Sunday, June 25, 2017

The Jose Flash Review
Tubelight
[ट्यूब लाइट]

Tak hanya di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen yang tepat untuk merilis film line-up utama di India. Dua tahun terakhir ini Salman Khan lah yang seolah menjadi jawara di Hari Raya, dengan Bajrangi Bhaijaan (2015) dan Sultan (2016). Tak mau melepaskan predikat jawara Hari Raya, tahun ini Salman sudah mempersiapkan hits terbarunya, Tubelight, yang diadaptasi dari film reliji Katolik asal Hollywood, Little Boy (2015). Popularitas Little Boy yang sangat kurang terdengar, bahkan di kalangan penonton film reliji Katolik sekalipun, menjadi keuntungan tersendiri bagi Tubelight. Kabir Khan kembali digandeng sebagai sutradara sekaligus penulis naskah (dibantu Parveez Sheikh dan Manurishi Chadha) setelah Bajrangi Bhaijaan. Di lini cast, didukung pula oleh Sohail Khan cukup lama absen berakting (Hello Brother, Fight Club: Members Only, dan Veer), Om Puri yang mana ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada awal tahun 2017 lalu, dan aktris Mandarin, Zhu Zhu, yang sebelumnya pernah kita lihat di What Women Want (versi Andy Lau), Cloud Atlas, dan The Man with the Iron Fist. Musik dari Pritam dan Amitabh Bhattacharya tentu menjadi daya tarik lain yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Laxman terlahir sebagai anak yang agak ‘lambat berpikir’ sehingga dijuluki tubelight (=lampu neon berbentuk tabung panjang yang butuh waktu agar benar-benar menyala, sebagaimana cara bekerja otak Laxman) dan menjadi bahan ejekan di desanya di Jagatpur. Hidupnya menjadi lebih berwarna ketika sang adik, Bharat, lahir. Seringkali justru Bharat yang bertindak membela Laxman ketika diejek. Bharat pun memperlakukan Laxman sebagai seorang yang istimewa, dengan sebutan Kapten. Sementara Laxman memanggilnya sebagai ‘partner’. Tanpa kedua orang tua, yang menjadi panutan hidup adalah Paman Bane, seorang bijak pengurus ashram. Kehadiran Mahatman Gandhi pun menjadi inspirasinya untuk selalu percaya akan kemampuan diri.
Konflik muncul ketika pecah perang Sino-India tahun 1962 dimana negara meminta para pemuda di desanya untuk mendaftarkan diri mengabdi pada negara. Tentu saja Laxman tidak diterima. Membuatnya harus merelakan berpisah dengan Bharat yang berangkat ke medan perang. Kegalauannya semakin meninggi ketika ia melihat seorang ibu dan anak beretnis Cina pindah di sebuah rumah dekat desa mereka.
Di tengah kebencian semua warga terhadap mereka, Paman Bane justru menyarankan Laxman untuk menjalin persahabatan dengan wanita bernama Liling dan putranya, Guo. Dibuatkan lah pula daftar ajaran Gandhi yang harus dilakukan oleh Laxman jika ingin kakaknya pulang dengan selamat. Meski berat, persahabatan pun mulai terjalin antara Laxman, Guo, dan Liling. Namun Laxman semakin bingung dengan keyakinannya ketika ujian yang tampaknya tidak membawa harapan berarti menerpa makin kencang.
Mempertahankan berbagai komponen dan sebagian besar plot dari versi aslinya, Tubelight sebenarnya melakukan perubahan yang cukup fundamental, yang pada akhirnya mempengaruhi hasil akhirnya. Kita mulai dari pengubahan karakter anak-anak berusia delapan tahun dengan otak normal, hanya saja punya kelainan bertubuh kerdil menjadi karakter dewasa dengan kelemahan di lambat berpikir yang cenderung ke naif. Ini jelas membuat kenaifan karakter utama menjadi lebih masuk akal dalam memahami konsep keyakinan.
Lalu pengubahan hubungan kekerabatan dari ayah ke saudara kandung sejenis kelamin juga memberikan keuntungan tersendiri dalam membangun emosi, apalagi dengan setup bahwa sang adik yang justru melindungi sang kakak. Sementara di versi aslinya sang kakak justru menjadi ‘musuh’ bagi karakter utama. Singkatnya, pengubahan-pengubahan yang dilakukan di Tubelight membuat konsepnya menjadi lebih masuk akal, fokus (Little Boy berfokus pada perkembangan keimanan karakter utama yang pada akhirnya meluber ke mana-mana, sementara Tubelight tetap fokus pada hubungan kakak-adik dengan keyakinan sebagai story device-nya), universal (Little Boy agaknya cukup spesifik menyasar penonton Kristiani, terutama pada daftar ajaran yang harus dilakukan karakter utama, sementara Tubelight menggunakan ajaran Mahatma Gandhi yang meski masih sedikit merujuk pada ajaran Hinduisme, tapi juga dipengaruhi oleh ajaran-ajaran lain), dan bahkan menambal beberapa yang terasa kurang solid dari Little Boy, seperti yang paling jelas, detail twist yang tidak terkesan coming out of nowhere dan punya value lebih dari karakter yang berkaitan dibandingkan Little Boy.
Pada akhirnya, mungkin Tubelight tak mencapai kedalaman pemahaman soal iman seperti yang dilakukan Little Boy. Memang bukan itu yang ingin ia capai. Ada titik berbeda yang lebih ditonjolkan. Titik yang lebih universal dan secara kemanusiaan, lebih membumi. Mungkin tingkat kenaifan dengan terlalu mengandalkan ‘kebetulan-kebetulan’ dari Little Boy masih belum bisa berkurang di sini, tapi dengan visualisasi yang festive, ditambah kepiawaian mengarahkan Kabir Khan dan akting Salman Khan dalam menguras emosi penonton, Tubelight jelas menjadi sebuah sajian film Lebaran yang begitu pas. Begitu charming, selevel Bajrangi Bhaijaan, hingga membuat siapa pun dengan mudah bersimpati, ceria, bangga, dan terharu. They hit it again!
Selain Salman yang lagi-lagi tampil charming hingga dengan mudah mengundang simpati penonton, Sohail Khan sebagai Bharat pun mengimbangi penampilannya dengan chemistry brotherhood yang hangat dan wajar. Almarhum Om Puri, seperti biasa, tampil penuh kharisma dan wisdom dalam mengisi peran Paman Bane. Zhu Zhu mungkin masih terdengar agak hafalan dalam melafalkan dialog-dialog berbahasa Hindi, tapi chemistry yang dibangunnya bersama Salman, pun juga kedalaman emosi karakternya tergolong bagus. Matin Rey Tangu tampil menggemaskan sebagai Guo. Chemistry yang dibangunnya bersama Salman pun terasa manis. Ini juga merupakan kelebihan lain mengubah karakter dewasa menjadi anak-anak yang dilakukan Tubelight. Isha Talwar sebagai Maya dan Mohammed Zeeshan Ayyub tampil cukup noticeable dengan porsi masing-masing. Jason D’Souza dan Ricky Patel sebagai Laxman dan Bharat cilik punya pesona tersendiri yang begitu mencuri perhatian. Last but not at least, cameo Shah Rukh Khan yang sangat memorable dan tepat guna (that’s exactly how you treat a cameo!)
Sinematografi Aseem Mishra tampak tahu betul camera work yang layak untuk sebuah blockbuster. Sinematis, dramatis, festive, dan bahkan ada beberapa poetic shot yang begitu indah. Tentu sangat berbeda dengan Little Boy yang cenderung lebih ‘sederhana’. Editing Rameshwar S. Bhagat pun memadatkan pergerakan plot sehingga sangat nyaman diikuti tanpa mengurangi sedikit pun potensi emosional yang ada. Desain produksi Rajnish Hedao dan timnya menghiasi kota kecil (cenderung desa) dengan detail yang indah dan sesuai dengan setting waktu. Score music dari Julius Packiam yang dramatis, ditambah lagu-lagu dari Pritam yang seperti biasa,  beautifully poetic dengan melodi yang hummable dan intoxicating mind, menjadi salah satu kelebihan Tubelight. Mulai yang festive seperti Radio dan Naach Meri Jaan, yang manis seperti Kuch Nahi dan Main Agar, hingga yang mengiris hati, Tinka Tinka Dil Mera. Sound design dan sound mixing pun terdengar cukup powerful dan seimbang, terutama terdengar sekali di adegan-adegan perang.
Dengan pengubahan-pengubahan dari versi aslinya yang beralasan dan justru membuatnya lebih baik in many ways, Tubelight menjadi sajian drama keluaraga (terutama antar saudara) yang begitu charming, hangat, festive, dan membuat saya merasakan kembali keajaiban sinema dengan hati yang besar. Sangat cocok untuk dijadikan tontonan bersama seluruh anggota keluarga di Hari Raya Idul Fitri. Salman, Kabir, dan seluruh tim yang terlibat just hit it again this Eid!
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates