuah fantasi sci-fi yang menarik dan cukup visioner.

Morikawa Kokone, seorang siswi SMA yang seharusnya mempersiapkan ujian masuk universitas. Namun karena kondisi perekonomian keluarga yang kurang bergairah, antusiasme Kokone untuk kuliah pun mengendur. Selama ini Kokone tinggal bersama sang ayah, Morikawa Momotarô, yang memilih bekerja sebagai mekanik kendaraan di bengkel milik sendiri tapi seringkali diupah dengan barter makanan, sementara sang ibu dikabarkan telah lama meninggal. Kokone seringkali ketiduran di siang hari dan uniknya, ia selalu bermimpi berada di dunia fantasi masa depan sebagai sosok bernama Enshen. Konon di dunia fantasi tersebut, Jepang dikuasai oleh seorang raja pemilik perusahaan mobil yang menerapkan aturan-aturan ketat dan tak masuk akal soal waktu dan kepemilikan mobil.
Di dunia nyata, Momotarô dikejar-kejar pihak tak dikenal. Kokone hanya mendapat petunjuk sebuah tablet yang selama ini digunakan sang ayah untuk bekerja. Siapa sangka tablet tersebut menyimpan rahasia masa lalu sang ayah yang punya hubungan dengan bos produsen mobil terbesar di Jepang, Shijama Automobiles. Dibantu sahabatnya, Sawatari Morio, Kokone bertualang melintasi alam mimpi yang ternyata berjalan paralel dengan dunia nyata untuk menolong sang ayah.
Kembali mengeksplorasi kaitan antara dunia fantasi (baca: dunia mimpi) dengan dunia nyata, NP agaknya masih bermain-main di ranah yang tak jauh berbeda dari kebanyakan kisah fantasi khas anime; menghadapi problematika dunia nyata lewat pergulatan di alam khayal. Sama sekali bukan masalah selama masih menawarkan desain universe yang solid, spirit adventurous yang menggairahkan, dan tentu saja yang paling penting, pertalian resolusi di dunia fantasi yang relevan dengan dunia khayal.
NP memang menawarkan universe (alam mimpi) yang cukup unik meski terdengar jauh dari realistis dan seringkali terasa kelewat naif. I mean, mana mungkin dunia berubah menjadi tunduk di bawah bos pabrik mobil dengan menerapkan aturan-aturan tak masuk akal tentang kepemilikan mobil? Okay, anggap saja itu merupakan salah satu bentuk metafora dari kebanyakan umat manusia jaman sekarang, terutama yang tinggal di kota besar dengan konsepsi soal waktu dan gaya hidup. Petualangan pun berjalan dengan cukup seru meski sebenarnya tak menawarkan sesuatu yang baru dan dengan elemen-elemen yang sudah jamak ada di anime. Pilihan sikap yang dilakukan oleh karakter utamanya pun seringkali kelewat naif. Bagi pecinta anime yang sudah akrab mungkin akan sangat menikmatinya, sementara bagi penonton umum tak heran jika akhirnya menemukan titik jenuh.
Permasalahan berikutnya terletak pada visualisasi antara dunia khayal dan dunia nyata yang menyatu secara paralel meski sebenarnya punya batas-batas yang jelas. Ketika keduanya bersinggungan, banyak kejadian di dunia nyata yang hanya disimbolkan dalam dunia mimpi, tanpa penjelasan apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata di saat yang bersamaan. Ini sangat jelas terasa ketika sampai pada momen klimaks dan resolusinya. Akibatnya, korelasi antara dunia nyata dan dunia khayal justru menimbulkan pertanyaan-pertanyaan logis. Jangan berharap pula ada penjelasan logis ataupun ilmiah bagaimana Kokone bisa punya mimpi-mimpi yang berkorelasi dengan dunia nyata. Anggap saja itu murni fantasinya yang termanifestasi lewat mimpi sebagai bagian dari alam bawah sadarnya.
Voice talent yang terlibat terasa cukup baik dalam menghidupkan karakter-karakter yang ada, selayaknya kebanyakan anime. Mulai Mitsuki Takahata sebagai Kokone, Shinnosuke Mitsushima sebagai Sawatari Morio, dan Yôsuke Eguchi sebagai Morikawa Ichirô, yang memang diletakkan pada lini terdepan.
Sinematografi Hiroshi Tanaka menghadirkan shot-shot yang megah atas bangunan universe dunia khayal masa depan dan berfungsi cukup krusial di beberapa adegan petualangan. Sementara musik dari Yoko Shimômura cukup suportif dalam memperkuat feel di adegan-adegan petualangan maupun emotional moment. Meski sebenarnya masih terdengar generik di ranah anime. Sound design dan sound mixing tergarap cukup detail dan terdengar powerful dengan pembagian kanal surround yang masih terdengar jelas.
Dengan konsep cerita yang diusung, NP sebenarnya tak beda jauh dari anime-anime yang menyandingkan dunia fantasi dengan dunia nyata sebagai bentuk dari menghadapi konflik dunia nyata (bahkan anime-anime Studio Ghibli pada dasarnya kerap mengangkat konsep seperti ini dengan berbagai variasinya). Bangunan universe dunia khayalnya cukup impresif meski tak sampai menjadi sesuatu yang visioner maupun benar-benar berbeda. Begitu juga jalinan petualangan yang menurut saya masih tergolong generik. Pecinta anime mungkin akan lebih menikmati ketimbang penonton umum. Bagaimanapun saya tidak yakin NP akan menjadi salah satu film anime yang penting di kemudian hari. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates