Sunday, July 23, 2017

The Jose Flash Review
Dunkirk

Nama Christopher Nolan sebagai sineas dunia era 2000-an sudah menjadi semacam salah satu ‘dewa’ perfilman bagi beberapa kaum moviegoers dan kritikus. Salah satu penyebab utamanya adalah kepiawaiannya dalam menggagas ide mind-blowing dan menghadirkan twist ending yang kerap kali inventif. Lihat saja Memento, The Prestige, Inception, dan Interstellar. Bahkan ketika dipercaya menggarap salah satu versi Batman, The Dark Knight Trilogy, hasilnya harus diakui punya taste eksepsional yang berbeda. Maka keputusannya untuk mengangkat tema kejadian nyata peristiwa Operasi Dinamo di Dunkirk, Perancis, era Perang Dunia II setelah beride sejak 25 tahun lalu, ini cukup bikin penasaran. Terutama bagaimana ia akan memasukkan signatural yang membesarkan namanya ke dalam kisah kejadian nyata yang jelas-jelas jauh dari kejadian-kejadian fiktif yang ia garap selama ini. Atau mungkin, bagaimana jadinya jika ia menggarap sesuatu di luar signatural materi yang mind-blowing. 

Meski menurut saya materi teaser maupun trailernya tidak membangkitkan antusiasme saya untuk segera menontonnya (apalagi setelah menyadari bahwa sebenarnya ia punya reputasi yang overrated), gimmick promosinya cukup bikin penasaran. Mulai klaim penggunaan kamera IMAX pertama yang dilakukan secara handheld, porsi penggunaan kamera IMAX 65 mm yang mencapai 75% dari keseluruhan film, penggunaan efek-efek praktikal ketimbang CGI (termasuk penggunaan properti karton cutout untuk memberikan ilusi gerombolan pasukan dan kendaraan militer – seperti halnya yang digunakan di pembuatan film-film jaman dulu), hingga perilisan dalam tiga format; IMAX, seluloid 70 mm, dan 35 mm, yang mana merupakan rekor perilisan film di format 70 mm terluas selama dua puluh lima tahun terakhir. Belum lagi ditambah berita bergabungnya personel boyband One Direction, Harry Styles dalam jajaran cast, yang akan dengan mudah menggaet fans-nya yang jutaan untuk ikut berbondong-bondong ke bioskop.
Salah satu episode Perang Dunia II adalah Perang Perancis antara Sekutu dan NAZI Jerman. Setelah Jerman membombardir Dunkirk, salah satu wilayah di Perancis, tersisa lebih dari 400.000 tentara berasal dari Inggris, Perancis, Polandia, dan Belgia yang terjebak. Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill menginstruksikan untuk mengevakuasi prajurit Sekutu yang tersisa. Dunkirk mengisahkan misi evakuasi ini dari tiga sudut pandang yang berbeda; anjungan pantai tempat para prajurit menantikan kedatangan kapal-kapal kiriman yang akan mengevakuasi mereka di bawah Komandan Bolton, lautan dimana kapal-kapal pribadi dengan sukarela berangkat ke Dunkirk untuk membantu mengevakuasi, dan udara dimana para pilot Spitfire terbang untuk menjaga dan melindungi para prajurit yang akan dievakuasi dari serangan pesawat musuh.
Dari sudut anjungan pantai, sekelompok pasukan Inggris yang selamat, di antaranya Tommy, Alex, dan salah satu pasukan pendiam yang sempat dicurigai sebagai mata-mata, Gibson. Upaya licik mereka untuk segera dievakuasi justru membawa mereka ke petualangan dari kapal ke kapal di tengah hujanan bombardir musuh untuk menyelamatkan diri.
Sementara dari sudut lautan, seorang pria tua, Mr. Dawson memutuskan untuk membawa kapal pribadinya, Moonstone, bersama putranya, Peter, dan tangan kanannya yang masih remaja, George, untuk turut ambil bagian dari misi evakuasi. Mereka dipertemukan dengan seorang penyintas di puing-puing korban serangan U-boat yang tampak mengalami trauma berat dan meminta mereka memutar balik kapal untuk pulang ketimbang menuju Dunkirk. Namun niat kuat Mr. Dawson lebih memilih untuk mengabaikan permintaannya dan terus melaju menuju Dunkirk, apapun resikonya.
Terakhir, di udara, tiga pilot Spitfire; Farrier, Collins, dan pemimpin skuadron mereka punya waktu satu jam (diindikasikan dengan persediaan bahan bakar pesawat mereka) untuk membantu mengawasi proses evakuasi. Resikonya mereka harus berhadapan langsung dengan pesawat-pesawat Luftwaffe musuh yang menyerang mereka secara bertubi-tubi.
Jika Anda fans berat Nolan karena ide-ide dan twist-ending yang mind-blowing, maka Dunkirk bukanlah tipikal film yang biasa ia buat. Namun bukan berarti ia tak sama sekali tak bercita rasa Nolan. Satu hal yang pasti dan terasa cukup jelas, Nolan masih bermain-main dengan konsepsi waktu lewat style penceritaan tryptych (diceritakan dari tiga sudut pandang) dengan perbedaan skala waktu yang dituliskan dengan jelas lewat title card masing-masing; satu minggu untuk sudut anjungan pantai, satu hari untuk sudut lautan, dan satu jam untuk sudut udara. Ketiganya berjalan secara interwoven hingga dipertemukan di satu titik di klimaksnya. Konsep seperti ini memang tergolong unik tapi bukan sama sekali baru. Sebut saja yang populer seperti Pulp Fiction, Go!, dan Vantage Point.  Bedanya jika ketiga judul tersebut berjalan berurutan per segmen hingga dipertemukan di satu titik, maka sudut-sudut pandang Dunkirk tampil bergantian secara linear bak menyatu menjadi satu paket hingga dipertemukan. Di Film Indonesia konsep struktur yang lebih mirip pernah diusung di Dilema. Hebatnya, Nolan menyusun pergantian segmen dengan perbedaan skala waktu tapi punya presisi matematis yang tepat. Namun tentu hanya penggemar geek-nya saja yang akan memperhatikan detail ini.
Bagi penonton yang lebih umum, Dunkirk merupakan rangkaian teror yang secara non-stop membuat penonton khawatir atas apa yang akan terjadi pada karakter-karakter di tiap sudut pandang. Sengaja dibuat tanpa detail latar belakang para karakter, character investment, tak banyak dialog, bahkan tak banyak yang nama karakternya disebut, Nolan mengaku ingin membuat penonton merasakan apa yang dirasakan oleh karakter-karakter yang terlibat saat kejadian. Dengan kepiawaian directing, sinematografi dari langganan Nolan, Hoyte van Hoytema, yang sangat efektif menciptakan ketegangan lewat bidikan kamera IMAX 65 mm, terutama di sudut pandang anjungan dan udara, editing Lee Smith dengan momentum serba tepat dan tak membingungkan meski ketiga sudut pandang berjalan bergantian, dan tentu saja yang terutama adalah score music dari Hans Zimmer yang menurut saya, memberikan sumbangsih terbesar dalam pembangunan atmosfer terornya. Berbagai bunyi-bunyian dimanfaatkan, mulai syner, gesekan biola, hingga yang mendominasi, jarum-jarum jam saku yang diakui milik Nolan sendiri. Hasilnya memang benar-benar mencekam dan tiap kali muncul ledakan yang secara tiba-tiba, saya harus terhenyak secara spontan dari bangku. Tentu sound design serta sound mixing yang dahsyat terutama di teater IMAX memegang peran penting di sini.
Keputusan membidik kisah dengan cara seperti itu bukanlah tanpa resiko, terutama impact-nya bagi penonton umum. Tak salah jika hadirnya teror yang silih berganti, non-stop sepanjang durasi (yang sebenarnya ‘hanya’ 1 jam 46 menit, film Nolan dengan durasi terpendek kedua setelah debut layar lebarnya yang memang low budget, Following), menjadi terasa begitu melelahkan. Apalagi tanpa adanya character investment yang pada akhirnya membuat penonton hanya bersimpati pada karakter-karakter yang ada hanya sebatas alasan kemanusiaan semata. Tak benar-benar perduli terhadap nasib mereka. Padahal potensi-potensinya terlihat dengan jelas, ada. Terutama sudut pandang Mr. Dawson yang untungnya masih diberi background lebih meski pada akhirnya tak dimanfaatkan secara maksimal untuk ‘menggerakkan’ emosi penonton.
Begitu juga keputusan untuk tak secara terang-terangan menunjukkan sosok sang musuh (malahan hanya menyebut sebagai ‘musuh’) membuat penonton yang benar-benar awam dengan Operasi Dinamo Dunkirk sulit memahami kontekstual yang terjadi di layar. Tak salah jika kemudian ada yang semakin tenggelam dalam ketidakpedulian atas apa yang terjadi di layar.
Untungnya, seperti film-film sebelumnya, Nolan masih punya konklusi yang layak untuk dipikirkan dan cukup kontras dengan konsepsi (terutama seperti yang disampaikan Winston Churchill dalam pidatonya di The House of Commons pada tanggal 4 Juni 1940) selama ini yang menganggap bahwa perang tidak dimenangkan dengan evakuasi. Seperti yang disampaikan Nolan sendiri dalam sebuah wawancara yang dimuat di Screenrant, tanpa adanya evakuasi, Inggris berkewajiban untuk melakukan kapitulasi, seluruh dunia kalah, dan sejarah sama sekali berubah. Jerman akan menguasai seluruh Eropa dan Amerika Serikat tidak akan kembali mengirimkan bantuan pasukan. Nolan memvisualisasikan poin tersebut lewat adegan yang menggambarkan impact personal para pasukan yang dievakuasi, kontras dengan sambutan warga terhadap mereka. 
Dengan konsep karakter-karakter yang tak diberi kedalaman lebih, bahkan nama karakter yang minim disebutkan, penampilan para aktor di sini mostly hanya sejauh reaksi emosi in the surface at the momen saja. Namun bukan berarti tak ada aktor yang berusaha memberi kedalaman lebih. Ini terlihat jelas pada performance Mark Rylance sebagai Mr. Dawson. Dengan kharisma akting yang demikian, tak heran jika ia menjadi pusat perhatian penonton sepanjang durasi. Impact-nya, performance Tom Glynn-Carney sebagai Peter dan Barry Keoghan sebagai George. Cillian Murphy sebagai tentara penyintas pun turut memberi kedalaman karakter traumatis yang tak kalah mengesankan. 
Di lini berikutnya, ada Jack Lowden sebagai Collins, Fionn Whitehead sebagai Tommy, Harry Styles sebagai Alex, dan Aneurin Barnard sebagai Gibson tampil cukup memikat sesuai porsi masing-masing. Kenneth Branagh sebagai Komandan Bolton dan James D’Arcy sebagai Kolonel Winnant juga menunjukkan kharisma tersendiri yang lebih dari cukup meski porsinya tergolong terbatas. Tom Hardy yang keseluruhan wajahnya hanya terlihat dalam tempo yang singkat sebagai Farrier mencuri perhatian di menjelang akhir, mainly due to his popularity. Sisanya, ribuan figuran yang digunakan tampil fairly sesuai kebutuhan.
Sedikit berbeda dari kebiasaan dan signatural Nolan (bahkan diakui Nolan sendiri sebagai film eksperimen), Dunkirk memang tak memberikan impact se-powerful biasanya. Sebagai film berlatar perang pun bukan merupakan yang paling superior maupun eksepsional. Gaya narasinya pun tidak benar-benar baru, kendati dilakukan dengan perhitungan matematis yang cermat. Bukankah segala upaya detail yang dilakukan sia-sia jika gagal untuk memberikan rasa lebih ataupun impact tertentu kepada penonton? Yes, it’s very much discussable just like any other Nolan’s, but arguably not the most impactful one. Bahkan tak salah pula jika ada yang meletakkannya sebagai the least favorite from Nolan. Saya akui bagus, tapi bahkan saya tidak tertarik untuk mengalami ulang dalam format apapun atau membeli BluRay Disc-nya kelak. 
P.S.: Dunkirk memang dibuat untuk dinikmati secara maksimal di teater IMAX. Terutama 75% adegan yang di-shot dengan kamera IMAX dan punya aspect ratio 1.90:1 yang otomatis ter-crop di layar standard. Jadi jika Anda punya aksesnya, pilihan untuk mengalaminya di layar IMAX adalah yang terbijak.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates