The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Read more.

Monday, July 31, 2017

The Jose Flash Review
Napping Princess
[ひるね姫
知らないワタシの物語]

Selain Hollywood, Jepang sejak lama dikenal lewat karya-karya sci-fi dengan imajinasi dunia masa depan yang tergolong tinggi dan punya ciri-ciri visual yang khas, terutama lewat medium animasi atau yang secara spesifik disebut anime. Tak sedikit yang akhirnya di-remake Hollywood seperti baru-baru ini, Ghost in the Shell. Selain bertemakan dewasa, ada pula yang membidik pasar yang lebih luas dengan mengambil setting remaja. Setelah terakhir penonton bioskop Indonesia disuguhi Your Name (Kimi no na wa.), kali ini giliran distributor Feat Pictures menawarkan Napping Princess (Hirune-hime: Shiranai watashi no monogatari), sebuah gabungan fantasi sci-fi dengan kehidupan sosial remaja, seperti yang kerap disandingkan oleh sinema Jepang, terutama lewat animenya. Merupakan produksi anime pertama dari studio Signal.MD (bagian dari I.G Port), Napping Princess (NP) ditulis dan disutradarai oleh Kenji Kamiyama (Ghost in the Shell: Stand Alone Complex, Moribito – Guardian of the Spirit, dan Eden of the East). Dengan terlibatnya Satoko Morikiwa (The Cat Returns, Eden of the East, dan Xi AVANT) selaku desain karakter, Shigeto Koyama (Michiko & Hatchin, Moribito – Guardian of the Spirit, Heroman) selaku desainer mekanis, serta Christophe Ferreira (Bleach, Crayon Shin-chan Movie 22, Fullmetal Alchemist: Brotherhood, Gala) yang menangani concept art, creature design, dan key animation, NP menjanjikan sebuah fantasi sci-fi yang menarik dan cukup visioner.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Drone

Masih ingat tahun 2016 lalu ada film thriller war, Eye in the Sky yang mengedepankan kisah drone pengawas yang memata-matai sepak terjang teroris? Bukan rahasia lagi memang bahwa badan-badan intelijen dunia sudah memanfaatkan teknologi drone untuk memata-matai bahkan menyerang target. Tahun 2017 ini Kanada tak mau kalah mengangkat tema serupa meski skalanya bisa dikatakan jauh lebih kecil. Dari sutradara Jason Bourque, sutradara Kanada yang memenangkan beberapa penghargaan film internasional lewat Black Fly 2014 silam, Drone meletakkan aktor The Lord of the Rings, Sean Bean di lini terdepan, didukung Patrick Sabongui (Kapten David Singh di serial The Flash versi 2014 dan baru saja kita lihat di remake Power Rangers sebagai ayah Trini), Mary McCormack (serial The West Wing), serta bintang muda Maxwell Haynes. Diputar pertama kali di ajang Vancouver Film Festival April lalu, penonton Indonesia sudah bisa menyaksikannya di layar lebar oleh distributor Indonesia Entertainment Group.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
From a House on Willow Street

Kita di Indonesia mungkin tergolong sangat jarang menikmati sinema Afrika Selatan. Padahal kiprah sinema Afrika Selatan di perpetaan film dunia cukup konsisten. Bahkan pernah ada yang sampai memenangkan Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year, Tsotsi (2005). Di ranah pure hiburan, ada franchise The Gods Must Be Crazy dan Yankee Zulu yang benar-benar menancap dalam ingatan saya. Di era 2000-an, sineas Neill Blomkamp berhasil menembus pasar dunia, berturut-turut lewat District 9 dan Chappie. Tahun ini Feat Pictures mencoba kembali memperkenalkan taste Afrika Selatan lewat film horor bertajuk From a House on Willow Street (FaHoWS). Dari sutradara Alastair Orr (Indigenous dan Expiration) dan naskah yang disusun Alastair bersama rekan di film-film sebelumnya, Catherine Blackman dan Jonathan Jordaan. Menggabungkan tema home invasion dengan exorcism, FaHoWS terdengar menarik untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 30, 2017

The Jose Flash Review
TEN: The Secret Mission

Wanita-wanita seksi. Jago bela diri. Misi espionage. Paduan formula yang sudah sangat jamak dilakukan di ranah sinema manapun. Mulai produksi kelas A Hollywood seperti Charlie’s Angels hingga produksi kelas B macam film-film karya Andy Sidaris yang populer di era 80-an dengan istilah BBB alias Bullets, Bombs, and Boobs. Sensualitas akan selalu menjual, apalagi dipadukan dengan kemampuan beladiri yang semakin menambah sisi sensual wanita. Resep itulah yang ingin coba dihadirkan oleh Vicky G. Saputra, co-founder sekaligus CEO Papilon Group yang menerbitkan majalah pria dewasa, Popular, sebagai salah satu bentuk ekspansi bisnis terbarunya. Menggandeng sutradara Helfi Kardit yang pernah menangani puluhan film multi genre, di antaranya Miracle, Lantai 13, Mengaku Rasul: Sesat, Arisan Brondong, Arwah Goyang Karawang, BrokenHearts, Guardian, dan Kacaunya Dunia Persilatan, digelarlah audisi menjaring sepuluh orang model bergelar Miss Popular yang digembleng berbagai seni bela diri yang berbeda-beda selama dua setengah bulan, mulai Pencak Silat, Kung Fu, Taekwondo, Park Our, Muay Thai, Kravmaga, Karate, hingga memanah dan menembak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, July 29, 2017

The Jose Flash Review
Mubarakan
[मुबारकां]

Di ranah perfilman Hindi, memerankan dua karakter atau lebih agaknya menjadi salah satu tantangan favorit bagi para aktor. Setelah Aamir Khan di Dhoom:3 dan Shah Rukh Khan di Fan, kini lagi-lagi Arjun Kapoor memainkan peran ganda setelah sebelumnya di Aurangzeb (2013). Film komedi romantis keluarga berjudul Mubarakan (dalam bahasa Inggris berarti ‘congratulations’) ini menandai pula kerjasama pertamanya dengan sang paman, Anil Kapoor. Dari sutradara Anees Bazmee (No Entry, Singh is Kinng, dan Welcome Back) dan penulis naskah Balwinder Singh Janjua (Chak Jawana), Mubarakan turut menggandeng aktris Ratna Pathak yang mencuri perhatian di Lipstick Under My Burkha dan Kapoor & Sons, Pavan Malhotra (Bhaag Milkha Bhaag, Bang Bang!), akttris cantik dari Barfi!, Ileana D’Cruz, Athiya Shetty (Hero), dan Neha Sharma (Kyaa Super Kool Hain) untuk makin menyemarakkan film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Overdrive

Bicara soal film bertemakan mobil, kebut-kebutan, dan heist, judul The Fast and the Furious sebagai brand besar masih menjadi yang terdepan. Namun bukan berarti tidak ada film-film bertemakan serupa yang menarik untuk disimak. Misalnya remake Italian Job tahun 2003 silam dan Gone in 60 Seconds. Tahun 2017 ini sinema Perancis mencoba mengangkat (atau mendompleng popularitas franchise The Fast and the Furious?) formula serupa Italian Job dengan menggandeng Antonio Negret, sutradara film action thriller Transit 2012 silam dan serial-serial populer seperti The Flash, Lethal Weapon, Arrow, dan remake MacGyver. Penyusun naskahnya pun cukup menjanjikan, yaitu duo Michael Brandt dan Derek Haas yang pernah menyusun naskah 2 Fast 2 Furious, remake 3:10 to Yuma, dan Wanted. Putra sulung aktor veteran Clint Eastwood, Scott Eastwood, didapuk sebagai aktor utama, bersama Freddie Thorp, Ana de Armas (Knock Knock, War Dogs, dan upcoming Blade Runner 2049), Gaia Weiss (serial Vikings), Clemens Schick (Casino Royale dan Point Break versi 2015), serta Simon Abkarian (Casino Royale dan Persepolis). Meski bukan produksi major studio Hollywood, nama-nama tersebut sama sekali tidak boleh diremehkan. Setidaknya sebagai sekedar sajian hiburan, Overdrive masih punya daya tarik yang cukup besar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 28, 2017

The Jose Flash Review
Valerian
and the City of a Thousand Planets


Seperti kebanyakan sinema Eropa lainnya, sinema Perancis dikenal punya style arthouse yang cukup kental. Padahal selain arthouse, mereka juga menghasilkan banyak sekali film-film bercita rasa blockbuster yang tak kalah dari Hollywood. Salah satu sineas yang populer di ranah ini adalah Luc Besson. Setelah The Fifth Element yang kemudian menjadi cult sci-fi, Besson memberanikan diri mewujudkan dream-project sejak lama, adaptasi novel grafis karya Pierre Christin dan illustrator Jean-Claude Mézières yang dirilis pertama kali tahun 1967 bertajuk Valerian and the City of a Thousand Planets (Valerian). Meski pernah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, tapi namanya tidak sepopuler komik Perancis lainnya seperti Asterix & Obelix atau Lucky Luke. Apalagi pergantian sekian generasi yang membuat namanya semakin asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun siapa sangka justru novel grafis ini lah yang menjadi inspirasi banyak film sci-fi selama ini. Sebut saja Star Wars, Conan the Barbarian, Independence Day, bahkan The Fifth Element sendiri (Mézières malah menjadi salah satu desainer konsep di film tersebut). Pencapaian James Cameron lewat Avatar lah yang membuat Besson yakin bahwa visualisasi Valerian ke layar lebar sudah sangat memungkinkan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 26, 2017

The Jose Flash Review
War for the Planet of the Apes

Remake atau reboot sudah jadi hal yang lumrah di Hollywood. Namun apa yang dilakukan Fox untuk Rise of the Planet of the Apes (RotPotA) ini tergolong unik. Meski memegang hak atas novel karya penulis Perancis, Pierre Boulle, yang diterbitkan pertama kali tahun 1963, dan pernah diangkat ke layar lebar sebanyak lima seri sejak tahun 1968, dan di-remake oleh Tim Burton pada 2001, bukan ide Fox untuk kembali me-remake-nya. Adalah prakarsa pasangan suami-istri penulis naskah yang pernah menyusun naskah The Relic, Rick Jaffa dan Amanda Silver, yang beride ketika mengumpulkan berbagai fakta tentang simpanse. Fox kemudian memberikan lampu hijau untuk memproduksinya dengan menunjuk Mark Bomback untuk membantu memodifikasi naskah tersebut, terutama memasukkan berbagai tribute dari materi aslinya. Kesuksesan RotPotA, baik secara komersial (mengumpulkan US$ 481.8 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 93 juta) maupun resepsi kritikus, produksi sekuel Dawn of the Planet of the Apes (DotPotA) segera terlaksana dengan keuntungan yang ternyata lebih besar lagi (US$ 710.6 juta di seluruh dunia dari budget US$ 235 juta).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 25, 2017

The Jose Flash Review
Wish Upon

Horror remaja yang pernah booming di era 90-an sudah tergantikan oleh horror paranormal dengan background keluarga yang saat ini sedang marak, terutama berkat ‘prakarsa’ dari James Wan lewat franchise Insidious dan The Conjuring-nya. Horror remaja menjadi semacam barang langka yang kehadirannya kerap saya rindu-rindukan. Jawaban atas kerinduan saya terjawab ketika ada kabar pembuatan film horror remaja bertajuk Wish Upon (WU). Disutradarai oleh John R. Leonetti (cinematographer untuk film-film James Wan sejak Dead Silence, Death Sentence, Insidious, The Conjuring, hingga Insidious: Chapter 2 yang juga pernah dipercaya menyutradarai Mortal Kombat: Annihilation, The Butterfly Effect 2, dan Annabelle), berdasarkan naskah Barbara Marshall (serial Terra Nova dan terakhir tahun 2016 lalu, Viral) yang terpilih dari Black List 2015. Diproduksi di bawah bendera Broad Green Pictures dan Orion Pictures, WU menggandeng nama-nama muda seperti Joey King (Quarantine, Ramona and Beezus, The Conjuring, dan Independence Day: Resurgence), Ki Hong Lee (franchise The Maze Runner), Shannon Purser (serial Stranger Things dan Riverdale), dan mantan bintang muda, Ryan Phillippe (I Know What You Did Last Summer). Meski berating PG-13, trailer WU cukup menjanjikan sajian horor seperti yang saya rindu-rindukan sejak lama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Munna Michael
[मुन्ना माइकल]

Eksistensi Michael Jackson sebagai legenda musik sudah terbukti abadi bahkan setelah kepergiannya sekalipun. Warisannya menginspirasi banyak karya-karya di belahan dunia manapun. Salah satu yang paling kuat adalah India, dimana budaya musik dan tari-tarian masih mendapatkan perhatian besar. Munna Michael (MM) adalah contoh terbaru, persembahan dari sutradara Sabir Khan yang kembali menggandeng Tiger Shroff, bintang muda putra dari aktor legendaris Jackie Shroff, setelah Heropanti dan Baaghi. Sabir juga menggandeng aktor Hindi yang sedang high-demand, Nawazuddin Siddiqui, Ronit Roy (Udaan, 2 States, Student of the Year, Kaabil, Sarkar 3), dan model yang mengukir debut akting di film ini, Nidhhi Agerwal. Dengan trailer yang electrifying, perpaduan antara dance dan aksi menjadi sajian yang menarik dan bikin penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 23, 2017

The Jose Flash Review
Dunkirk

Nama Christopher Nolan sebagai sineas dunia era 2000-an sudah menjadi semacam salah satu ‘dewa’ perfilman bagi beberapa kaum moviegoers dan kritikus. Salah satu penyebab utamanya adalah kepiawaiannya dalam menggagas ide mind-blowing dan menghadirkan twist ending yang kerap kali inventif. Lihat saja Memento, The Prestige, Inception, dan Interstellar. Bahkan ketika dipercaya menggarap salah satu versi Batman, The Dark Knight Trilogy, hasilnya harus diakui punya taste eksepsional yang berbeda. Maka keputusannya untuk mengangkat tema kejadian nyata peristiwa Operasi Dinamo di Dunkirk, Perancis, era Perang Dunia II setelah beride sejak 25 tahun lalu, ini cukup bikin penasaran. Terutama bagaimana ia akan memasukkan signatural yang membesarkan namanya ke dalam kisah kejadian nyata yang jelas-jelas jauh dari kejadian-kejadian fiktif yang ia garap selama ini. Atau mungkin, bagaimana jadinya jika ia menggarap sesuatu di luar signatural materi yang mind-blowing. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 21, 2017

The Jose Flash Review
Mars Met Venus
[Part Cewe]

Kendati di era dimana suara-suara penyeru kesetaraan gender dan feminisme seperti saat ini sekalipun, harus diakui bahwa ada perbedaan mendasar antara pria dan wanita. Terutama dari segi pola pikir, prioritas, dan masih banyak hal lainnya. Tak salah jika kemudian ada yang menganalogikan perbedaan pria dan wanita sebagai (planet) Mars dan Venus dengan berbagai karakteristik yang membuat keduanya seolah susah untuk dipertemukan di satu titik tengah. Namun bukankah memang itu tujuan dari sebuah hubungan antara pria dan wanita? Tema battle of sexes sudah sangat sering diangkat di ranah perfilman manapun. Upaya terbaru dilakukan oleh MNC Pictures yang mencoba memasangkan komika, Ge Pamungkas, dengan aktris muda, Pamela Bowie di sebuah komedi romantis bertajuk Mars Met Venus (MMV). Seolah mempertegas (atau memanfaatkan?) tema perbedaan pria dan wanita, film yang dipercayakan kepada Hadrah Daeng Ratu (Heart Beat, Super Didi) di bangku penyutradaraan dan naskahnya disusun oleh Nataya Bagya (Aku dan Dia, 7/24, 3 Dara) ini dibagi (atau lebih tepatnya divisualisasikan) menjadi dua bagian. Dimulai dari Part Cewe (PCe) yang mewakili sudut pandang kaum hawa, sementara sudut pandang kaum adam dirilis selang dua minggu kemudian lewat Part Cowo (PCo). Apakah memang merupakan konsep pembeda yang solid atau sekedar gimmick (baca: trik) untuk melipat-gandakan peluang meraih penonton dengan membagi satu film menjadi dua bagian seperti yang sempat menjadi trend di perfilman kita?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Doll 2


Horor agaknya menjadi genre yang selalu diminati bagi penonton kita. Di tahun 2017 ini saja sudah ada dua film bergenre horor yang sudah tembus di atas dua juta penonton; Danur: I Can See Ghosts dan Jailangkung. Hitmaker Studios yang dikenal konsisten memproduksi film horor yang setidaknya selalu mengundang ratusan ribu penonton ke bioskop, tak mau kalah. Amunisi mereka tahun ini adalah sekuel dari horor box office mereka tahun 2016 silam yang berhasil membukukan angka 550 ribu penonton lebih, The Doll. Rocky Soraya masih duduk di bangku sutradara sekaligus produser. Begitu juga dengan Riheam Junianti (penulis naskah semua film produksi Hitmaker Studios dan beberapa produksi Soraya Intercine Films) yang masih dipercaya menyusun naskahnya bersama Fajar Umbara (adik sutradara Anggy Umbara yang pernah menulis naskah franchise Comic 8, 3 (Tiga), dan Anak Kos Dodol). Sementara kisahnya mencoba mengadaptasi pola Insidious dengan mempertahankan karakter Bu Laras yang diperankan Sara Wijayanto, menyertai karakter-karakter baru yang memasangkan Luna Maya dan Herjunot Ali.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 20, 2017

The Jose Flash Review
Let's Go Jets
[チア☆ダン
女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話]

Di antara genre sport, tema cheerleader agaknya masih tergolong jarang diangkat. Bisa jadi hanya Bring It On judul yang bisa diingat dengan mudah. Selain tema yang jarang, ia juga berhasil menjadi sajian yang memorable dan punya daya binge-watch yang cukup tinggi. Tahun 2017, sinema Jepang mencoba ‘menantang’ dominasi Bring It On. Film bertajuk Let’s Go Jets! (LGJ) ini diangkat dari kisah nyata tim cheerleader asal kota kecil di Jepang, Fukui, Jets, yang secara megejutkan memenangkan kompetisi internasional di Amerika Serikat tahun 2009. Disutradarai oleh Hayato Kawai (dikenal lewat berbagai mini seri TV seperti Kurosaki-kun no Iinari ni Nante Naranai, Oniichan, gacha, dan Ani ni aisaresugite komattemasu), naskahnya disusun oleh Tamio Hayashi (The Eternal Zero, Prophecy), LGJ mempertemukan kembali aktris muda, Suzu Hirose (Our Little Sister), dan aktor muda, Mackenyu (upcoming Pacific Rim: Uprising), setelah franchise Chihayafuru. Didukung pula oleh Yûki Amami (pengisi suara Granmamare, sang peri laut di animasi Studio Ghibli, Ponyo) dan bintang-bintang muda, seperti Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, dan Miu Tomita.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Jagga Jasoos
[जग्गा जासूस]


Di sinema Hindi, nama Anurag Basu termasuk salah satu sutradara yang disegani. Tak hanya punya kualitas di atas rata-rata, tapi juga tak jarang menjadi box office, baik di rumah sendiri maupun secara internasional. Di antaranya yang paling populer, Kites dan Barfi!. Persembahan terbaru darinya adalah sebuah perpaduan unik antara kisah detektif a la Tintin dengan treatment musikal khas sinema Hindi. Proyek lanjutan antara Anurag dan Ranbir setelah Barfi! bertajuk Jagga Jasoos (JJ - Inggris: Detective Jagga) ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak tahun 2013, tapi perjalanan produksinya jauh dari kata mulus. Mulai faktor keretakan hubungan asmara antara kedua pemeran utamanya, Ranbir Kapoor dan Katrina Kaif, hingga peran ayah Jagga yang awalnya (bahkan sempat menjalani syuting) diperankan Govinda akhirnya diganti oleh Saswata Chatterjee (Kahaani). Banyaknya lokasi syuting yang digunakan, mulai Daarjeling, Thailand, Moroko, hingga Cape Town, Afrika Selatan, turut mempengaruhi lamanya proses pengambilan gambar. Jadwal tayang yang sedianya diset 2015, lalu mundur menjadi November 2016, dan akhirnya Juli 2017, termasuk proses re-shot beberapa adegan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 19, 2017

The Jose Flash Review
Mr. Hurt
[มิสเตอร์เฮิร์ท
มือวางอันดับเจ็บ]

Patah hati dan susah move on memang masih merupakan fenomena asmara universal di belahan dunia mana pun. Begitu juga di ranah film yang bahkan sudah punya formula tersendiri di balik treatment dan resolusi masing-masing. Sajian terbaru datang dari sinema Thai yang dikenal sering menarik dalam mengemas genre romantic comedy, Mr. Hurt. Naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Ittisak Eusunthornwattana yang baru menelurkan The Rooms tahun 2014 silam, Mr. Hurt mempercayakan peran utama kepada Sunny Suwanmethanon yang populer berkat I Fine… Thank You Love You, didukung bintang TV, iklan, dan model, Marie Broenner, Mashannoad Suvalmas (sebelumnya juga dikenal sebagai model), dan aktor 4bia, Phobia 2, ATM: Er Rak Error, dan Pee Mak, Pongstaorn Jongwilak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 18, 2017

The Jose Flash Review
Baywatch


Adalah hal yang wajar, bahkan hampir bisa selalu dipastikan bahwa serial TV akan diangkat ke layar lebar. Tinggal waktu saja yang menentukan. Setelah Mission: Impossible, The Avengers, Charlie’s Angels, The A Team, Miami Vice, dan masih banyak lagi, tahun 2017 menjadi giliran Baywatch yang bertandang ke bioskop. Serial yang disiarkan sebanyak 11 season sejak 1989 ini menjadi salah satu ikon pertelevisian dunia di era 90-an. Tergolong kelewat lama untuk brand sebesar Baywatch, tapi justru ini merupakan kesempatan untuk membuat fans lama bernostalgia sekaligus menjaring fans baru. Pemeran-pemeran aslinya jelas tak mungkin muncul kembali sebagai karakter-karakter ikonik mereka, tapi bukan berarti tak dianggap begitu saja. Baywatch versi layar lebar memasang aktor-aktris masa kini yang cukup mewakili karakteristik karakter-karakter aslinya, seperti Dwayne ‘The Rock’ Johnson sebagai Mitch Buchannon, Zac Efron sebagai Matt Brody, Alexandra Daddario sebagai Summer Quinn, Kelly Rohrbach sebagi CJ Parker, dan Ilfenesh Hadera sebagai Stephanie Holden. Superstar Bollywood yang juga mantan Miss World 2000, Priyanka Chopra, pun turut digandeng untuk menyemarakkan film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 14, 2017

The Jose Flash Review
Despicable Me 3


Tak mudah menciptakan sebuah franchise baru yang sukses mengusung karakter-karakter ikonik berusia panjang. Beruntung, Illumination Entertainment, studio animasi milik Universal Pictures di bawah Chris Meledandri yang berdiri sejak 2007 lalu menelurkan franchise Despicable Me (DM) di tahun 2010. Tak ada yang menyangka proyek animasi berbudget US$ 69 juta ini akan sukses mengumpulkan US$ 546.1 juta di seluruh dunia (menurut Box Office Mojo). Kesuksesan finansial terus meningkat dengan Despicable Me 2 tahun 2013 (mengumpulkan US$ 975.8 juta) dan spin-off Minions tahun 2015 (mengumpulkan US$ 1.167 milyar), meninggalkan produksi animasi-animasi mereka lainnya, seperti Hop, Dr. Seuss’ The Lorax, The Secret Life of Pets, dan Sing.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 13, 2017

The Jose Flash Review
Filosofi Kopi The Movie 2:
Ben & Jody


Sebagai salah satu negara penghasil sekaligus supplier kopi terbesar di dunia (nomor 4, menurut WorldAtlas), layak jika Indonesia mengangkatnya dalam sebuah karya audio-visual. Filosofi Kopi The Movie (FKTM) yang diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari dan dirilis tahun 2015 lalu berhasil menjadikan ‘kopi’ tak hanya sebagai latar belakang kisah persahabatan dan asmara, tapi juga menjadikannya filosofi yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia. Karena potensi pengembangan kisah yang cukup besar, Visinema selaku produsen mengadakan sayembara penulisan premise kelanjutan kisah Ben & Jody, dua karakter utamanya. Hasilnya kemudian ‘diracik’ oleh tim penulis naskah dari film pertamanya, Angga Dwimas Sasongko sendiri (yang juga merangkap sutradara dan produser eksekutif), Jenny Jusuf, ditambah M. Irfan Ramly yang pernah terlibat penulisan naskah Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan Surat dari Praha, produksi Visinema juga. Duo karakter utamanya masih diisi oleh Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, dengan penambahan Luna Maya, Nadine Alexandra, serta sederetan cameo yang turut menyemarakkan sekuel bertajuk Filosofi Kopi The Movie 2: Ben & Jody (B&J).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mom

Di tengah kemunculan aktor-aktris berbakat generasi baru di sinema Hindi, nama Sridevi yang dikenal sebagai aktris legendaris sejak kemunculan pertama kalinya di era 60-an masih punya daya tarik yang kuat dan dihormati berbagai pihak. Tak hanya penonton dan penggemar, tapi juga sineas dan aktor-aktris senior lainnya. Apalagi Sridevi dikenal cukup pilih-pilih peran. Terakhir kita dibuat terpesona lewat penampilannya di English Vinglish tahun 2012 silam. Kali ini ia muncul di genre thriller yang masih tergolong jarang di sinema Hindi, Mom. Di bawah arahan sutradara Ravi Udyawar yang mana ini merupakan debut penyutradaraannya (sebelumnya dikenal sebagai pelukis, illustrator, dan sutradara music video - TheHindu), dan dari naskah penulis novel best-seller tahun 2012, Marathon Baba, Mom menandai film Sridevi ke-300. Didukung pula oleh Nawazuddin Siddiqui, Akshaye Khanna, bintang Pakistan, Sajal Ali dan Adnan Siddiqui, Abhimanyu Singh, dan Vikas Verma.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 12, 2017

The Jose Flash Review
Spider-Man: Homecoming

Jauh sebelum Marvel Studios dibeli oleh Disney dan mampu berdiri sendiri, rights tokoh-tokoh superhero-nya tersebar di berbabai major studio. Di antara semuanya, Spider-Man yang dipegang oleh Columbia Pictures (Sony Pictures) bisa dikatakan yang paling stabil, baik dari segi kualitas maupun perolehan box office. Maka ketika banyak yang ‘kembali’ ke pangkuan Marvel Studios setelah akuisisi Disney, Sony Pictures boleh berbangga karena rights Spider-Man masih berada di tangannya, sementara Fox bersusah-payah mempertahankan rights X-Men dan Fantastic Four.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 6, 2017

The Jose Flash Review
The Crucifixion

Salah satu tema di genre horror yang akhirnya berkembang menjadi sub-genre adalah exorcism atau pengusiran setan. Tentu tema exorcism mau tak mau lekat dengan unsur reliji yang menjadi core-nya. Ada cukup banyak contoh judul film yang memberikan kontribusi penting di sub-genre tersebut. Bisa karena memberikan informasi-informasi baru seputar ritual exorcism, baik yang merupakan fakta maupun fiktif, atau karena pencapaian style visual yang ‘berani’. Selain The Exorcist (1973) dan franchise-nya yang menjadi ‘bapak dari segala film exorcism’, masih ada The Exorcism of Emily Rose (2005), Drag Me to Hell (2009), hingga yang menurut saya cukup inovatif dari segi informasi maupun visual style, Deliver Us from Evil (2014). The Crucifixion yang ditayangkan perdana di Screamfest Film Festival, Los Angeles, Oktober 2016 lalu ini sempat menjadi bahan pembicaraan penggemar horror. Betapa tidak, nama-nama di belakang-nya cukup menjanjikan. Mulai sutradara asal Perancis, Xavier Gens (segmen X is for XXL di antologi The ABC’s of Death, Frontier(s), dan pernah dipercaya untuk menangani Hitman versi tahun 2007), duo penulis naskah, Chad dan Carey Hayes (keduanya dikenal sebagai penulis naskah House of Wax versi tahun 2005, The Reaping, Whiteout, dan duologi The Conjuring), hingga Javier Botet (aktor di balik sosok-sosok ‘halus’ di Mama, The Conjuring 2, The Other Side of the Door, Alien: Covenant, hingga The Mummy versi 2017 barusan) di salah satu jajaran cast. Masih ditambah pemanfaatan kultur dan setting Romania yang punya eksotisme tersendiri, apalagi fakta bahwa Romania adalah negara asal cikal-bakal legenda Dracula yang kita kenal selama ini. Meski tergolong indie dan bahkan sampai tulisan ini diturunkan masih belum menentukan jadwal tayang di Amerika Serikat, The Crucifixion telah berhasil mengundang rasa penasaran para pecinta horror di seluruh dunia. Apalagi selepas merilis trailer perdananya. Beruntung Indonesia menjadi negara pertama yang berkesempatan menyaksikannya secara umum.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates