Thursday, July 13, 2017

The Jose Flash Review
Mom

Di tengah kemunculan aktor-aktris berbakat generasi baru di sinema Hindi, nama Sridevi yang dikenal sebagai aktris legendaris sejak kemunculan pertama kalinya di era 60-an masih punya daya tarik yang kuat dan dihormati berbagai pihak. Tak hanya penonton dan penggemar, tapi juga sineas dan aktor-aktris senior lainnya. Apalagi Sridevi dikenal cukup pilih-pilih peran. Terakhir kita dibuat terpesona lewat penampilannya di English Vinglish tahun 2012 silam. Kali ini ia muncul di genre thriller yang masih tergolong jarang di sinema Hindi, Mom. Di bawah arahan sutradara Ravi Udyawar yang mana ini merupakan debut penyutradaraannya (sebelumnya dikenal sebagai pelukis, illustrator, dan sutradara music video - TheHindu), dan dari naskah penulis novel best-seller tahun 2012, Marathon Baba, Mom menandai film Sridevi ke-300. Didukung pula oleh Nawazuddin Siddiqui, Akshaye Khanna, bintang Pakistan, Sajal Ali dan Adnan Siddiqui, Abhimanyu Singh, dan Vikas Verma.

Tak mudah menjadi seorang ibu tiri dari seorang gadis remaja. Apalagi jika profesinya adalah salah satu guru di sekolah dari sang putri. Itulah yang dialami oleh Devki Sabarwal. Posisinya menggantikan ibu kandung Arya yang sudah meninggal dunia. Meski sudah berupaya keras memikat hati Arya, dipanggil ‘mama’ olehnya pun belum pernah didapatkannya. Hingga suatu ketika Arya mengalami kejadian naas yang membuatnya nyaris tewas, Devki tergerak untuk tak tinggal diam. Apalagi pengadilan memutuskan para pelakunya tak bersalah karena kurangnya bukti dan kondisi Arya saat kejadian yang melemahkan kesaksiannya. Devki memutuskan untuk menyewa detektif swasta nyentrik, Daya Shankar Kapoor alias DK untuk memata-matai para tersangka dan diam-diam melakukan aksi balas dendam dengan mengandalkan kecerdasannya sebagai seorang guru biologi. Tentu langkahnya tak bisa selalu mulus karena detektif Matthew Francis yang menangani kasusnya sejak awal mencurigai sepak terjang Devki.
Secara premise, Mom bisa jadi bak versi wanita dari tema-tema family revenge yang sempat marak di Hollywood, seperti franchise Taken, John Wick, dan dari Bollywood sendiri, misalnya Wazir atau Kaabil. Tentu saja dengan kapasitas dan cara yang berbeda. Lantas digabungkan dengan fakta sosial pemerkosaan dan penganiayaan wanita yang masih menjadi isu utama di India dan style noir seperti Kahaani, Talaash, dan Raman Raghav 2.0., menjadikan Mom racikan yang menarik untuk disimak. Karakter Devki yang diposisikan sebagai ibu tiri pun punya keuntungan tersendiri untuk mencapai goal yang solid di konklusinya.
Ada pula elemen court-drama yang meski dihadirkan bak rangkaian footage untuk menjaga pace dan menghemat durasi, tapi mengalir secara intriguing bak Pink. Namun daya tarik terbesarnya berada pada investigasi dan alur trik Devki dalam membalas dendam yang bikin penasaran. Tak hanya naskah yang tersusun baik dalam mengundang rasa penasaran penonton dan juga dialog-dialog quotable yang powerful, tapi juga penyutradaraan Ravi Udyawar yang secara tepat menangani tiap momen menjadi begitu captivating.
Naskah, penyutradaraan, dan style noir Mom tak lengkap tanpa penampilan memikat dari para aktornya. Beruntung, Mom menjadi etalase performa akting yang luar biasa, terutama bagi Sridevi dan Nawazuddin Siddiqui. Lihat saja momen-momen emosional Sridevi yang terasa begitu luar biasa. Memilukan di momen-momen dramatis, elegan di momen-momen mengancam. Sampai-sampai kerap kali Ravi dan editor Monisha R. Baldawa terlihat sayang untuk meng-cut adegan. Sementara Nawazuddin Siddiqui memberikan roh yang eksentrik, powerful, sekaligus simpatik ke dalam karakter DK. Sedikit mengingatkan saya akan karakter James ‘Whitey’ Bulger yang diperankan Johnny Depp di Black Mass, tapi dengan sedikit sense of humor. Ini merupakan salah satu performance terbaik Nawazuddin so far.
Di lini pemeran pendukung, Akshaye Khanna cukup kharismatik sebagai Detektif Matthew Francis meski porsi yang terbatas membuatnya seolah ‘kalah’ dari Sridevi maupun Nawazuddin. Sajal Ali sebagai Arya pun tampil memikat di momen-momen emosionalnya. Masih ditambah jalinan chemistry bersama Sridevi yang begitu kuat. Adnan Siddiqui sebagai Anand, Abhimanyu Singh sebagai Jagan, Pitobash sebagai Baburam, dan Vikas Verma sebagai Charles Diwan, pun tampil fairly sesuai porsi peran masing-masing.
Teknis Mom ditangani dengan tak kalah mumpuni. Mulai sinematografi Anay Goswamy yang menghadirkan shot dan pergerakan kamera tepat guna, terutama dalam menghadirkan momen-momen thriller yang mendebarkan dan dramatis secara sinematis. Editing Monisha R. Baldawa menggerakkan plot dengan pace yang pas, terutama dalam menjaga keseimbangan drama dan thriller-nya sehingga tak sampai terjerumus kelewat mendayu-dayu ataupun kurang ‘menggerakkan’ emosi penonton. Musik dari A. R. Rahman cukup variatif. Mulai nomor-nomor musikal khas Bollywood dengan lirik-lirik indah dan melodi menyentuh kalbu, hingga sound-sound techno di part-part thriller yang semakin menambah suasana mencekam terasa lebih noir dan ‘sakit jiwa’. Terakhir, sound mixing terdengar tertata dengan sangat baik, terutama pembagian kanal surround yang sangat mendukung pembangunan keseluruhan atmosfer.
Thriller bergaya noir dengan naskah cerdas yang masih tergolong jarang di perfilman Hindi (bahkan mungkin juga perfilman seluruh dunia), membuat Mom sangat sayang untuk dilewatkan. Tak hanya layak dinobatkan sebagai salah satu film Hindi terbaik tahun ini, tapi mungkin juga sampai beberapa tahun ke depan. Sekali lagi terbukti Sridevi dan Nawazuddin Siddiqui tak pernah salah memilih peran. Go experience it in theatrical cinema! 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates