Saturday, July 29, 2017

The Jose Flash Review
Mubarakan
[मुबारकां]

Di ranah perfilman Hindi, memerankan dua karakter atau lebih agaknya menjadi salah satu tantangan favorit bagi para aktor. Setelah Aamir Khan di Dhoom:3 dan Shah Rukh Khan di Fan, kini lagi-lagi Arjun Kapoor memainkan peran ganda setelah sebelumnya di Aurangzeb (2013). Film komedi romantis keluarga berjudul Mubarakan (dalam bahasa Inggris berarti ‘congratulations’) ini menandai pula kerjasama pertamanya dengan sang paman, Anil Kapoor. Dari sutradara Anees Bazmee (No Entry, Singh is Kinng, dan Welcome Back) dan penulis naskah Balwinder Singh Janjua (Chak Jawana), Mubarakan turut menggandeng aktris Ratna Pathak yang mencuri perhatian di Lipstick Under My Burkha dan Kapoor & Sons, Pavan Malhotra (Bhaag Milkha Bhaag, Bang Bang!), akttris cantik dari Barfi!, Ileana D’Cruz, Athiya Shetty (Hero), dan Neha Sharma (Kyaa Super Kool Hain) untuk makin menyemarakkan film.

Setelah kematian kedua orang tuanya, si kembar Karan dan Charan dipercayakan oleh sang paman, Kartar Singh kepada saudara-saudaranya. Karan diasuh oleh kakak perempuannya, Jeeto, dan tinggal di London, sementara Charan diasuh oleh kakak laki-lakinya, Baljeet, yang tinggal di Chandigarh. Besar di lingkungan yang berbeda membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang juga bertolak belakang. Karan lebih ekstrovert dan blak-blakan, sementara Charan sangat introvert, family-oriented, bahkan takut mengutarakan apa yang ada dalam pikiran ataupun perasaannya kepada keluarga. Masalah muncul ketika Charan akan dijodohkan dengan putri keluarga kaya-raya yang juga berjasa untuk keluarga Jeeto, Binkle. Charan yang sebenarnya juga sudah menjalin hubungan serius dengan seorang gadis muslim bernama Nafisa, menurut saja meski dalam hati sebenarnya berat melepas Nafisa. Siapa sangka Charan justru benar-benar jatuh hati kepada Binkle.

Masalah semakin runyam ketika Charan terlanjur menyusun siasat dengan sang paman, Kartar, supaya perjodohan batal. Keluarga Binkle jadi bermusuhan dengan keluarga Charan. Jeeto pun memusuhi Baljeet karena dianggap sudah mempermalukan keluarganya. Termotivasi untuk mempertegas wibawa keluarganya, Baljeet mencarikan jodoh pengganti untuk Charan, sementara Jeeto memilih menjodohkan Karan dengan Binkle. Karan pun sebenarnya sudah menjalin hubungan serius dengan Sweety. Siapa sangka takdir mempertemukan Baljeet dengan ayah Sweety dan malah berniat menjodohkan Charan dengan Sweety. Sekali lagi dengan bantuan akal-akalan dari Kartar, keduanya mencoba menghindarkan petaka yang lebih besar lagi dalam keluarga mereka.

Bingung dan pusing membaca sinopsis demikian? Saya pun mengalaminya ketika pertama kali membaca sinopsis Mubarakan. Untung saja penceritaan Anees Bazmee cukup jelas meruntut kronologis kejadian yang terjadi di dalam keluarga Karan dan Charan, kemudian membingkainya dengan bentukan komedi situasi yang kerap menjelma menjadi chaotic comedy. Mungkin setup komedinya seringkali terasa kelewat dibuat-buat, tapi siapa sangka ternyata memang masih sering terjadi di dalam kehidupan keluarga sehari-hari, terutama di budaya Timur termasuk kita yang tak terlalu berbeda jauh. Konflik-konflik keluarga (apalagi di dalam lingkup keluarga besar) yang terjadi gara-gara jaga wibawa, kehormatan, dan bantuan yang mengharapkan balas budi. Apa yang terjadi di Mubarakan bukan tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata, meski tak sekomikal dan sekompleks itu. Mubarakan seolah ingin menyentil kecenderungan keluarga Timur ini lewat bangunan komedi situasi yang masih berhasil menggelitik. Ditambah desain karakter Kartar yang selalu punya akal-akalan menarik, termasuk lewat perumpamaan benda-benda yang ada di sekelilingnya, membuat suasana yang runyam kian mengundang tawa. Tentu pada akhirnya tak melupakan konklusi dan resolusi yang tak hanya memuaskan, tapi juga dihadirkan dengan cukup feel-good. Membuatnya terasa begitu hangat dinikmati bersama seluruh anggota keluarga.

Namun harus diakui pula bahwa apa yang disuguhkan Mubarakan sebagai komedi situasi dan chaotic comedy kelewat bertele-tele dengan kelokan-kelokan berlapis yang sebenarnya tak perlu sebanyak dan serumit itu. Dengan desain karakter utama yang dibuat kembar, awalnya saya sempat mempertanyakan tujuan dan esensi keputusan tersebut. Ternyata menjelang pertengahan film saya mulai bisa membaca dengan jelas tujuan (sekaligus arah plot) tersebut sebagai resolusi. Sayangnya, plot masih dibiarkan sibuk berkelok-kelok hingga baru membuat karakter-karakternya menyadari resolusi tersebut menjelang klimaks. 

Untungnya masih ada nomor-nomor musikal berirama khas Punjabi dari Amaal Mallik, Gourov-Roshin, dan Rishi Rich yang cukup menghibur (lagu-lagu yang cukup ear-catchy dan dance performance yang masih tampak ‘akbar’ untuk memancing penonton ikut menggerak-gerakkan badan), sinematografi Himman Dhamija dan Jitan Harmet Singh yang tepat guna dan beberapa shot masih terasa sinematis meski konflik-konflik yang disodorkan sebenarnya berpotensi terpeleset ke arah sinetron. Begitu pula dengan editing Rameshwar S. Bhagat yang ‘menyuntikkan’ cukup energi sebagai komedi situasi dan chaotic comedy, sekaligus keseimbangan porsi dan pace yang terasa pas antara drama dan komedinya. Musik Amar Mohile menyelipkan sound-sound effect komikal yang menambah daya gelitik adegan. 

Arjun Kapoor kembali membuktikan kualitas aktingnya lewat karakter ganda, Karan dan Charan. Tampil dengan diferensiasi yang jelas dan tajam di balik fisik yang dibuat sama persis, Arjun berhasil menghidupkan keduanya dengan cukup natural serta meyakinkan. Anil Kapoor tampil tak kalah menonjol lewat karakter Kartar yang nyentrik. Berhasil tampil komikal tanpa kehilangan ‘hati’. Keseimbangan yang kurang lebih setara juga ditunjukkan oleh Ratna Pathak sebagai Jeeto dan Pavan Malhotra sebagai Baljeet. Sementara Ileana D’Cruz sebagai Sweety, Athiya Shetty sebagai Binkle, dan Neha Sharma sebagai Nafisa yang sama-sama punya paras mempesona semakin mempermanis layar dengan performa yang cukup layak sesuai porsi masing-masing.

Lewat Mubarakan, Bazmee seolah ingin menyentil kecenderungan yang terjadi dalam lingkaran keluarga besar lewat bangunan komedi situasi dan chaotic comedy tanpa bermaksud untuk menyerang atau mengolok-olok, terutama di budaya Timur yang menjunjung tinggi kehormatan dan balas budi di atas kebahagiaan para anggotanya. Kelewat bertele-tele dan kompleks, tapi bangunan-bangunan komedinya masih mampu menutupi sehingga tak terasa terlalu melelahkan untuk diikuti. Sangat cocok dijadikan pilihan tontonan bersama seluruh anggota keluarga. Selain membagi keceriaan bersama, ada kemungkinan makin memperlancar komunikasi dan pengertian di dalam keluarga. So, why not?

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates