Tuesday, July 25, 2017

The Jose Flash Review
Munna Michael
[मुन्ना माइकल]

Eksistensi Michael Jackson sebagai legenda musik sudah terbukti abadi bahkan setelah kepergiannya sekalipun. Warisannya menginspirasi banyak karya-karya di belahan dunia manapun. Salah satu yang paling kuat adalah India, dimana budaya musik dan tari-tarian masih mendapatkan perhatian besar. Munna Michael (MM) adalah contoh terbaru, persembahan dari sutradara Sabir Khan yang kembali menggandeng Tiger Shroff, bintang muda putra dari aktor legendaris Jackie Shroff, setelah Heropanti dan Baaghi. Sabir juga menggandeng aktor Hindi yang sedang high-demand, Nawazuddin Siddiqui, Ronit Roy (Udaan, 2 States, Student of the Year, Kaabil, Sarkar 3), dan model yang mengukir debut akting di film ini, Nidhhi Agerwal. Dengan trailer yang electrifying, perpaduan antara dance dan aksi menjadi sajian yang menarik dan bikin penasaran.

Bertahun-tahun bekerja keras menggeluti passion-nya di dance dan menjadikan Michael Jackson sebagai panutan, Michael kecewa berat ketika ia diberhentikan dari produksi yang selama ini menggunakan jasanya hanya karena dianggap sudah tua. Sepulangnya dari studio ia tak sengaja menemukan bayi yang ditelantarkan begitu saja. Tergerak oleh rasa iba, ia membawanya pulang dan menemukan bahwa tangis bayi laki-laki yang diberi nama Munna ini baru bisa berhenti menangis jika mendengar lagu Michael Jackson. 
Ketika dewasa, Munna pun tumbuh menjadi penari dengan koreo-koreo menakjubkan. Melihat tekad Munna yang kuat untuk menjadi penari professional membuat Michael marah dan membuatnya berjanji untuk tidak mengejar cita-citanya tersebut dan lebih memilih kerja kantoran karena takut akan berakhir seperti dirinya dulu. Tak disangka justru reputasinya ini yang membawanya tenggelam ke dunia kriminal. Gara-gara menantang Balli, yang ternyata tak lain dan tak bukan saudara dari bos mafia, Mahindar, nyawanya menjadi terancam. Ada satu pilihan syarat agar dibiarkan hidup, yaitu mengajarinya menjadi penari hebat. Siapa sangka Mahindar justru menjadikannya bak saudara setelah Munna menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan.
Seiring dengan persahabatan mereka, Mahindar akhirnya menjelaskan alasannya ingin belajar menari. Ya, tak lain dan tak bukan demi memikat seorang wanita yang bekerja sebagai penari, Dolly. Dengan perantara Munna, Mahindar mulai mendekati Dolly. Namun seperti yang bisa ditebak, Dolly justru jatuh cinta pada Munna. Setelah mengetahui rencana Mahindar yang ingin memperistrinya, Dolly kabur ke New Delhi dan mengikuti acara talent search di TV, Star Dancer. Munna diutus Mahindar untuk membawa pulang Dolly. Namun setelah mengetahui rahasia pribadi Mahindar dan obsesi Dolly yang tak beda dengan dirinya, ia pun menyusun siasat agar semuanya bisa berjalan mulus tanpa pertumpahan darah. Balli yang mengetahui ini tidak tinggal diam. Sekali lagi nyawa Munna terancam. Kali ini ditambah nyawa Dolly pula.
Plot line MM sebenarnya sangat familiar. Dibuka dengan premise kebanyakan dance movie, terutama Saturday Night Fever, ia lantas berubah haluan dengan plot template film mafia: diangkat saudara tapi kemudian dianggap berkhianat gara-gara wanita, dan pecahlah konflik. Cliché tapi bisa jadi blend yang menarik disimak dan berpotensi menjadi sajian yang sangat menghibur. Semua berjalan baik-baik saja dengan keseimbangan komposisi antara pergerakan plot, character investment, dan nomor-nomor musikalnya. Masih ditambah selipan adegan-adegan aksi tangan kosong yang ditata dengan cukup seru dan camera work (termasuk penggunaan zoom in) Hari K. Vedantam yang makin memperkuat feel keseruan. Cukup brutal dengan sound effect bone-crushing pula.
Sayang setelah intermission, pergerakan plot MM mulai terasa tersendat-sendat. Resolusi dan konklusi yang seharusnya tak butuh waktu dan kejadian sebanyak itu terasa bertele-tele. Diperparah pula oleh peletakan nomor-nomor musikal yang tak hanya terasa misplaced, tapi juga korelasi antara kebutuhan adegan dengan lirik dan tone lagu. Namun harus diakui, nomor musikal bertajuk Ding Dang ini justru menjadi salah satu yang paling ear-catchy. Untung di paruh ini masih ada trik Munna yang masih cukup menarik untuk diikuti dan dance performance finale yang memang memanjakan mata. Even more, rather spectacular. Klimaksnya sempat berjalan serius dan cukup intens (apalagi berkat akting Nawazuddin Siddiqui), tapi agaknya ia tak mau membawa tone MM menjadi kelewat kelam. Resolusi berubah drastis menjadi terkesan komikal. 
Dipercaya mengisi peran sentral, Munna, kharisma Tiger Shroff terasa makin kuat dari film ke film. Dengarkan ketika ia mengucapkan punchline yang begitu meyakinkan, “Munna never fights, he only thrashes” atau “Michael never dies”. Pun juga aksinya dalam membawakan koreo tarian dan beladiri tangan kosong pun mengagumkan. Nawazuddin Siddiqui yang tampaknya sedang high-demand (bayangkan, dalam sebulan saya sudah melihatnya di tiga film; Mom, Jagga Jasoos, dan sekarang ini!) sekali lagi dipercaya mengisi peran bos mafia yang mengingatkan saya akan perannya di Gangs of Wasseypur. Tipikal peran yang sering dibawakannya, hanya saja dengan sedikit komikal twist yang ternyata cukup berhasil mengundang tawa. Debut Nidhhi Agerwal sebagai Dolly pun tampil layak. Cukup baik dan luwes, malah, dalam berakting. Tentu saja dengan pesona aura kecantikan dan keseksian yang tak perlu dipertanyakan. 
Lewat karakter Michael, Ronit Roy cukup memberikan sedikit keseimbangan emosi (terutama father-and-son) ke dalam cerita, tanpa pula melupakan sisi komikal yang memang didesain menjadi tone utama film. Terakhir, tak boleh melupakan ‘aksi’ Siddharth Nigam sebagai Munna remaja yang cukup mencuri perhatian di opening.
Selain camera work Hari K. Vedantam yang efektif menjadikan adegan aksi dan dance performance-nya terasa seru dan memanjakan mata, editing Manan Sagar pun menyusun adegan dengan pace dan timing yang cukup pas. Terkecuali pasca-intermission yang agaknya harus berkompromi dengan nomor-nomor musikal yang menghambat narasi. Score music Sandip Shirodkar sekedar mengiringi adegan-adegan yang ada menjadi terdengar lebih ‘meriah’. Tak banyak yang benar-benar memorable. Sementara lagu-lagu yang disumbang oleh Meet Bros, Tanishk Bagchi, Pranaay, Vishal Mishra, Javed-Mohsin, dan Gourov-Roshin cukup catchy meski tak banyak yang benar-benar memorable sehingga mampu beresonansi untuk jangka waktu yang lama dalam memori saya.
MM memang punya premise yang sangat familiar di tema mafia, misalnya A Bittersweet Life, atau terakhir kita lihat di Live by Night dan bahkan Moammar Emka’s Jakarta Undercover, yang ‘dikawinkan’ dengan dance movie. Tak perlu kelewat serius ketika menikmatinya karena memang punya tujuan utama murni untuk menghibur. For that purpose, MM memang cukup berhasil menjadi sajian hiburan ringan meski perjalanannya tak selalu mulus dan berpotensi melelahkan, terutama pasca-intermission. Setidaknya MM semakin meyakinkan bahwa Tiger Shroff layak menyandang gelar the next big thing in Bollywood.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates