Friday, June 2, 2017

The Jose Flash Review
Wonder Woman

Upaya DC Comic untuk menyusul rival terbesarnya, Marvel, dalam memboyong universe superhero komiknya ke layar lebar memang agak tertinggal. Namun dengan grand design yang tak kalah megah dan meriah dari Zack Snyder. Sayangnya meski tetap menarik perhatian penonton umum, tak banyak yang menyukai konsep kelam-nya. Maka pencarian bentuk yang sesuai dengan selera pasar umum terus dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu upayanya adalah Wonder Woman (WW) yang sejatinya sudah sangat lama direncanakan. Bayangkan, komiknya pertama kali terbit tahun 1941 tapi versi layar lebar pertamanya baru pertama kali muncul tahun 2017 setelah selama ini hanya menyambangi layar kaca lewat serial live action yang dipopulerkan oleh Lynda Carter, serial animasi, dan film video. Kemunculannya di Batman v Superman: Dawn of Justice 2016 silam sempat memancing excitement, terutama karena sosoknya yang dianggap berhasil diwakili oleh Gal Gadot, aktris berdarah Israel yang populer lewat franchise Fast & Furious. Melengkapi konsep women empowerment yang juga sedang menjadi global issue panas, DC dan Warner Bros. tak mau kehilangan momen. Sutradara wanita yang sempat mencuri perhatian dunia lewat Monster (2003), Patty Jenkins, dipercaya untuk melesatkan karir penyutradaraannya lewat salah satu franchise berprestis tinggi ini. Pemeran-pemeran pendukungnya pun tak main-main. Mulai Chris Pine, Robin Wright, Connie Nielsen, Danny Huston, David Thewlis, Ewen Bremner, hingga Elena Anaya (masih ingat The Skin I Live In?). Tentu hasil WW yang konon punya tone yang berbeda dengan konsep dark dari Zack Snyder ini turut menjadi penentuan penting, akan bagaimana masa depan konsep DC Extended Universe berikutnya, terutama Justice League yang direncanakan tayang November tahun ini juga.

Konon menurut mitos, sebelum menjadi Wonder Woman, ia bernama Diana. Berasal dari kaum Amazons yang kesemuanya berjenis kelamin wanita dan tinggal di Themyscira, dimensi yang berbeda dengan manusia. Diana dibesarkan oleh seorang wanita yang ia kenal sebagai ibu, Hyppolita, dengan dewa dari pada dewa, Zeus, sebagai ayah kandungnya. Meski kaum Amazons yang sudah dewasa diarahkan untuk menjadi warrior, Hyppolita selalu melarang Diana untuk ikut dilatih, termasuk oleh Antiope yang dikenal paling tangguh. Kemunculan seorang pria manusia, Steve Trevor, yang tak sengaja terdampar di dimensi Amazons, membuat Diana semakin penasaran dengan umat manusia. Steve ternyata seorang mata-mata Inggris yang bertugas menyelidiki rencana panglima Jerman, Ludendorff, menjelang rencana genjatan senjata yang bisa mengakhiri Perang Dunia I. Mendengar tentang perang, Diana yakin bahwa ini adalah ulah Dewa Perang, Ares yang mempengaruhi manusia untuk saling berperang, sesuai dengan mitos yang selalu didengarnya sejak kecil. Diana membujuk Hyppolita agar boleh ikut Steve ke dunia manusia untuk menghabisi Ares dan menjaga kedamaian di bumi. Tentu kehadiran seorang wanita untuk berperang di masa itu adalah sesuatu yang tabu. Dibantu oleh Sameer yang polyglot, Charlie yang katanya seorang penembak jitu, dan The Chief, sang Indian yang menjadi prajurit bayaran, mereka bertekad menggagalkan rencana jahat Ludendorff dan kaki tangannya yang berjuluk Dr. Poison, Dr. Maru.

Sama-sama bersetting di era Perang Dunia, banyak yang menyebut WW menggunakan formula (atau template?) ang sama dengan Captain America: The First Avengers (CA - 2011). Bedanya, jika CA bersetting Perang Dunia II, WW pada Perang Dunia I. Mungkin ada benarnya, seperti konsep keluguan (innocence) sebelum menjadi superhero dan elemen romance. Konsep innocence superhero lebih digunakan sebagai character investment yang masih pure dan lugu, sekaligus instrumen untuk menyampaikan humor-humornya.  Begitu juga elemen romance yang dihadirkan sebagai bumbu. Tak pernah ditampilkan dengan mencolok, tap bisa dengan mudah dirasakan. Above all, ada konsep jauh lebih besar dan filosofis yang dihadirkan di sini, terutama lewat kedua karakter sentralnya, Diana dan Steve. Menghadirkan konsep dunia mitologi dan dunia nyata dan karakter yang sama-sama bertolak belakang; Diana sosok jujur dan murni sedangkan Steve seorang mata-mata yang jelas menjadikan penipuan sebagai profesi. Diana dan Steve seolah saling belajar tentang keduanya. Diana belajar bahwa dunia manusia tak selalu seperti yang ia yakini sebelumnya ataupun mitologi yang ia dengar sejak kecil, sementara Steve juga mau tak mau turut percaya tentang konsep dewa-dewi yang sempat ia anggap dongeng fantasi semata ketika bertemu Diana untuk pertama kali. Mitologi yang menjadi filosofi tentang sejatinya manusia, antara kejahatan dan kebaikan, seolah diterjemahkan secara nyata. Dilengkapi elemen-elemen pendukung tentang manusia yang turut memperkaya konsep besarnya. Konklusi yang menjadi highlight sosok sang superhero ke depannya, seolah menjanjikan harapan yang uplifting, tak hanya umat manusia yang punya harapan dengan kehadiran Wonder Woman, tapi juga Wonder Woman sendiri menaruh harapan pada kemanusiaan, berbeda jauh dengan konsep installment DCEU sebelumnya yang cenderung depresif. Tak ketinggalan isu women empowerment dan diversity yang dimasukkan dengan begitu lembut dan sejalan dengan konsep besarnya. Tentu tak lupa pula adegan-adegan aksi yang porsinya seimbang dan ditata dengan sangat baik sehingga punya emosi serta detail yang pas.

Banyak yang menganggap akting Gal Gadot masih terlalu datar sebagai Diana Prince alias Wonder Woman. Namun menurut saya, ia justru menerjemahkan karakternya sebagai sosok elegan yang lugu, pure, tapi punya fighting skill yang membelalakkan mata, selain tentu saja pesona fisik yang tak perlu diperdebatkan lagi. Ekspresi-ekspresi wajah dan gesture-nya mewakili itu semua dengan begitu elegan, tak ada yang kelewat dramatis, bahkan ketika momen paling emosional yang tetap berhasil menggerakkan emosi penonton (setidaknya bagi saya). Malahan, sama seperti Almarhum Christopher Reeve yang sampai kapanpun akan selalu mewakili sosok Superman, Gal Gadot pun seolah dilahirkan untuk menjadi Wonder Woman. Chemistry yang dibangunnya bersama Chris Pine dengan mudah bisa dirasakan tanpa ekspresi yang mencolok. Chris Pine mungkin masih bermain tipikal sebagai Steve Trevor, tapi jelas mampu mengimbangi performa Gadot dengan kharisma yang cukup. 

Di lini pendukung pun tampil mencuri perhatian meski porsinya masih jauh di bawah Gadot maupun Pine. Mulai Connie Nielsen sebagai Hyppolita, Robin Wright sebagai Antiope yang menunjukkan kharisma kuat, Lucy Davis sebagai Etta Candy yang menjadi kontributor komedi terbesar tapi menjaganya tak sampai jatuh kelewat slapstick seperti Melissa McCarthy, misalnya, Danny Huston sebagai Ludendorff, Saïd Taghmaoui sebagai Sameer, Ewen Bremmer sebagai Charlie, David Thewlis yang tampil cukup mengejutkan (baca: mengagumkan) di momen-momen terpentingnya, serta favorit saya, Elena Anaya sebagai Dr. Moru yang kemisteriusannya bikin penasaran.

Sebagai sajian blockbuster, WW jelas didukung teknis yang tertata baik. Sinematografi Matthew Jensen (Chronicle, Fantastic Four (versi 2015)) menjadikan momen-momen aksinya, terutama No Man’s Land terasa begitu ‘akbar’ dan spektakuler. Begitu juga momen klimaks yang mungkin tak se-‘akbar’ No Man’s Land, tapi punya sisi emosional yang masih membuatnya tetap punya ‘rasa’ lebih. Kualitas format 3D cukup layak tapi tak terlalu istimewa dengan depth of field yang just okay dan beberapa gimmick pop-out yang sayangnya pada adegan lambat sehingga dampaknya tak terlalu 'mengena' terhadap penonton. Editing Martin Walsh bersinergi tepat dengan sinematografi dan konsepnya dengan pace yang mengalir lancar tanpa mengorbankan detail plot dan emosi di balik durasinya yang mencapai 141 menit. Desain produksi Aline Bonetto dan tim artistiknya, termasuk desain kostum Lindy Hemming yang membuat nuansa era Perang Dunia I terlihat sangat indah dan berkelas sekaligus kostum kaum Amazons yang memberikan sedikit warna fantasi mitologis tanpa terkesan kelewat kontras dengan desain dunia manusia. Score dari Rupert Gregson-Williams yang megah dan punya taste blockbuster cukup signatural, termasuk penggunaan melodi The Immigrant Song di momen-momen penting, serta soundtrack To Be Human dari Sia dan Labrinth yang menutup film sejalan dengan konklusinya, dari segi lirik maupun melodi. Tata suara Dolby Atmos memberikan kontribusi lebih untuk menghidupkan adegan-adegan aksinya seolah membawa penonton ke tengah-tengah medan peperangan. Dengarkan suara pedang yang melesat, tembakan, ledakan, dan pesawat jatuh yang begitu detail dalam pembagian tiap kanalnya.

Sebagai sebuah installment solo pertama yang jelas merupakan perkenalan, WW berhasil mengemban misinya, menjadikan WW sosok superhero wanita yang kehadirannya selalu dinantikan dengan antusias. Menghadirkan sosok superhero dengan kisah manusiawi yang lugu di balik konsep imajinatifnya, berhati besar, sekaligus kick-ass.  Pencapaian milestone yang baik untuk tema superhero, bahkan mungkin mampu memberikan pengaruh lebih terhadap antusiasme installment-installment DCEU ke depannya. Let’s just wait and see where DC-WB will go to with their biggest franchise.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates